Kenaikan Suhu Melampaui 1,5°C di Depan Mata, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Foto: Star Zhang di Pexels.
Terlepas dari komitmen global untuk membatasi pemanasan global, kita mungkin akan segera melampaui batas tersebut seiring Bumi yang terus memanas. Kabar baiknya, nasib kita belum sepenuhnya pasti—tetapi hanya jika kita bertindak sekarang. Laporan “Limiting Overshoot” yang diterbitkan UNEP pada September 2026 mengajak kita melihat proyeksi ini sebagai sinyal untuk bertindak lebih cepat, sehingga upaya mengembalikan pemanasan tetap di bawah 1,5°C semakin mungkin dilakukan melalui mitigasi dan adaptasi yang lebih kuat.
Melampaui 1,5°C
Pada 2015, para pemimpin dunia berkomitmen melalui Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu pada angka 1,5°C di atas tingkat praindustri. Namun, laporan tersebut mengungkap kenyataan pahit: kita akan melampaui target itu dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamatan Foster dkk. (2026) menunjukkan bahwa pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia mencapai 1,37°C di atas tingkat praindustri pada 2025. Sementara itu, suhu global meningkat dengan laju 0,27°C per dekade sepanjang 2016–2025. Bahkan dalam skenario optimistis, dengan komitmen pemerintah dilaksanakan sepenuhnya dan target net zero tercapai, kenaikan suhu tetap akan mencapai puncak 1,8°C.
Emisi dari aktivitas manusia tetap menjadi pendorong terbesar tren kenaikan ini. Bahan bakar fosil masih menyumbang porsi terbesar emisi karbon dioksida, yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 37,8 Gt CO₂ menurut Badan Energi Internasional. Meskipun sempat turun selama Pandemi COVID-19, emisi gas rumah kaca yang terus mencetak rekor sejak saat itu membuat upaya membatasi kenaikan suhu semakin sulit dari tahun ke tahun.
Emisi yang terus tinggi juga menggerus anggaran karbon global, yakni total jumlah CO₂ yang masih dapat dilepaskan sambil tetap memenuhi target tingkat pemanasan tertentu. Dengan laju emisi saat ini, anggaran karbon yang tersisa untuk membatasi pemanasan pada angka 1,5°C mungkin akan habis hanya dalam waktu sekitar tiga tahun. Artinya, emisi CO₂ global perlu mencapai nol dalam waktu kira-kira enam tahun.
Masa Depan yang Mungkin Lenyap
Laporan tersebut tegas mengenai satu hal: tidak ada hal baik yang akan terjadi jika kita melampaui 1,5°C. Bahkan, mencapai titik tersebut saja sudah berbahaya bagi sistem alam dan manusia, sebagaimana diproyeksikan dalam Laporan Penilaian Keenam IPCC/AR6 (2021). AR6 menyoroti sejumlah risiko utama yang melibatkan ekosistem unik dan terancam, seperti terumbu karang dan gletser, yang rentan terhadap panas ekstrem.
Banyak risiko yang sebelumnya diproyeksikan mulai terjadi. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat kejadian pemutihan karang massal di sedikitnya 83 negara dan teritori dalam rentang tahun 2023 sampai 2025. Tekanan panas memengaruhi sekitar 84% wilayah terumbu karang dunia, membuatnya memutih akibat hilangnya alga simbiotik dan pigmen fotosintetik.
Sementara itu, Copernicus mencatat bahwa 40% dari total kehilangan gletser global sejak 1970-an terjadi dalam kurun waktu 2015-2024. Luas wilayah laut—yakni area laut dengan konsentrasi es laut lebih dari 15%—di Arktik maupun Antarktika telah berada di bawah rata-rata selama beberapa tahun. Sementara itu, luas es laut global mencapai titik terendah sepanjang masa, yaitu 16,20 juta kilometer persegi pada Februari 2025.
Ketika terumbu karang tidak lagi dapat menjadi habitat bagi ikan dan air laut semakin mendekati garis pantai, masyarakat harus menanggung dampak dari meningkatnya kerentanan sosial dan ekosistem. Risiko kompleks yang ditimbulkan oleh kenaikan suhu pada akhirnya akan bersinggungan dengan berbagai tantangan yang sudah ada dan menciptakan ancaman sosioekologis berantai, termasuk kerawanan pangan, bencana yang semakin parah, dan peningkatan kerentanan secara keseluruhan.
Demikian pula, ketika pemanasan mencapai puncak di atas 1,5°C, dampaknya akan muncul, begitu pula ketika suhu mulai menurun. Dampak tersebut dapat muncul pada waktu, intensitas, dan tingkat keterpulihan yang berbeda-beda—sehingga menghasilkan interaksi yang mungkin belum sepenuhnya dapat kita antisipasi. Risiko dan dampaknya tidak bersifat linear dan belum sepenuhnya diketahui pada setiap tahapan.
Jalur Mitigasi
Karena setiap kenaikan satu derajat celsius membawa risiko yang lebih besar, mencegah sekecil apapun tambahan pemanasan menjadi sangat penting. Mempertahankan pemanasan sedekat mungkin dengan target Perjanjian Paris bukan hanya perlu, tetapi juga memungkinkan. Hal ini berarti mencapai emisi bersih nol CO₂ global pada dekade 2050-an. Penghapusan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap menjadi investasi penting untuk membangun ketahanan dan kesejahteraan publik, bersama dengan pengurangan emisi metana dan percepatan adopsi energi terbarukan.
Selain itu, laporan tersebut menyoroti kebutuhan akan Penghilangan Karbon Dioksida (CDR) untuk mencapai net zero. CDR mencakup upaya menghilangkan gas tersebut dari atmosfer secara sengaja melalui berbagai metode, seperti pengelolaan karbon biru dan restorasi lahan gambut. Selain penghilangan karbon, bagian penting dari CDR adalah menyimpan karbon yang telah ditangkap di dalam penyimpan alami, termasuk vegetasi dan lautan, atau dalam produk buatan.
Setelah emisi bersih CO₂ tercapai, fungsi CDR untuk menghilangkan CO₂ yang masih tersisa di atmosfer dapat membantu mempertahankan keseimbangan bersih, di mana total CO₂ yang dilepaskan ke udara setara dengan jumlah yang dikeluarkan dari atmosfer. Namun, penerapannya tetap perlu dilakukan dengan hati-hati. Laporan tersebut memperingatkan sejumlah tantangan CDR, termasuk bagaimana penerapannya dapat memengaruhi kemajuan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta kendala hukum dan tata kelola. Dengan kata lain, CDR merupakan elemen yang diperlukan, tetapi bukan solusi ajaib. Pengurangan emisi karbon harus tetap menjadi prioritas.
Adaptasi Bukan Sekadar Pelengkap
Pada saat yang sama, adaptasi tidak boleh diperlakukan sebagai pelengkap mitigasi. Sebaliknya, adaptasi merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan upaya mitigasi. Berinvestasi dalam adaptasi preventif lebih hemat biaya daripada merespons krisis setelah terjadi. Langkah ini dapat membantu mempertahankan kapasitas kelembagaan dan keuangan yang dibutuhkan untuk menjaga ambisi mitigasi selama periode ketika suhu melampaui 1,5°C, mencapai puncaknya, lalu menurun. Karena itu, mitigasi dan adaptasi harus dipertimbangkan secara bersamaan dalam perencanaan pendanaan serta menjadi perhatian utama kementerian keuangan dan para perencana ekonomi pusat.
Selain itu, diperlukan adaptasi transformatif, dan konteks juga sangat penting. Laporan tersebut menekankan bahwa adaptasi harus spesifik terhadap konteks dan beragam, dengan mengintegrasikan perspektif lokal dan regional, bukan menggunakan satu kerangka global untuk semua kondisi. Dalam hal ini, diperlukan kemauan politik yang kuat dan memprioritaskan keadilan untuk mengatasi akar penyebab kerentanan serta mendukung perubahan transformatif.
Kebutuhan akan tindakan yang tepat waktu dan lebih efektif akan semakin mendesak ketika kita mendekati dan melampaui suhu 1,5°C. Masyarakat berpenghasilan rendah, yang sudah menanggung dampak perubahan iklim secara tidak proporsional meskipun berkontribusi lebih sedikit terhadap masalah tersebut, akan terkena dampak yang lebih besar dalam skenario yang kompleks ini. Pada akhirnya, tindakan segera sangat diperlukan, dan para pemimpin dunia perlu memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi untuk membangun fondasi dalam menghadapi risiko di masa depan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Dari Gelombang Panas Eropa hingga Banjir Himalaya: Bagaimana Risiko Iklim Bersifat Lintas Batas
Bagaimana Perubahan Iklim Memperparah Polusi Suara
Menilik Dampak Lingkungan Penggunaan Kulit Hewan dalam Industri Fesyen
Jejak Peringatan Bahaya Eksistensial AI: Dari Layar Bioskop ke Rak Buku
Mengatasi Risiko Tersembunyi Mikroplastik dari Infrastruktur Lepas Pantai
Resistensi Antimikroba Bukan Sekadar Persoalan Medis