Ongkos Pusat Data yang Tidak Proporsional bagi Masyarakat Lokal
Foto: Freepik.
Dengan setiap perkembangan, teknologi menjanjikan kita cara yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih baik untuk melakukan berbagai hal. Namun, ongkosnya tidaklah kecil. Perkembangan AI generatif telah memunculkan semakin banyak pusat data, bersamaan dengan risiko sosial dan lingkungan baru bagi berbagai masyarakat yang terdampak.
Ongkos dan Manfaat
Meskipun selama ini kecerdasan buatan telah digunakan dalam berbagai bentuk, tahun 2020-an menandai pertumbuhan yang sangat besar dalam teknologi AI generatif, dengan perangkat seperti ChatGPT yang banyak digunakan untuk menghasilkan teks dan gambar. Saat ini, kita melihat fitur ini di mana-mana, bahkan saat membuat email sederhana atau mengirim pesan obrolan.
Banyak sistem AI generatif menggunakan pusat data skala besar sebagai infrastruktur pendukung utama untuk menyimpan dan mengelola data. Meskipun berada di ‘cloud’, pusat-pusat data ini sangat fisik dan bermunculan di luar Amerika Serikat untuk memenuhi permintaan yang meroket. Sebuah peta yang disusun oleh Environmental Reporting Collective (ERC) telah mengidentifikasi 705 pusat data di seluruh Asia, Amerika Latin, dan Eropa hingga saat ini.
Namun, biaya yang besar membayangi janji efisiensi dan produktivitas. Konstruksi pusat data membutuhkan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar, yang telah disorot sebagai peluang kerja potensial. McKinsey bahkan menyatakan bahwa industri pusat data menghadapi potensi kekurangan tenaga kerja, terutama selama fase pembangunan.
Mengabaikan Masyarakat Lokal
Terlepas dari permintaan, janji penciptaan lapangan kerja yang diumumkan oleh perusahaan teknologi tidak terpenuhi bagi masyarakat lokal di India dan Brasil. Masyarakat khawatir tentang bagaimana pekerjaan tersebut mungkin akan diberikan kepada orang luar dengan keterampilan yang lebih banyak daripada yang saat ini mereka miliki, karena konstruksi dapat menjadi kompleks dan serba cepat di tengah booming AI. Tanpa dukungan pengembangan kapasitas inklusif, kesenjangan ini akan terus melebar.
Kisah-kisah yang dilaporkan oleh jurnalis di bawah proyek kolaboratif ERC, Dirty Data, juga mengungkapkan bahwa masyarakat lokal di Brasil, India, dan Bangkok seringkali tidak diberi informasi mengenai pembangunan pusat data di lingkungan mereka. Sementara itu, konstruksi membutuhkan listrik, air, dan lahan milik masyarakat dalam jumlah besar.
Sebagai contoh, infrastruktur pusat data mengubah penggunaan lahan. Lokasi pusat data dapat mencakup sekitar 90.000 meter persegi lahan, setara dengan sekitar 450 lapangan sepak bola. Di negara bagian Rio Grande do Sul, Brasil, yang mengalami banjir besar pada tahun 2024, pembangunan pusat data menempati lahan yang tidak terkena banjir yang seharusnya dapat digunakan untuk relokasi.
Menciptakan Batasan Pusat Data
Kritik dan kekhawatiran telah lama muncul mengenai biaya pusat data, termasuk pada kesehatan masyarakat dan konsumsi energi. Implikasi sosial dan lingkungan mungkin terlalu parah untuk infrastruktur yang memberikan manfaat minimal bagi masyarakat, yang seringkali paling terdampak.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat perkembangan ini dengan kritis tanpa dibutakan oleh potensi manfaatnya, yang sebagian besar hanya dirasakan oleh segelintir entitas. Dengan kecepatan yang kita jalani sekarang, pemerintah harus bertindak sesuai untuk menetapkan batasan pada pusat data melalui peraturan dan kebijakan. Batasan-batasan ini juga dapat berfungsi sebagai alat untuk menuntut transparansi, akuntabilitas, uji tuntas, dan pengembangan yang lebih sadar lingkungan dari perusahaan yang berinvestasi di pusat data terkait dampaknya terhadap masyarakat setempat.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Seruan untuk Reformasi Sistem Jaminan Sosial yang Inklusif
Proyek Rp74,6 miliar untuk Kendalikan Spesies Asing Invasif di Indonesia
Uni Eropa Larang Pemusnahan Pakaian yang Tidak Terjual
Mengatasi Maraknya Perdagangan Orang Berbalut Rekrutmen Kerja
Bagaimana Panas Ekstrem Pengaruhi Kualitas Hidup Kita
‘Upah Batin’ di Ruang Kelas dan Urgensi Pekerjaan Layak untuk Guru