Mengintegrasikan Keberlanjutan dalam Upaya Gastrodiplomasi Indonesia
Foto: Helene Nguyen di Unsplash.
Sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, makanan dapat menjadi medium untuk menciptakan citra politik suatu bangsa. Praktik menggunakan kuliner untuk meningkatkan daya tarik suatu bangsa disebut gastrodiplomasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah berupaya untuk memperkuat upaya gastrodiplomasinya. Di tengah berbagai permasalahan nasional dan ketidakpastian global, memastikan upaya gastrodiplomasi Indonesia agar tidak menjadi suatu hal yang dangkal merupakan tantangan tersendiri.
Manfaat Gastrodiplomasi
Menurut United Nations World Tourism Organization (UNWTO), wisata gastronomi memberikan manfaat bagi kondisi ekonomi lokal. Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa wisatawan dapat menghabiskan sekitar 40 persen dana mereka untuk membeli makanan. Bagi mereka, mengonsumsi makanan lokal tradisional merupakan bagian dari pengalaman budaya yang mereka cari dalam perjalanan wisata. Jika dapat dikelola dan dipromosikan dengan baik, minat terhadap makanan lokal tradisional ini akan mendukung pedagang lokal serta meningkatkan pelestarian budaya dan tradisi yang ramah lingkungan.
Selain sebagai tujuan pariwisata, identitas kuliner yang kuat di kancah global juga dapat mendorong ekspor komoditas Indonesia sebagai bahan baku dan produk pangan. Dorongan ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan memantik lahirnya inovasi.
Upaya Gastrodiplomasi Indonesia
Indonesia memulai upaya diplomasi kulinernya melalui penyebaran proyek-proyek kecil. Sebagai langkah awal, hidangan kuliner indonesia mulai diikutsertakan ke dalam acara-acara budaya dan festival kuliner Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri.
Selain itu, pada tahun 2018, Kementerian Pariwisata meluncurkan Program Co-branding Wonderful Indonesia. Mereka mengundang restoran-restoran Indonesia di luar negeri untuk mempromosikan pariwisata Wonderful Indonesia. Sebagai timbal-baliknya, restoran-restoran tersebut dipromosikan melalui media sosial Kementerian Pariwisata dan kesempatan untuk berjejaring. Selanjutnya, pada tahun 2021 melalui inisiasi Indonesia Spice Up the World (ISUW), Indonesia mempromosikan kekayaan rempah-rempahnya sebagai salah satu strategi untuk memulihkan kondisi ekonomi pasca pandemi.
Pemerintah Indonesia juga menjajaki kemitraan eksternal seperti bermitra dengan UNWTO untuk meluncurkan proyek Wisata Gastronomi di Ubud, Bali. Proyek yang rampung pada tahun 2023 ini bertujuan mendorong perekonomian lokal, melestarikan warisan gastronomi, dan menciptakan lapangan kerja untuk pembangunan berkelanjutan.
Tantangan dan Jalan Berkelanjutan ke Depan
Dilengkapi dengan keragaman budaya dan kekayaan keanekaragaman hayati, potensi gastrodiplomasi Indonesia sangat menjanjikan. Indonesia menawarkan berbagai pilihan, mulai dari sate daging hingga makanan tradisional berbahan dasar tumbuhan alami seperti pecel dan tempe orek. Petualangan kuliner Indonesia juga berbeda dari satu kota ke kota lainnya.
Namun, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, termasuk negara tetangganya, Thailand. Hanya terdapat sekitar 2.000 restoran Indonesia di luar negeri pada tahun 2024, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan restoran Thailand yang mencapai 17.478 restoran pada tahun 2023. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya dukungan sistem ekspor dari Indonesia yang mempengaruhi fluktuasi harga dan ketersediaan bahan-bahan makanan. Di sisi lain, pemerintah Thailand membentuk Divisi Promosi Ekspor Thailand untuk menerapkan standarisasi dan kebijakan terkait kulinernya.
Selain menciptakan kebijakan yang mendukung ekspor dan pembiayaan, Indonesia harus siap mengatasi dampak domestik dari gastrodiplomasinya. Misalnya, produksi pangan yang harus memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia sekaligus memenuhi selera internasional. Sementara itu, keberhasilan wisata gastronomi Indonesia berkontribusi pada tingginya tingkat sampah makanan, yang menekankan pada urgensi pengelolaan sampah yang tepat.
Gastrodiplomasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pada akhirnya, upaya gastrodiplomasi harus berjalan beriringan dengan kerangka kerja yang memungkinkan sistem pangan berkelanjutan, pertumbuhan UMKM, dan pelestarian budaya. Hal ini juga harus menjamin kesejahteraan lingkungan, Masyarakat Adat , dan komunitas lokal. Bagaimanapun juga, cabang yang sehat dan menjulang jauh hanya bisa tumbuh dari akar yang kuat dan kokoh.
Penerjemah: Andi Batara
Editor: Kresentia Madina
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan