Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Foto: Richwales di en.wikipedia.
Kelestarian ekosistem sungai merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan berbagai spesies. Sungai adalah sumber air bersih, habitat keanekaragaman hayati, serta penampung air hujan sekaligus faktor kunci pengendalian banjir. Namun, kondisi sungai di berbagai wilayah Indonesia terus memburuk akibat pencemaran yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia, termasuk Sungai Ciliwung. Beberapa waktu terakhir, muncul fenomena overpopulasi ikan sapu-sapu di sungai tersebut. Apakah ini tanda Sungai Ciliwung mulai pulih dari pencemaran, atau justru tanda bahaya?
Tercemarnya Sungai Ciliwung
Mengalir dari hulu di Bogor hingga ke hilir di utara Jakarta, Sungai Ciliwung merupakan ekosistem besar yang sangat vital bagi kehidupan manusia yang bermukim di sekitarnya. Namun, sejak masa kolonial, Sungai Ciliwung mulai tercemar karena tidak terkendalinya aktivitas manusia akibat urbanisasi dan pembangunan.
Seiring pertumbuhan penduduk, tekanan terhadap Sungai Ciliwung pun semakin besar. Limbah domestik dari permukiman yang semakin padat, tersebarnya sampah plastik, serta limbah industri yang tidak terkelola dengan baik terus mencemari aliran sungai. Di sisi lain, alih fungsi lahan di daerah hulu dan bantaran sungai memperparah erosi dan sedimentasi, sekaligus menurunkan kualitas habitat alami berbagai spesies. Pada saat yang sama, kondisi perairan yang keruh dan kaya polutan dari limbah domestik dan industri telah mendorong peningkatan populasi spesies ikan invasif seperti ikan sapu-sapu. Dengan daya tahan dan kemampuannya beradaptasi terhadap pencemaran dan minimnya predator alami, populasi ikan sapu-sapu menjadi tak terkendali dan mulai mendominasi ekosistem Ciliwung sehingga turut menyingkirkan spesies ikan lokal.
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu sebagai Tanda Bahaya
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys Sp) bukanlah spesies asli perairan Indonesia. Ikan ini berasal dari sungai-sungai di Amerika Tengah dan Selatan, lantas masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan. Di pasaran, ikan ini sering disebut ikan pembersih kaca, karena kebiasaannya menempel di dinding akuarium untuk memakan alga.
Sejak tahun 2009, penurunan jumlah spesies ikan lokal mulai dilaporkan terjadi di Sungai Ciliwung. Kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan mulai berkembangnya spesies ikan sapu-sapu sebagai ikan invasif yang tidak hanya memakan alga dan lumut, tapi juga memakan telur spesies ikan lainnya saat berada di perairan terbuka. Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies dengan jumlah populasi tertinggi di Sungai Ciliwung, terutama karena kemampuan adaptasinya yang tinggi terhadap perairan yang tercemar dibanding ikan lainnya. Sepanjang aliran Sungai Ciliwung, ikan sapu-sapu banyak ditemukan pada wilayah berpolutan dengan kualitas air yang buruk di Jakarta.
Masifnya perkembangan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung merupakan pertanda semakin memburuknya kualitas air sungai akibat paparan berbagai polutan. Sebuah studi pada tahun 2020 menemukan bahwa meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung berkaitan erat dengan hasil analisis kualitas air yang menunjukkan bahwa sungai telah tercemar berat. Ikan ini paling banyak ditemukan pada perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah dan tingginya limbah organik dari aktivitas manusia, kondisi yang bagi banyak spesies ikan lain tergolong sulit untuk beradaptasi.
Selain overpopulasi ikan sapu-sapu, pencemaran Sungai Ciliwung juga berdampak pada degradasi keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Menurunnya kualitas air turut mengancam kehidupan organisme akuatik lainnya karena mengganggu rantai makanan. Selain itu, pencemaran sungai juga memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Perubahan iklim yang sedang berlangsung juga memperparah kondisi ini karena dapat memicu hujan ekstrim yang membuat limbah dan sampah plastik semakin banyak yang masuk ke badan sungai dan memperburuk kualitas air.
Pemulihan Sungai Ciliwung dan Menjaga Keseimbangan Ekosistem
Menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem sungai menjadi kunci untuk mencegah kerusakan yang lebih jauh seperti yang terjadi di Sungai Ciliwung. Perkembangbiakan spesies invasif yang tak terkendali seperti ikan sapu-sapu perlu segera diatasi karena berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Di sisi lain, penguatan aturan dan pengawasan terhadap pengelolaan limbah dan sampah harus dilakukan dengan lebih serius untuk menghentikan aliran polutan ke dalam sungai. Pada akhirnya, upaya pemulihan Sungai Ciliwung harus mencakup pelestarian sungai secara menyeluruh dengan melibatkan masyarakat lokal secara bermakna.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja