Upaya Melindungi Habitat dan Keselamatan Satwa Liar di Jalan Tol
Underpass perlintasan gajah di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai. | Foto: Dokumen Humas Pemerintah Provinsi Aceh.
Pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian dan mobilitas masyarakat. Namun sayangnya, pembangunan infrastruktur juga dapat menyebabkan deforestasi, fragmentasi habitat, dan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk pembangunan jalan, baik jalan tol maupun jalan non-tol. Menghadapi tantangan ini, PT Hutama Karya membangun perlintasan satwa untuk melindungi habitat sekaligus keselamatan satwa liar di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai.
Terancamnya Keselamatan Satwa Liar oleh Pembangunan Infrastruktur
Dalam pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan jalan, konversi lahan seperti persawahan, permukiman, dan bahkan hutan seringkali tidak bisa dihindari. Konversi penggunaan lahan tersebut dapat mengganggu habitat penting flora dan fauna di wilayah dimana pembangunan dilakukan. Kerusakan dan hilangnya habitat akibat perluasan atau pembangunan jalan merupakan ancaman serius bagi spesies liar.
Laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menunjukkan bahwa proyek pembangunan jalan telah menyebabkan ribuan hektare hutan berkurang. Pembangunan
jalan Trans-Papua, misalnya, diperkirakan memusnahkan 12.469 hektare tutupan hutan. Fragmentasi habitat ini menyebabkan satwa liar terisolasi, yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Misalnya, populasi harimau Sumatera saat ini diperkirakan hanya 500-600 ekor di alam liar, membuatnya berstatus terancam kritis (critically endangered). Selain itu, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menyebutkan bahwa populasi Orangutan Tapanuli telah anjlok hingga 83 persen selama 3 generasi, yang salah satunya disebabkan oleh hilangnya habitat.
Selain merusak habitat dan menghilangkan sumber pangan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol juga rawan menyebabkan kecelakaan yang melibatkan satwa. Sebagai contoh, sebuah penelitian menyebutkan terdapat 620 kasus satwa tertabrak kendaraan di jalan poros provinsi antara Kabupaten Bombana dan Kabupaten Konawe Selatan yang membelah kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW), Sulawesi Tenggara. Contoh lain di Jalan Nasional yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Cekik, Gilimanuk, dimana kecelakaan antar pengguna jalan dengan satwa menjadi salah satu faktor satwa-satwa liar di TNBB mati setiap tahunnya.
Kehadiran manusia dan masuknya pekerja ke lokasi konstruksi juga dapat meningkatkan ancaman tidak langsung terhadap satwa liar, seperti perburuan, risiko penularan penyakit, polusi fisik dan suara, serta masuknya spesies luar yang mempengaruhi habitat asli. Suara alat-alat berat selama konstruksi berlangsung juga cenderung mempengaruhi perilaku dan membuat hewan pindah.
Underpass untuk Lindungi Gajah
Menghadapi tantangan ini, beberapa perusahaan konstruksi mulai berupaya meminimalkan dampak negatif operasi mereka . Salah satu contohnya adalah PT. Hutama Karya yang menerapkan pengelolaan sampah di rest area dan membangun beberapa terowongan perlintasan satwa di Tol Trans Sumatera. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah satwa liar, khususnya gajah, melintasi jalan tol serta mengelola limbah secara lebih bertanggung jawab.
Terowongan perlintasan satwa ini merupakan langkah adaptasi atas pembangunan ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai yang telah membelah habitat gajah di dua kota dan dua kabupaten dengan total populasi gajah sebanyak 76 ekor. Bangunan yang disebut dengan “underpass gajah” ini dilengkapi dengan lanskap berupa tanaman hijau yang dapat menarik minat gajah untuk melintasinya. Selain perlintasan satwa, perlintasan ternak juga dibangun untuk membantu penduduk setempat yang memiliki ternak, sehingga tidak perlu melintasi jalan tol yang berbahaya.
Yang perlu Diperhatikan
Pertumbuhan populasi mendorong peningkatan pembangunan infrastruktur di berbagai sektor, termasuk jalan. Mengingat dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkan dari pembangunan infrastruktur, penting untuk mendorong inisiatif keberlanjutan diterapkan secara konsisten oleh semua perusahaan konstruksi di Indonesia.
Pemerintah dan perusahaan harus bekerja sama untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak mengorbankan keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem, serta mata pencaharian penduduk setempat. Selain itu, perlu ada penekanan bahwa pembangunan jalan sebaiknya dilakukan hanya jika benar-benar diperlukan, mengingat dampak besar yang ditimbulkannya terhadap alam. Hal ini perlu didukung dengan kebijakan yang lebih ketat terkait perlindungan lingkungan dan memastikan bahwa setiap pembangunan infrastruktur memiliki dampak positif tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar dan ekosistem.
Editor: Abul Muamar

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan