Memahami dan Mengatasi Deprivasi Anak Multidimensi
Foto: Dzulfahmi Fauzan di Unsplash.
Kita hidup di tengah krisis, dan kelompok rentan menanggung beban berbagai risiko dan deprivasi. Anak-anak, dengan otonomi yang terbatas dan kurangnya pengakuan dari orang dewasa, adalah salah satunya. Lantas, bagaimana kita dapat memahami deprivasi anak untuk menciptakan kebijakan dan intervensi yang lebih baik untuk mendukung kesejahteraan mereka?
Memahami Deprivasi Anak
Anak-anak terus menghadapi deprivasi di seluruh dunia, dan isu ini bukan hanya tentang uang. Konvensi Hak Anak menjunjung tinggi hak atas pendidikan, standar hidup yang memadai bagi kesehatan dan kesejahteraan anak, standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai, dan hak-hak lainnya.
Kemiskinan melanggar semua hak ini. Hampir 412 juta anak di seluruh dunia hidup dalam rumah tangga dengan kemiskinan moneter ekstrem (kurang dari 3,00 dolar AS per hari). Angka ini mewakili 19,2% dari anak-anak di dunia pada tahun 2024, turun dari 24,3% pada tahun 2014. Namun, kita harus melihat deprivasi anak dari perspektif multidimensi untuk memahami dan mengatasi sepenuhnya situasi yang parah ini.
Deprivasi anak multidimensi berarti anak-anak menghadapi kesulitan dalam lebih dari satu aspek kesejahteraan mereka. Analisis UNICEF menunjukkan bahwa di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, 417 juta anak mengalami dua atau lebih dimensi deprivasi, 118 juta mengalami tiga atau lebih dimensi deprivasi, dan 17 juta menghadapi empat atau lebih dimensi deprivasi. Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan memiliki tingkat keparahan deprivasi anak multidimensi tertinggi.
Analisis UNICEF lebih lanjut mengungkap dampak konflik terhadap kemiskinan anak. Dari tahun 2014 hingga 2024, tingkat kemiskinan ekstrem di kalangan anak-anak di negara-negara rentan dan terdampak konflik meningkat sebesar 4,2 poin persentase. Sebaliknya, tingkat kemiskinan ekstrem di negara-negara yang tidak dianggap rentan dan terdampak konflik turun sebesar 8,5 poin persentase.
Perspektif Anak dan Remaja
Untuk memahami sepenuhnya deprivasi anak, kita harus mendengarkan dan menciptakan ruang bagi anak-anak untuk berbagi pengalaman hidup mereka di tengah krisis.
Dalam laporan “State of the World’s Children 2025“, UNICEF menyajikan sekilas suara anak-anak dan remaja yang berpartisipasi dalam workshop wawasan remaja pada Juli 2025. Dengan suara bulat, para peserta menggambarkan kemiskinan sebagai sesuatu yang dibangun dan dibentuk oleh keputusan yang mengabaikan kebutuhan anak, alih-alih sebagai keadaan yang terjadi secara kebetulan.
Dalam menghadapi kemiskinan, para remaja ini terpaksa melepaskan impian mereka. Mereka juga mengalami tantangan struktural dan jangka panjang yang akan mereka tanggung sepanjang hidup mereka.
Misalnya, pendidikan adalah salah satu hal pertama yang mereka tanggalkan. “Banyak anak putus sekolah secara permanen karena keluarga mereka membutuhkan mereka untuk bekerja, dan kini mereka tidak dapat mengejar ketertinggalan,” kata salah satu peserta seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Sementara itu, peralihan ke pendidikan online selama masa pandemi tidak membantu menjembatani kesenjangan tersebut. Hal ini justru mengungkap ketimpangan yang mendalam dan kurangnya akses terhadap teknologi untuk mendukung pendidikan anak.
Pada saat yang sama, sistem pangan runtuh akibat tekanan perubahan iklim, memperpanjang kelaparan dan memperparah malnutrisi di kalangan anak-anak. Anak perempuan terpaksa menikah muda atau menjadi pengasuh, sementara anak laki-laki terpaksa terjun ke pasar tenaga kerja yang eksploitatif akibat guncangan ekonomi.
Melibatkan Orang Muda dan Beberapa Kebijakan Utama yang Diperlukan
Kompleksitas kemiskinan dan krisis sosial, politik, dan lingkungan yang semakin meningkat menuntut tindakan mendesak untuk mengatasi deprivasi anak. Intervensi mendasar dapat dimulai dengan melibatkan orang muda dalam pengambilan keputusan dan menyediakan pendanaan serta panduan untuk mendukung solusi dan inisiatif mereka.
Di tingkat nasional, UNICEF mengidentifikasi beberapa bidang kebijakan utama untuk mengatasi berbagai penyebab kemiskinan anak dan menciptakan dampak yang berkelanjutan, di antaranya:
- Menjadikan penanggulangan kemiskinan anak sebagai prioritas nasional untuk mendorong komitmen politik, memobilisasi sumber daya, dan meningkatkan koordinasi lintas sektor.
- Menetapkan kebijakan makroekonomi yang suportif untuk memberikan langkah-langkah yang lebih responsif terhadap guncangan ekonomi.
- Memperluas perlindungan sosial yang inklusif, termasuk bantuan tunai universal dan tertarget untuk keluarga yang memiliki anak.
- Memperluas akses ke layanan publik yang berkualitas, termasuk sekolah, layanan kesehatan, perumahan, sanitasi, dan langkah-langkah lain yang dapat mendukung pembelajaran, perkembangan, dan kesejahteraan mereka.
- Mempromosikan pekerjaan layak bagi orang tua dan pengasuh.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya
Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood
Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama
Merangkul Nilai Bisnis Keberlanjutan