Menguatnya Sinyal Peringatan Perubahan Iklim
Foto: Markus Spiske di Unsplash.
Perubahan iklim tengah mengubah kehidupan kita dalam berbagai bentuk, mulai dari hari hari-hari yang semakin panas hingga harga pangan yang terus merangkak naik. Krisis ini bukan lagi persoalan masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung dan perlahan menggerus kualitas hidup manusia. Sinyal-sinyal peringatan perubahan iklim menguat di berbagai penjuru dunia, seiring ambang batas pemanasan global 1,5°C yang semakin dekat untuk terlampaui.
Meningkatnya Suhu Bumi
Salah satu cara paling jelas untuk memahami tingkat keparahan perubahan iklim adalah melalui kenaikan suhu global. Dalam beberapa tahun terakhir, rekor tahun terpanas sejak era pra-industri berulang kali terpecahkan. Tren ini sejalan dengan emisi karbon dioksida (CO₂) yang terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 37,8 gigaton CO₂ pada 2024, menurut data Badan Energi Internasional (IEA). Konsentrasi CO₂ di atmosfer kini setidaknya 50 persen lebih tinggi dibandingkan masa pra-industri. Bersama metana dan dinitrogen oksida, karbon dioksida merupakan gas rumah kaca utama yang mendorong perubahan iklim.
Akibatnya, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca telah mengganggu keseimbangan energi Bumi, sebagaimana dilaporkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Artinya, energi yang masuk ke Bumi kini lebih besar daripada energi yang dipantulkan kembali ke luar angkasa. Kelebihan energi tersebut terakumulasi menjadi panas di lautan, atmosfer, dan daratan.
Kesehatan dan kesejahteraan manusia menjadi salah satu aspek yang paling terdampak oleh hari-hari panas yang berkepanjangan ini. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang berusia 18–40 tahun kehilangan sekitar 50 jam waktu layak huni (livable hours) setiap tahun akibat panas ekstrem. Kondisinya jauh lebih buruk bagi kelompok lanjut usia berumur 65 tahun ke atas, yang rata-rata kehilangan sekitar 900 jam setiap tahun. Selain itu, pekerja luar ruang, pedagang kaki lima, serta kelompok rentan lainnya menghadapi paparan panas yang lebih tinggi tanpa sistem pendingin maupun perlindungan sosial yang memadai.
Mencairnya Gletser dan Naiknya Permukaan Laut
Pada skala yang lebih luas, kenaikan suhu telah memicu berbagai sinyal peringatan di belahan dunia lainnya. Salah satunya adalah mencairnya sebagian besar gletser di dunia akibat peningkatan panas global. Gletser menyimpan sekitar 158.000 kilometer kubik air tawar Bumi, yang menopang hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pertanian hingga produksi energi. Dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan, kehilangan gletser kini terjadi dengan laju yang semakin cepat.
Besarnya pemanasan global akan sangat menentukan kecepatan kepunahan gletser. Sebuah studi yang terbit di jurnal Nature menggambarkan proyeksi yang mengkhawatirkan. Kepunahan gletser diperkirakan mencapai puncaknya antara 2041 hingga 2055. Jika pemanasan global berhasil dibatasi di bawah skenario +1,5°C, puncak kehilangan gletser diperkirakan terjadi pada 2041 dengan sekitar 2.000 gletser hilang setiap tahun. Sebaliknya, pada skenario +4°C, kehilangan gletser akan berlangsung lebih lama dan lebih besar, dengan puncak sekitar 2055 yang mencapai 4.000 gletser hilang setiap tahunnya.
Mencairnya gletser dan meningkatnya suhu laut turut mempercepat kenaikan permukaan laut global, yang mengancam komunitas pesisir dan berbagai ekosistem. WMO mencatat bahwa rata-rata permukaan laut global pada akhir 2025 telah mencapai sekitar 11 sentimeter lebih tinggi dibandingkan pada 1993. Selain itu, lapisan tanah beku permanen (permafrost) juga mulai mencair, yang turut melepaskan karbon ke atmosfer sekaligus berbagai kontaminan ke sungai-sungai.
Di luar kerugian yang bersifat fisik, perubahan iklim juga perlahan menghapus tradisi dan kebudayaan. Masyarakat adat Inuit di kawasan Arktik, misalnya, merasakan langsung dampak tersebut. Perubahan bentang alam akibat mencairnya es telah mengganggu proses pewarisan pengetahuan antargenerasi mengenai keselamatan di atas es, sehingga banyak pengetahuan tradisional menjadi kurang relevan dalam kondisi saat ini.
Kekeringan dan Krisis Air
Pada saat yang sama, perubahan iklim juga memengaruhi frekuensi, intensitas, cakupan, dan durasi kekeringan di berbagai belahan dunia. Berbagai penelitian memperingatkan bahwa kenaikan suhu dapat mengganggu siklus hidrologi—yang meliputi penguapan, kondensasi, dan presipitasi—sehingga memicu peningkatan frekuensi kekeringan kilat dan memperluas wilayah yang rentan terhadap kekeringan.
Meningkatnya frekuensi kekeringan membawa dampak besar bagi sektor pertanian, terutama di negara-negara berkembang yang perekonomiannya sangat bergantung pada produktivitas pertanian. Somalia merupakan salah satu negara yang saat ini mengalami kekeringan parah akibat musim hujan yang gagal terjadi pada akhir 2025. Terbatasnya produksi pertanian karena kelangkaan air dan berkurangnya padang penggembalaan telah memicu krisis pangan, dengan sekitar 6,5 juta orang mengalami kelaparan akut. Ironisnya, negara tersebut hanya menyumbang sekitar 0,09 persen dari total emisi karbon global yang tercatat, tetapi justru menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampak perubahan iklim.
Lebih jauh, kelangkaan air yang diperparah oleh kekeringan akibat perubahan iklim mencerminkan ketidakmampuan sumber daya air global untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan manusia. Para ahli bahkan telah memperingatkan tentang kemungkinan terjadinya “kebangkrutan air”, yakni kondisi ketika penggunaan air jangka panjang telah menguras sumber daya air hingga mencapai titik yang sulit atau bahkan tidak mungkin dipulihkan. Ancaman ini juga mencakup cadangan air tanah utama dunia yang menunjukkan tren penurunan jangka panjang akibat eksploitasi berlebihan dan penurunan kualitas karena pencemaran. Ketersediaan air memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan manusia dan planet, sehingga ketiadaannya akan mengganggu aliran kehidupan itu sendiri.
Intervensi Perubahan Iklim Berbasis Hak yang Inklusif
Keterhubungan antara satu bencana dengan bencana lainnya menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Sebaliknya, ia akan terus menghantam sektor-sektor paling vital dalam kehidupan manusia dan merambat ke sektor lainnya jika tidak ada upaya yang dipercepat untuk menghentikannya.
Karena itu, lebih dari sekadar jargon-jargon baru atau teknologi mutakhir, langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus berlandaskan pendekatan berbasis hak yang tidak meninggalkan seorang pun di belakang. Dalam konteks keadilan iklim, hal ini berarti mengakui bahwa dampak krisis iklim tidak dirasakan secara setara dan justru paling berat menimpa kelompok-kelompok yang termarjinalkan. Selain itu, pendekatan tersebut juga menuntut agar pengetahuan, perspektif, dan pengalaman mereka ditempatkan di pusat dialog dan proses pengambilan keputusan terkait perubahan iklim.
Berbagai upaya yang kini berkembang, seperti litigasi iklim, mekanisme penanganan loss and damage (kerugian dan kerusakan), serta solusi berbasis alam (nature-based solutions), menawarkan jalan yang menjanjikan untuk mengintegrasikan hak-hak manusia dan alam dalam menghadapi krisis ini. Pada akhirnya, jalan menuju dunia di mana manusia dan alam dapat berkembang bersama hanya bisa dibangun melalui komitmen, kolaborasi, dan tindakan nyata para pemimpin pemerintahan dan dunia usaha, dengan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Penerjemah:Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Peran Penting Kayu Mati bagi Lingkungan dan Ancaman Penyusutan Akibat Aktivitas Manusia
Ketidakadilan Pembiayaan Iklim: Bagaimana Perubahan Iklim Menguras Negara-Negara Berkembang
Pentingnya Pendekatan One Health dalam Konservasi
Bagaimana Perubahan Iklim Mengubah Peta Pangan Dunia
Bagaimana Energi Terbarukan Terdesentralisasi Mendukung Sektor Pertanian di Gambia
Mengulik Kontribusi Pekerja Rumah Tangga bagi Ekonomi Negara Berkembang