Kerja sama Kemenkes, UNDP, dan WHO untuk Sistem Kesehatan Tahan Iklim
Foto: Mufid Majnun di Unsplash.
Perubahan iklim telah menimbulkan dampak dan ancaman serius terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan manusia. Cuaca ekstrem, peningkatan suhu global, serta perubahan pola penyebaran penyakit menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan di seluruh dunia. Sebagai respons atas permasalahan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama United Nations Development Programme (UNDP) dan World Health Organization (WHO) berkomitmen untuk membangun sistem kesehatan yang tahan terhadap perubahan iklim dengan pendanaan dari Green Climate Fund (GCF).
Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan di Indonesia
Salah satu dampak perubahan iklim terhadap kesehatan adalah meningkatnya risiko serangan penyakit dan menurunnya kualitas kesehatan manusia. Peningkatan suhu dunia dan cuaca yang tidak menentu turut mempengaruhi kualitas hasil pertanian, udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan banyak lainnya yang berdampak pada kesehatan kita. Selain itu, perubahan iklim juga meningkatkan risiko dan frekuensi bencana alam, dan kita tahu bahwa bencana alam berkelindan dengan masalah kesehatan manusia.
Di Indonesia, bencana alam akibat krisis iklim menjadi penyebab krisis kesehatan yang paling sering terjadi pada tahun 2022. Perubahan pola iklim regional juga mempengaruhi agroekosistem dan ketersediaan air, menyebabkan kelangkaan dan peningkatan penyakit terkait air. Beberapa penyakit yang paling sering muncul di tengah krisis iklim antara lain diare, demam chikungunya, pneumonia, dan demam berdarah dengue. Meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim juga dapat menyebabkan peningkatan gangguan stres pasca trauma, gangguan penyesuaian, dan depresi.
Krisis iklim pada daerah yang kering juga menyebabkan peningkatan risiko kebakaran lahan dan hutan. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara sehingga berakibat pada meningkatnya potensi gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi pada mata. Suhu udara yang meningkat secara signifikan juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan jantung hingga berpotensi memicu kerusakan pada otak. Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan penyakit kulit, penyakit kardiovaskuler, hingga ginjal akut akibat sengatan panas (heat stroke) dan tekanan panas (heat stress).
Sistem Kesehatan Tahan Iklim
Pada 29 April 2024, Kemenkes, UNDP dan WHO menyepakati kerja sama untuk membangun sistem kesehatan tahan iklim dalam proyek yang didanai oleh Green Climate Fund (CGF).
Sebagai bagian dari proyek global GCF yang mencakup 17 negara, proyek di Indonesia dirancang untuk meningkatkan ketahanan iklim layanan kesehatan melalui adaptasi dan mitigasi iklim. Komponen adaptasi melibatkan penguatan dan integrasi sistem peringatan dini untuk penyakit terkait iklim. Sementara mitigasi iklim dilakukan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dari fasilitas dan layanan kesehatan.
Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk meningkatkan pendanaan untuk tindakan transformatif terhadap risiko kesehatan terkait iklim. Hal ini mencakup penguatan infrastruktur kesehatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kesehatan, serta promosi program-program kesehatan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Proyek ini akan melibatkan kolaborasi yang luas dengan pemangku kepentingan utama, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mulai dari pemilihan lokasi hingga sinkronisasi tujuan proyek dengan strategi pembangunan nasional Indonesia yang menyeluruh. Selain itu, proyek ini akan melibatkan Kementerian Keuangan, yang bertindak sebagai otoritas nasional yang ditunjuk untuk Dana Iklim Hijau.
“Kami percaya bahwa perubahan iklim merupakan isu yang saling terkait, sehingga kami telah mengintegrasikannya di hampir seluruh area yang kami kerjakan, seraya terus mencari tahu cara mengembangkannya dan mencari solusi yang mampu memberikan respons lebih baik terhadap dampak dari perubahan iklim di masa yang akan datang,” kata Sujala Pant, Perwakilan tetap UNDP Indonesia.
Perlu Kerja Sama yang Luas
Indonesia diperkirakan mengalami kerugian ekonomi sebesar 1,86% (sekitar Rp 21,6 miliar) akibat dampak perubahan iklim pada sektor kesehatan. Laporan Bank Dunia menyatakan bahwa dampak perubahan iklim pada sektor air dapat menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 7,3% pada tahun 2045. Jika dibiarkan tanpa pengawasan, perubahan iklim juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan generasi saat ini dan masa depan, menjadi beban bagi sistem kesehatan, dan menghambat upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan cakupan kesehatan semesta.
“Kementerian Kesehatan akan berkomitmen untuk mendukung energi dan sumber daya yang diperlukan untuk memimpin proyek ini. Untuk mencapai hasil yang diharapkan bersama, kerja sama yang luas dari berbagai kementerian akan diperlukan,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Editor: Abul Muamar

Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan
Menyoroti Peran Perusahaan dalam Menyediakan Akses terhadap WASH di Lingkungan Kerja
Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB