Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Foto: Mohammed idris djoudi di Unsplash.
Kehidupan modern yang bergegas telah menempatkan produktivitas sebagai suatu hal yang dijunjung tinggi. Namun, yang sering terjadi adalah orang-orang bekerja nyaris sepanjang hari dan tak menyisakan waktu luang yang bermakna, termasuk untuk beristirahat, bersosialisasi, bercengkrama dengan hobi, dan bahkan sekadar untuk makan dengan tenang. Kondisi ini sering disebut sebagai kemiskinan waktu, dan ini adalah masalah serius yang berkaitan erat dengan isu kesehatan mental yang sedang meningkat.
Sekilas tentang Kemiskinan Waktu
Kemiskinan waktu (time poverty) merujuk pada kondisi kurangnya waktu yang dimiliki seseorang untuk aktivitas yang bersifat bebas atau pilihan pribadi karena sebagian besar waktunya habis untuk bekerja, baik kerja berbayar maupun tidak berbayar seperti kerja-kerja domestik dan pengasuhan. Jam kerja yang panjang dan pendapatan yang rendah memperbesar risiko kemiskinan waktu pada kelompok pekerja tertentu.
Kemiskinan waktu juga berkaitan dengan struktur pembagian kerja dan karakteristik rumah tangga. Penelitian menunjukkan bahwa akumulasi kerja berbayar dan kerja tidak berbayar menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi waktu luang, terutama pada rumah tangga dengan sumber daya terbatas. Dalam hal ini, jumlah anggota rumah tangga, status pekerjaan, serta kebutuhan untuk mempertahankan pendapatan merupakan variabel yang secara langsung memengaruhi tingkat kemiskinan waktu pada level individu dan rumah tangga.
Ketimpangan pembagian kerja berbasis gender di dalam rumah tangga juga menjadi faktor signifikan lain yang menjelaskan kemiskinan waktu. Laporan UN Women menunjukkan bahwa rata-rata perempuan menghabiskan waktu yang jauh lebih besar untuk kerja-kerja perawatan dan kerja domestik tidak berbayar dibandingkan laki-laki, bahkan ketika mereka terlibat dalam pekerjaan berbayar. Ketimpangan ini meningkatkan total beban kerja harian dan secara langsung mengurangi waktu yang tersedia untuk aktivitas personal. Pola tersebut berkaitan dengan norma sosial, keterbatasan layanan perawatan yang berkualitas dan terjangkau, serta struktur pasar kerja yang timpang.
Teknologi dan Lanskap Kerja Modern
Kemiskinan waktu semakin dipengaruhi oleh penggunaan teknologi digital yang memperpanjang batas ruang dan waktu kerja. Studi menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi pesan instan untuk komunikasi pekerjaan telah meningkatkan ekspektasi respons yang cepat, termasuk di luar jam kerja resmi, sehingga memperpanjang durasi kerja harian dan mengurangi waktu dan kualitas istirahat.
Pekerja sektor formal yang terkoneksi secara digital lebih sering mengalami tumpang tindih antara waktu kerja dan waktu personal. Paparan notifikasi pekerjaan yang berlanjut di luar jam kerja berkorelasi dengan meningkatnya kelelahan kerja (burnout) dan gangguan kesehatan mental. Penelitian menemukan bahwa tuntutan untuk selalu terhubung melalui perangkat digital berhubungan dengan kelelahan emosional dan penurunan kualitas tidur. Fenomena ini menunjukkan bahwa konektivitas digital juga turut berkontribusi pada kemiskinan waktu, yang menyebabkan berkurangnya waktu luang bagi pekerja yang dapat digunakan untuk pemulihan fisik dan mental, menjalin relasi sosial, dan berbagai aktivitas otonom lainnya.
Perubahan lanskap kerja dengan hadirnya ekonomi berbasis platform yang menawarkan fleksibilitas kerja juga berkaitan dengan distribusi waktu kerja yang tidak menentu. Pekerja pada sektor ekonomi gigi cenderung memiliki jam kerja yang lebih panjang dengan penghasilan yang tidak menentu. Dengan demikian, transformasi digital dalam dunia kerja juga berkaitan dengan perubahan pola penggunaan waktu yang berdampak pada kesejahteraan pekerja.
Pada gilirannya, kemiskinan waktu berdampak pada peningkatan risiko depresi dan kecemasan pada kelompok usia produktif. Laporan WHO menyebut bahwa pekerja yang menjalani jam kerja yang panjang memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan mereka yang memiliki batas waktu kerja yang jelas.
Kelindan dengan Kemiskinan Pendapatan
Kemiskinan waktu pada kelompok pekerja, terutama mereka yang berada pada lapisan ekonomi menengah bawah, berkaitan erat dengan kemiskinan pendapatan. Sebuah studi mengungkap bahwa keterbatasan pendapatan mendorong seseorang untuk bekerja lebih lama, mengambil pekerjaan tambahan, atau menempuh perjalanan yang lebih jauh demi biaya hidup yang lebih terjangkau. Konsekuensinya, waktu yang tersisa di luar aktivitas kerja dan mobilitas menjadi sangat terbatas. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh pekerja di wilayah perkotaan besar seperti Jabodetabek.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa pengukuran kemiskinan yang hanya berbasis pada pendapatan belum menangkap kerentanan sosial-ekonomi masyarakat secara utuh. Rumah tangga yang berada sedikit di atas garis kemiskinan dapat tetap mengalami kerentanan karena harus mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan menempuh perjalanan, sehingga memiliki waktu yang sangat terbatas untuk pemulihan, pengasuhan, maupun pengembangan kapasitas ekonomi. Pada saat yang sama, keterbatasan waktu juga dapat menghambat mobilitas sosial kelompok berpendapatan rendah karena kurangnya ruang untuk mengakses pendidikan, pelatihan, atau peluang kerja yang lebih baik.
Mengatasi Kemiskinan Waktu
Lebih dari sekadar memperbaiki manajemen waktu atau mengubah gaya hidup di tingkat individu, mengatasi kemiskinan waktu membutuhkan intervensi pada tingkat kebijakan dan sistem yang membentuk alokasi waktu masyarakat, termasuk regulasi ketenagakerjaan dan sistem pengupahan, ketersediaan layanan perawatan, hingga perencanaan transportasi dan tata ruang yang menentukan waktu mobilitas.
Mengatasi kemiskinan waktu kini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan mental. Berbagai kerangka kebijakan telah menempatkan pengaturan jam kerja yang wajar, pengembangan layanan perawatan berkualitas yang terjangkau, serta dukungan terhadap keseimbangan antara hidup dan bekerja (work-life balance) sebagai faktor yang berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental pekerja. Terkait hal ini, sebuah studi memberikan beberapa rekomendasi kebijakan untuk mengatasi kemiskinan waktu:
- Perbaikan infrastruktur fisik dan teknologi, yang mencakup perluasan akses terhadap air bersih dan sanitasi layak serta ketersediaan sarana-prasarana transportasi yang lebih baik.
- Peningkatan standar upah minimum dan distribusi pendapatan yang adil untuk menutup kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan.
- Penguatan infrastruktur perawatan seperti layanan penitipan anak dan lansia yang berkualitas dan terjangkau.
- Fleksibilitas di dunia kerja yang mempertimbangkan realitas beban kerja rumah tangga yang tidak dapat dihindari.
- Penerapan kebijakan cuti keluarga dan cuti sakit berbayar untuk mendukung work-life balance.
- Pengintegrasian kemiskinan waktu dalam pengukuran tingkat kemiskinan.
Selain itu, menetapkan kebijakan yang mengatur secara tegas batasan waktu kerja dan waktu pribadi juga merupakan langkah krusial. Beberapa negara di dunia telah memperkenalkan aturan mengenai hak untuk tidak terhubung (Right to Disconnect), yang menjamin keamanan bagi pekerja untuk mengabaikan komunikasi terkait pekerjaan di luar jam kerja.
Pada akhirnya, hidup yang sejahtera bukan semata tentang produktivitas, tetapi juga menjadi sehat secara fisik dan mental dengan waktu luang yang bermakna. Menghargai dan menempatkan waktu luang sebagai bagian dari dimensi kesejahteraan adalah langkah esensial untuk memastikan bahwa ukuran kemajuan tidak hanya bertumpu pada indikator material, tetapi juga pada kemampuan individu memiliki ruang yang cukup untuk “bernapas”, untuk pulih, untuk menjalin dan merawat relasi sosial, dan melakukan aktivitas lain secara otonom.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Kemunduran Besar dalam Pencapaian SDGs di Asia Pasifik
Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan
Menelusuri Dampak Olimpiade terhadap Lingkungan
Mewujudkan Sanitasi Layak dan Berketahanan Iklim
Ancaman Tersembunyi Polusi Ban terhadap Populasi Salmon dan Kehidupan Akuatik
Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar