Memahami Penyebab Krisis Bunuh Diri di Lesotho
Foto: Pixabay.
Peringatan: Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang berpikir untuk bunuh diri atau berada dalam situasi krisis, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Ada bantuan yang tersedia. Anda dapat menghubungi layanan hotline krisis dan bunuh diri untuk mendapatkan dukungan, atau mengunjungi findahelpline.com untuk sumber daya internasional.
Setiap tahun, ada ratusan orang di Lesotho yang melakukan bunuh diri. Di balik angka tersebut, ada seseorang, keluarga, dan kisah-kisah yang sering kali tak pernah terdengar. Di kerajaan kecil di pegunungan Afrika bagian selatan ini, tingkat bunuh diri sangat mengkhawatirkan dan, sayangnya, sebagian besar tidak diketahui oleh dunia. Di baliknya, ada jalinan masalah struktural yang rumit, yakni sekumpulan akar penyebab yang saling berkelindan, yang mendorong krisis bunuh diri di negara kecil ini.
Krisis Bunuh Diri dan Kesulitan Ekonomi
Secara global, bunuh diri merupakan penyebab kematian ke-17 dan penyebab ke-4 di kalangan kelompok usia 15–29 tahun. Namun di Lesotho, keadaannya jauh lebih buruk. Penelitian menunjukkan bahwa 87,5 orang per 100.000 penduduk di negara tersebut meninggal akibat bunuh diri setiap tahun—sekitar 10 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Lesotho adalah kerajaan kecil yang terkurung daratan dengan populasi sekitar 2,4 juta jiwa, sepenuhnya berada di dalam wilayah Afrika Selatan. Diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah, ekonomi Lesotho bergantung pada pertanian subsisten, industri tekstil, pertambangan berlian, serta remitansi dari pekerja migran. Negara ini juga mengimpor 85% barang kebutuhannya dan hanya memproduksi kurang dari 20% pangan yang dibutuhkan. Kondisi ini membuat sebagian besar penduduknya sudah berada dalam posisi rentan secara ekonomi bahkan sebelum krisis lain terjadi.
Sekitar 85% penduduk Basotho mengalami setidaknya satu periode tanpa pendapatan tunai sepanjang 2023, dan PBB melaporkan hampir 700.000 orang akan mengalami kerawanan pangan pada 2024/2025. Kerentanan ekonomi ini menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong krisis bunuh diri di negara tersebut.
Pengangguran yang Meluas
Dunia pekerjaan terus berubah. Sepanjang abad ke-20, bekerja di tambang-tambang di Afrika Selatan selama satu atau dua tahun merupakan bagian umum dari proses pendewasaan laki-laki di Lesotho. Namun, peluang ini menurun drastis akibat mekanisasi dan preferensi terhadap tenaga kerja lokal Afrika Selatan, sehingga menghilangkan satu-satunya jalur ekonomi yang relatif stabil bagi laki-laki Basotho. Akibatnya, pengangguran meningkat dan risiko gangguan kesehatan mental pun melonjak tajam.
Dalam konteks ini, kehilangan kemampuan untuk menafkahi keluarga bukan sekadar masalah finansial, melainkan krisis identitas yang dapat berujung fatal, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Ketika bekerja di luar negeri, absennya laki-laki juga berdampak pada pola pengasuhan anak dan ikatan emosional dalam keluarga. Dalam jangka panjang, kondisi ini meninggalkan generasi keluarga tanpa pusat emosional dan sistem dukungan yang stabil.
Namun, beban ini tidak hanya ditanggung laki-laki. Sebuah studi peer-review menunjukkan bahwa perempuan juga mengalami kerentanan ekonomi yang serupa, bertahan hidup dari pekerjaan apa pun yang tersedia, termasuk membuat minuman tradisional dan pekerjaan seks. Sebagai pengelola rumah tangga, perempuan menghadapi kerentanan yang lebih tinggi terhadap depresi dan kecemasan akibat ketimpangan ekonomi dan tekanan sosial.
Kelompok muda pun tidak lebih beruntung. Tingkat pengangguran orang muda di Lesotho mencapai 30,5%, dan sekitar 44% penduduk usia 20–35 tahun tidak menempuh pendidikan, memiliki pekerjaan, ataupun menjalani pelatihan (NEET).
Stigma dan Terbatasnya Layanan Kesehatan Mental
Survei berbasis populasi terhadap 6.061 orang dewasa di Lesotho menemukan kesenjangan penanganan sebesar 82% untuk gangguan kesehatan mental dan 95% untuk penggunaan obat. Artinya, sebagian besar orang yang membutuhkan bantuan tidak mendapatkannya. Kesenjangan kesadaran juga sangat besar: 62% dari mereka yang mengalami masalah kesehatan mental bahkan tidak menyadari bahwa mereka memerlukan penanganan.
Ada mitos, terutama di kawasan Afrika Sub-Sahara, bahwa membahas bunuh diri berarti “menanamkan ide”. Pandangan ini memperkuat stigma dan menegaskan perlunya diskusi terbuka tentang kesehatan mental, khususnya oleh mereka yang memiliki posisi pengaruh.
Sebagian besar stigma ini berakar pada misinformasi, ketidaktahuan, dan kurangnya kesadaran, yang diperparah oleh norma gender, budaya, bahkan agama. Misalnya, meskipun sekitar 95% penduduk Lesotho mengidentifikasi diri sebagai Kristen, para pemimpin gereja digambarkan cenderung menyangkal adanya krisis bunuh diri.
Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan mental di negara ini sangat terbatas. Hingga 2025, Lesotho hanya memiliki satu psikiater asing dan satu perawat psikiatri di setiap distrik. Dalam beberapa waktu sebelumnya bahkan tidak ada sama sekali.
Satu-satunya fasilitas psikiatri di negara tersebut pernah ditandai oleh Ombudsman sebagai krisis kesejahteraan, dengan pasien dari berbagai tingkat keparahan penyakit ditempatkan bersama. Organisasi masyarakat sipil menilai kondisi ini jauh dari memadai untuk populasi dua juta jiwa, yang semakin menegaskan krisis bunuh diri yang terjadi.
Mengatasi Akar Masalah Krisis Bunuh Diri
Hampir 80% kasus bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, namun penelitian terkait bunuh diri di negara-negara tersebut jumlahnya tak sampai 15% . Krisis bunuh diri di Lesotho mencerminkan jurang ketimpangan global yang lebih luas dalam hal perhatian dan sumber daya kesehatan mental.
Karena itu, dukungan komunitas dan keluarga menjadi kunci dalam menangani masalah kesehatan mental. Ini mencakup psikoedukasi, yang membantu keluarga mengenali tanda-tanda tekanan psikologis dan merespons secara suportif. Inovasi seperti telepsikiatri juga sangat relevan bagi kondisi geografis pegunungan di Lesotho, di mana layanan tatap muka sering kali sulit diakses.
Pada akhirnya, krisis bunuh diri di negara ini bukan sekadar soal angka atau peringkat. Di balik setiap angka, ada individu yang penderitaannya tak terlihat dan keluarga yang ditinggalkan dalam kebingungan. Mengatasi persoalan ini membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan kesadaran. Yang diperlukan adalah upaya nyata untuk mengatasi akar penyebabnya: memperluas peluang dan pemerataan ekonomi, memperkuat dukungan kesehatan mental, serta membangun komunitas yang berani membicarakan persoalan yang selama ini dijaga rapat-rapat.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sinyal Bahaya dalam Industrial Accelerator Act (IAA) Uni Eropa
Pesisir Banggai dalam Kepungan Sampah Plastik
Kurangnya Pengakuan Hukum atas Hak Kepemilikan Tanah bagi Perempuan di Selatan Global
Seruan untuk Reformasi Sistem Jaminan Sosial yang Inklusif
Ongkos Pusat Data yang Tidak Proporsional bagi Masyarakat Lokal
Proyek Rp74,6 miliar untuk Kendalikan Spesies Asing Invasif di Indonesia