Kesepian Petani dan Krisis Kesehatan Mental yang Terabaikan dalam Sistem Pangan
Foto: Diego F. Parra di Pexels.
Bertani tidak pernah menjadi pekerjaan yang mudah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada satu bentuk kesulitan yang diam-diam mengakar di komunitas pertanian pedesaan di berbagai belahan dunia. Permasalahan ini jarang menjadi berita utama, tidak ramai diperbincangkan di media sosial, dan nyaris tak mendapat perhatian politik yang sebanding dengan besarnya masalah. Di sudut-sudut dunia yang sunyi, kesepian petani telah berkembang menjadi faktor terdokumentasi yang terus memburuk dan mendorong salah satu krisis kesehatan mental paling serius di antara kelompok pekerja mana pun di dunia.
Krisis Global yang Mematikan
Inovasi dan adopsi teknologi modern di sektor pertanian telah membantu para petani bekerja lebih efisien. Namun, kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal secara mandiri dengan bantuan teknologi pertanian justru dapat membuat pekerjaan bertani semakin sepi. Di atas jam kerja yang panjang dan sunyi di ladang, para petani kini juga harus menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata.
Kesepian petani melintasi batas tingkat pendapatan, benua, dan sistem pertanian. Yang mengkhawatirkan, beban mental ini dapat berujung pada hilangnya nyawa. Di Australia, seorang petani meninggal akibat bunuh diri setiap sepuluh hari. Di Prancis, kasus serupa terjadi setiap dua hari sekali. Sementara itu, petani di Amerika Serikat memiliki kemungkinan 3,5 kali lebih besar untuk meninggal akibat bunuh diri dibandingkan populasi umum.
Di Ghana, 60 persen peternak mengalami kondisi kesehatan mental yang buruk. Kehilangan ternak akibat penyakit, pencurian, dan kekeringan memunculkan duka serta keputusasaan ekonomi yang sebagian besar komunitas pedesaan tidak memiliki sistem formal untuk menanganinya.
India mencatat rata-rata 10.000 hingga 12.000 kasus bunuh diri petani setiap tahun dalam rentang waktu 2015 hingga 2022. Utang, gagal panen, kekeringan, serta rasa malu karena tidak mampu menafkahi keluarga menjadi pendorong utama. Risiko ini diperparah oleh mudahnya akses petani terhadap pestisida, yang masih menjadi salah satu metode bunuh diri utama di pedesaan India dan menyebabkan ribuan kematian setiap tahun.
Tidak sampai di situ, penelitian yang menelusuri hubungan antara guncangan iklim dan kematian di sektor pertanian India memproyeksikan peningkatan jumlah bunuh diri petani tahunan dari sekitar 810 menjadi 1.188 kasus akibat defisit curah hujan sebesar 25 persen. Sementara itu, studi pada 2026 yang melibatkan lebih dari 1.000 petani kecil di Ghana menemukan bahwa kehilangan hasil panen pascapanen berkorelasi langsung dengan meningkatnya pikiran untuk bunuh diri.
Penyusutan Lahan Memperparah Segalanya
Lebih lanjut, kehilangan lahan menjadi persoalan yang semakin membebani kehidupan petani. Di Amerika Serikat, sebanyak 15.000 lahan pertanian skala kecil hilang hanya pada 2025, sementara kebangkrutan pertanian meningkat 46 persen dalam satu tahun. Saat ini, perusahaan pertanian besar menguasai lebih dari setengah lahan pertanian nasional, meski jumlahnya kurang dari 10 persen dari seluruh usaha tani.
Dinamika serupa juga terjadi di negara-negara berkembang, meski dalam bentuk yang berbeda dan tak kalah merusak. Petani kecil menghadapi lemahnya kepastian hak atas tanah, fragmentasi lahan, serta kerentanan yang semakin besar terhadap perubahan iklim. Akses mereka juga terbatas terhadap kredit dan asuransi, membuat mereka jauh lebih rentan terhadap berbagai guncangan.
Beban psikososial dari situasi ini sangat besar. Bagi petani, kehilangan lahan bukan sekadar kehilangan aset ekonomi, tetapi juga berarti kehilangan identitas dan tujuan hidup. Sebuah tinjauan literatur yang dipublikasikan dalam Current Psychology pada 2025 menemukan hubungan yang konsisten antara kekeringan, utang, tekanan finansial, dan isolasi sosial sebagai pendorong bunuh diri petani dalam 26 studi yang mencakup berbagai negara dan budaya.
Ketimpangan Dukungan terhadap Kesepian Petani
Pengalaman dasar dari kesepian petani pada dasarnya serupa di seluruh dunia. Yang membedakan adalah apakah terdapat sistem dukungan yang mampu menghentikan krisis tersebut atau tidak.
Di Inggris dan Wales, terdapat 47 kasus bunuh diri pada 2024 di kalangan pekerja pertanian. Kondisi ini mendorong berbagai lembaga amal memperingatkan adanya epidemi kesepian di kalangan petani lanjut usia, yang dipicu oleh isolasi sosial dan perasaan ditinggalkan oleh negara.
Sejumlah program khusus mulai bermunculan di negara-negara Global North. Negara-negara ini setidaknya memiliki layanan bantuan melalui telepon, program kesehatan mental bagi petani, jaringan dukungan dari sesama petani, serta infrastruktur kebijakan untuk merespons masalah tersebut.
Sebaliknya, di negara-negara Global South, kesepian dan keputusasaan yang sama hadir tanpa adanya sistem pendukung semacam itu. Penelitian mengenai dampak psikososial perubahan iklim terhadap petani kecil di negara berkembang menunjukkan bahwa kajian di benua Afrika masih sangat terbatas, menciptakan kesenjangan berbahaya baik dalam bukti ilmiah maupun respons kebijakan.
Kesenjangan dukungan kesehatan mental secara umum juga sangat mengkhawatirkan di negara berpendapatan rendah dan menengah. WHO Mental Health Atlas 2024 mencatat masih adanya kekurangan pendanaan, tenaga kesehatan, dan layanan, terutama di wilayah dengan sumber daya terbatas. WHO juga menyoroti kesenjangan besar antara akses layanan kesehatan mental di perkotaan dan pedesaan. Bagi komunitas pedesaan di negara berkembang, percakapan global tentang kesehatan mental petani seolah berlangsung di planet yang berbeda.
Mengatasi Kesepian Petani
Tinjauan sistematis terhadap berbagai intervensi kesehatan mental bagi petani secara konsisten menemukan bahwa model berbasis komunitas dan dukungan dari sesama petani lebih efektif dibanding pendekatan klinis semata, terlepas dari negara maupun tingkat pendapatannya. Dalam hal ini, infrastruktur dukungan komunitas yang dirancang khusus untuk lingkungan pertanian sangat penting dan memungkinkan untuk diwujudkan.
Bentuk dukungan tersebut mencakup tenaga kesehatan masyarakat yang terlatih, penyuluh pertanian yang memahami kesehatan mental, serta jaringan petani-ke-petani. Jalur-jalur ini relatif mudah diakses bahkan di lingkungan dengan sumber daya terbatas.
Beberapa contoh datang dari Amerika Serikat. Program Minnesota Farm Advocate menghubungkan petani yang sedang mengalami krisis dengan petani pensiunan yang memahami budaya dan kehidupan pertanian. Sementara itu, Farmer Angel Network di Wisconsin menyediakan dukungan sesama petani yang secara khusus dirancang bagi masyarakat pedesaan yang cenderung tabah dan enggan mencari bantuan profesional, tetapi bersedia berbicara dengan seseorang yang pernah mengolah tanah yang sama.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang kuat, akses terhadap kredit, dan pengambilan keputusan rumah tangga secara bersama merupakan faktor pelindung yang signifikan terhadap pikiran bunuh diri di kalangan petani kecil. Temuan ini memberi petunjuk mengenai langkah struktural yang dapat diambil pembuat kebijakan: memperluas akses kredit, memperkuat perlindungan sosial bagi keluarga petani, dan membangun kembali ikatan komunitas yang selama ini terkikis oleh isolasi.
Pada akhirnya, lembaga pendanaan global, organisasi pembangunan, dan institusi pertanian perlu mulai memandang kesehatan mental petani sebagai prioritas pembangunan. Tanpa intervensi yang memadai, kesepian petani dapat berujung pada persoalan ketahanan pangan yang lebih luas. Sebab, kesehatan dan kesejahteraan orang yang menanam makanan sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pangan itu sendiri.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Standar Net-Zero SBTi 2.0: Mengayuh di Antara Sains dan Realitas Bisnis
Memahami Dampak Keanekaragaman Hayati dari Apa yang Kita Makan
Paradoks Konservasi dan Ledakan Populasi Koala di Australia Selatan
Jalan Terjal Petani Kendeng Melawan Penambangan Karst
Fenomena Green Burnout di Kalangan Pekerja Sustainability dan Aktivis Iklim
Akankah Kita Menjadi Kekuatan Positif bagi Pemulihan Bumi?