Menengok Proyek Rehabilitasi Kanal di Kota Kochi, India
Foto: Goutham Binuraj di Unsplash.
Saluran air, seperti sungai dan kanal, sangat penting untuk mendukung aktivitas sosial dan ekonomi di suatu wilayah. Namun, di banyak tempat, pembangunan dan polusi perlahan mengikis kondisi dan fungsinya. Di Kota Kochi, negara bagian Kerala, India, pemerintah daerah setempat bermitra dengan Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP) dalam proyek rehabilitasi kanal untuk memulihkan saluran air di kota tersebut.
Kanal di Tengah Urbanisasi dan Polusi
Kanal dan sungai mendukung pengelolaan drainase dan sistem transportasi kota. Di Kochi, salah satu kota pelabuhan utama di India, kanal pernah menjadi infrastruktur penting untuk mengangkut orang dan barang, menyediakan pasokan air sehari-hari, dan mengalirkan limpahan air ke laut.
Namun, kondisi kanal-kanal tersebut telah lama rusak karena perilaku pembuangan limbah yang buruk dan kurangnya perawatan. Kanal Thevara-Perandoor, salah satu kanal utama di kota tersebut, sangat tercemar dengan limbah rumah tangga dan tumpahan minyak dari stasiun kereta api di dekatnya. Kurangnya perawatan dan pemeliharaan membuat tanaman liar tumbuh meranggas, yang menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk.
Laju urbanisasi yang cepat di Kochi juga mengganggu aliran dan dinamika kanal. Selain itu, kenaikan permukaan laut, curah hujan ekstrem, dan berbagai peristiwa lain yang disebabkan oleh iklim meningkatkan risiko banjir di kota tersebut, yang semakin menekankan urgensi rehabilitasi kanal untuk memulihkan fungsinya.
Rehabilitasi Kanal di Kochi
Dalam proyek rehabilitasi kanal yang didukung oleh UNEP, Pemerintah Kota Kochi menetapkan tujuan untuk memulihkan saluran air kota tersebut. Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Generation Restoration Cities UNEP, yang mengedepankan solusi berbasis alam untuk mengatasi masalah lingkungan yang mendesak di wilayah perkotaan.
Membentang sepanjang 11,5 kilometer, Kanal Thevara-Perandoor telah lama menjadi subjek proyek rehabilitasi kanal oleh banyak pihak. Namun, prosesnya seringkali terhenti karena minimnya dukungan publik dan politik, yang mengakibatkan kurangnya tindakan nyata di lapangan.
Proyek kali ini bertujuan untuk mengatasi hambatan tersebut dengan meningkatkan kesadaran di antara penduduk dan pejabat tentang pentingnya jaringan kanal yang sehat dan bersih untuk mendukung mata pencaharian dan mengatasi perubahan iklim. Salah satunya melalui lomba menggambar, penulisan esai, dan pameran foto yang menggambarkan masa kejayaan kanal di masa lalu, kondisi saat ini, dan visi masa depan kanal tersebut.
Selain itu, Pusat Warisan, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan, sebagai pelaku pelaksana proyek, telah berkonsultasi dengan ahli hidrologi, perencana kota, dan pakar lain mengenai pendekatan rehabilitasi. Rajan Chedambath, Direktur Pusat Warisan, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan, menyoroti pendekatan bertahap, dimulai dengan pengurangan polusi dan pengerukan, dan secara bertahap dilanjutkan ke penyempitan kanal.
Lingkungan yang Sehat, Bersih, dan Tangguh
Kehidupan perkotaan bergerak dengan infrastruktur dan lingkungan binaan sebagai fondasinya. Oleh karena itu, memastikan ruang perkotaan yang sehat, bersih, dan tangguh, seperti kanal dan taman kota, sangat penting untuk mendukung kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat perkotaan.
“Hingga beberapa tahun yang lalu, tidak ada yang menghargai pentingnya kanal. Namun, banjir yang terus-menerus dan masalah lain yang terkait dengan kanal membuat orang dan pemimpin politik sekarang berpikir sangat serius untuk melakukan sesuatu tentang masalah ini,” kata Chedambath. “Orang-orang telah menyadari bahwa kondisi kanal secara langsung memengaruhi kehidupan di mana pun di kota, bahkan mungkin keberadaannya di masa mendatang.”
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi