Mengatasi Polusi Suara untuk Kota yang Lebih Tenang dan Sehat
Foto: Mikechie Esparagoza on Pexels.
Orang-orang yang tinggal di perkotaan tidak akan berharap untuk merasakan suasana yang sunyi senyap. Namun, terkadang, kebisingannya di kota bisa sangat mengganggu. Suara pembangunan rumah dan gedung yang sedang berjalan, sahut-sahutan klakson mobil di jalanan, dan hiruk-pikuk aktivitas manusia yang tiada henti secara bersamaan, merupakan beberapa bentuk polusi suara yang selama ini masih kurang diteliti. Lalu muncul pertanyaan: bagaimana dampak polusi suara terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia dan makhluk hidup lainnya?
Polusi Suara dan Kaitannya dengan Kesehatan
Polusi suara biasanya berasal dari aktivitas manusia seperti laju transportasi, operasi industri, dan proses pembangunan. Polusi suara di perkotaan dapat berdampak pada kesehatan manusia. Sayangnya, masalah ini masih sering dipandang sebelah mata.
Badan Lingkungan Eropa (EEA) melaporkan bahwa paparan kebisingan dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai dampak buruk terhadap kesehatan. Kondisi menjadi terganggu, gangguan tidur, efek negatif pada sistem kardiovaskular dan metabolisme, serta gangguan kognitif pada anak-anak adalah beberapa di antaranya.
Dalam setahun, polusi suara berkontribusi terhadap 48.000 kasus baru penyakit jantung iskemik serta 12.000 kematian dini. Dan perlu digarisbawahi, kelompok rentan dan marginal cenderung lebih merasakan dampaknya.
Polusi Suara Mengubah Dinamika Alam
Selain itu, polusi suara juga dapat mengubah dinamika alam. Penelitian UNEP di 30 lokasi hutan kota di benua Eropa, Jepang, dan Inggris, menunjukkan bahwa hewan menyesuaikan tingkat suara alami mereka sebagai respons terhadap kebisingan perkotaan.
Sebagai contoh, burung-burung di perkotaan berkicau dengan nada yang lebih tinggi dan tergesa-gesa, dan kutilang zebra berkicau lebih lambat dibandingkan kutilang yang hidup di hutan. Penyesuaian perilaku ini mereka lakukan agar kicauan didengar di lingkungan yang bising. Namun, ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi dapat membuat mereka tersingkir dari habitatnya, dan berpotensi menimbulkan dampak ekologis yang signifikan.
Dalam hal ini, polusi suara mengubah komunitas ekologi di air, tanah, dan udara dengan mempengaruhi perilaku dan fisiologi spesies. Hal ini dapat menimbulkan dampak langsung terhadap spesies lain dalam ekosistem.
Tingkat Kebisingan Kota
Kebisingan telah menjadi masalah selama berabad-abad. Di Romawi kuno, gerobak dilarang melintas di jalanan pada malam hari untuk memastikan penduduk dapat menikmati istirahat tanpa gangguan. Seiring berkembangnya peradaban manusia, dan semakin padatnya penduduk di perkotaan, hal semacam itu sudah tidak berlaku lagi.
Menurut laporan “Frontiers 2022: Noise, Blazes and Mismatches” dari UNEP yang memeringkatkan 61 kota, negara-negara Asia mendominasi lebih dari separuh daftar kota yang masuk. Dhaka di Bangladesh berada di peringkat teratas dengan kebisingan 119 dB (desibel). Tingkat kebisingan ini jauh melampaui ambang batas kebisingan yang ditetapkan WHO. Lalu, Ho Chi Minh City di Vietnam menduduki peringkat keempat dengan tingkat kebisingan 104 dB. Pada tahun 2022, Pemerintah Kota Ho Chi Minh mendeteksi hampir 8.700 kasus pelanggaran terkait kebisingan.
Di Indonesia, isu kebisingan perkotaan juga memerlukan perhatian yang serius. Sayangnya, penelitian mengenai tingkat kebisingan kota-kota di Indonesia masih minim, yang berdampak pada tidak adanya tindakan untuk mengatasinya.

Mengatasi Polusi Kebisingan di Perkotaan
Meningkatkan kesadaran tentang betapa berbahayanya polusi suara adalah salah satu hal fundamental untuk membantu mengatasi masalah ini. Di India, membunyikan klakson di saat tidak diperlukan telah menjadi perhatian masyarakat. Di sana, mahasiswa Mount Carmel College menggelar kampanye bertajuk “#100KmsNoHonkingChallenge” (#TantanganTanpaKlakson100Km) untuk meredam kebisingan kendaraan.
Sementara itu, Kota Beijing, Tiongkok, telah menetapkan tindakan penanggulangan yang spesifik dan efektif. Bangunan yang dekat dengan jalan raya diinstruksikan untuk menggunakan jendela kedap suara. Jaringan pemantauan suara otomatis ekstensif menganalisis data yang dikumpulkan dengan informasi relevan yang mendukung pengawasan kebisingan lalu lintas. Selain itu, peraturan jalan raya dan penghalau kebisingan telah berhasil menjaga tingkat kebisingan tetap stabil meskipun jumlah kendaraan meningkat.
Kota-kota lain di seluruh dunia juga berupaya untuk membatasi polusi suara, seperti Mesir dengan stasiun pemantauan kebisingan, Paris dengan radar kebisingan dan mekanisme denda, dan London dengan Zona Emisi Ultra-Rendah. Intinya, para perencana kota harus menghadapi tantangan ini dan melakukan tindakan untuk mengatasinya.
Upaya untuk mengurangi kebisingan di perkotaan mesti mencakup mitigasi dampaknya, mengatasi sumber kebisingan, dan menerapkan peraturan yang efektif. Dengan memprioritaskan inisiatif untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tenang dan layak huni, kota dapat mengembangkan lingkungan binaan yang bermanfaat bagi kesejahteraan seluruh penduduk dan makhluk hidup lainnya.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Dandy is a Reporter at Green Network Asia. He is currently studying undergraduate program of Materials Engineering at Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS).

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan