Berubahnya Kondisi Hutan Dunia dan Dampaknya terhadap Keanekaragaman Hayati serta Ketahanan Ekosistem
Foto: Lingchor di Unsplash.
Hutan merupakan komponen fundamental ekosistem daratan dengan peran krusial dalam menjaga stabilitas lingkungan. Saat ini, hutan menutupi sekitar sepertiga permukaan daratan Bumi. Namun, intensifikasi aktivitas manusia semakin mengancam luas dan integritas ekologis hutan. Selain penyusutan total area hutan, aktivitas antropogenik juga telah mengubah komposisi, struktur, dan keberagaman fungsional ekosistem hutan pada skala global.
Perubahan Kondisi Hutan
Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Universitas Aarhus, Denmark, menunjukkan bahwa kondisi hutan dunia tengah mengalami perubahan ekologis yang signifikan, yang ditandai dengan menurunnya keanekaragaman hayati dan berkurangnya ketahanan ekosistem. Tren ini terutama terlihat di wilayah tropis dan subtropis, di mana ekosistemnya sangat beragam dan saling terhubung erat.
Perubahan utama yang terjadi adalah meningkatnya dominasi spesies pohon yang tumbuh cepat dan telah ternaturalisasi. Pergeseran ini membentuk ulang komposisi hutan serta memberi tekanan pada spesies pohon yang tumbuh lambat dan asli. Kondisi ini meningkatkan risiko penurunan populasi bahkan kepunahan spesies tersebut.
Pohon yang tumbuh lambat umumnya memiliki daun tebal, kerapatan kayu tinggi, dan umur panjang. Karakteristik ini menjadikan mereka fondasi struktural dan ekologis ekosistem hutan, yang berkontribusi besar terhadap stabilitas, ketahanan, serta penyimpanan karbon jangka panjang. Namun, karena membutuhkan kondisi lingkungan yang relatif stabil, spesies ini semakin rentan terhadap persaingan dengan pohon yang tumbuh lebih cepat. Peningkatan suhu global semakin memperburuk kerentanan ini, terutama bagi spesies yang sensitif terhadap iklim seperti cemara dan beech.
Sebaliknya, spesies yang tumbuh cepat seperti akasia dan eucalyptus kerap mengungguli pohon yang tumbuh lambat karena laju pertumbuhannya yang tinggi dalam waktu singkat. Studi yang sama melaporkan bahwa 41% spesies pohon ternaturalisasi—yakni spesies yang tumbuh di luar wilayah asalnya—merupakan spesies yang tumbuh cepat. Meskipun pertumbuhan pesat memberi keunggulan kompetitif, keberadaan mereka di luar ekosistem asal dapat meningkatkan kerentanan terhadap hama dan gangguan iklim. Kerentanan ini berpotensi mengurangi stabilitas hutan dan melemahkan efektivitas penyimpanan karbon.
Aktivitas Manusia dan Dampaknya
Menurut studi tersebut, pergeseran kondisi hutan ini erat kaitannya dengan aktivitas manusia. Perubahan iklim akibat ulah manusia, deforestasi untuk pembangunan infrastruktur, penebangan kayu, serta perdagangan global spesies pohon merupakan faktor pendorong utama. Misalnya, spesies yang tumbuh cepat mampu menghasilkan kayu dan biomassa dalam waktu singkat, sehingga lebih disukai dalam konteks komersial meskipun memiliki ketahanan ekologis yang lebih rendah.
Dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif penanaman pohon skala besar dipromosikan sebagai bagian dari strategi carbon offset oleh perusahaan-perusahaan dunia. Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa banyak proyek semacam itu kurang efektif. Beberapa analisis mengindikasikan bahwa lebih dari 90% carbon offset hutan hujan tidak sejalan dengan klaim pengurangan emisi yang digembar-gemborkan. Selain itu, perkebunan industri berskala besar kerap bergantung pada satu atau dua spesies yang tumbuh cepat, ternaturalisasi, atau bahkan invasif, yang pada gilirannya dapat merusak integritas ekologis dan menjadikan intervensi tersebut berpotensi kontraproduktif.
Memulihkan Keanekaragaman Hutan
Dengan kondisi demikian, strategi pengelolaan hutan perlu beralih ke pendekatan yang lebih proaktif, terarah, dan teregulasi. Upaya reforestasi harus dirancang secara cermat dengan fokus pada spesies asli dan pohon yang tumbuh lambat yang populasinya telah menurun atau punah secara lokal, serta yang memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap perubahan iklim dan hama regional.
Intervensi seperti memfasilitasi penyebaran benih dapat membantu mengatasi efek homogenisasi yang berkaitan dengan spesies ternaturalisasi. Selain itu, upaya lain yang dibutuhkan adalah memprioritaskan pemulihan megafauna fungsional serta pengelolaan spesies invasif guna meningkatkan stabilitas ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Terkait carbon offset, kerangka regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk melindungi kesehatan planet dan hak asasi manusia. Misalnya, regulasi harus mewajibkan standar keanekaragaman hayati yang kuat dalam proses sertifikasi serta secara tegas melarang konversi ekosistem alami menjadi perkebunan monokultur. Dan yang tak kalah penting, pemantauan tidak boleh terbatas pada metrik penyerapan karbon saja, tetapi juga mencakup indikator ekologis seperti kekayaan spesies, kualitas habitat, dan ketahanan ekosistem. Dengan pendekatan ini, pasar karbon tidak semata menjadi strategi keberlanjutan korporasi, tetapi juga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim sekaligus perlindungan keanekaragaman hayati.
Berbagai upaya tersebut diperlukan untuk mendukung fungsi ekosistem yang terkait dengan karakteristik konservatif. Peningkatan keanekaragaman hutan serta penguatan stabilitas dan ketahanan ekosistem jangka panjang merupakan kunci bagi keberlanjutan kesejahteraan manusia dan planet Bumi.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Krisis Iklim dan Munculnya Gelombang Penyakit di Wilayah Pesisir Utara Bali dan Pangkep
Kematian dan Bunuh Diri Anak sebagai Isu Struktural: Kurangnya Pemenuhan Hak Anak
Mengatasi Kesenjangan yang Dihadapi Perempuan di Bidang STEM
Finding Harmony: Pencarian Harmoni dengan Alam di Benak Sang Raja
Mengatasi Eksploitasi di Balik Program Migrasi Tenaga Kerja Sementara
Mewujudkan Kondisi Kerja yang Layak bagi Pekerja Platform