Meningkatkan Upaya untuk Menekan Laju Deforestasi di Indonesia
Foto: BPBD Jawa Timur
Hutan berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan suhu bumi. Namun, hutan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, mengalami ancaman deforestasi yang semakin meningkat, terutama akibat aktivitas manusia. Penebangan dan pembakaran hutan, pembukaan dan alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya alam merupakan beberapa penyebab utamanya. Mengingat luas hutan yang signifikan dan perannya yang begitu krusial bagi kehidupan, bagaimana mencegah dan menghentikan laju deforestasi di Indonesia?
Deforestasi di Indonesia
Pada tahun 2022, luas hutan yang mengalami deforestasi di Indonesia mencapai 104 ribu hektare. Angka tersebut memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 120 ribu hektare. Namun, secara global, Indonesia tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat deforestasi tertinggi. Berdasarkan data Global Forest Watch dan World Resource Institute, sejak tahun 2001 hingga 2022, deforestasi di Indonesia mencapai 29 juta hektare.
Deforestasi di Indonesia mayoritas terjadi di Provinsi Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Penyebab utama deforestasi di Indonesia adalah ekspansi pertanian komersial dengan perkebunan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas terbesar. Para ahli juga menyoroti ekspansi tambang batu bara dan mineral lainnya sebagai penyebab utama lainnya.
Pentingnya Menekan Laju Deforestasi
Hutan tropis Indonesia merupakan yang terluas ketiga di dunia, mencapai 120 juta hektare, dan menjadikan negara ini sebagai salah satu paru-paru dunia. Selain itu, hutan Indonesia juga merupakan rumah bagi 10-15% spesies tanaman dan hewan yang ada di Bumi. Hutan berperan besar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dengan kemampuannya menyerap karbondioksida, serta penting untuk menjaga pola hujan, kualitas air dan tanah, serta mencegah banjir–dan ini penting untuk membantu dunia menjaga suhu bumi.
Agar dapat menjalankan peran-peran tersebut, menekan laju deforestasi adalah sebuah keharusan. Deforestasi, selain menghilangkan hutan yang dapat menyerap karbondioksida, juga menghasilkan gas rumah kaca. Misalnya, hilangnya 29 juta hektare hutan Indonesia di rentang 2001-2022 telah menghasilkan emisi setara 21 gigaton CO2e (CO2 Ekuivalen). Hilangnya hutan juga dapat menurunkan kualitas tanah dan air, sehingga meningkatkan risiko bencana alam seperti tanah longsor dan banjir.
Selain itu, deforestasi juga mengancam keanekaragaman hayati yang hidup di hutan. Center of International Forest Study (CIFOR) memperkirakan sebanyak 137 spesies keanekaragaman hayati terdorong ke ambang kepunahan akibat deforestasi setiap harinya. Hilangnya habitat hewan liar di hutan juga dapat meningkatkan risiko konflik antar manusia dan hewan liar.
Dampak sosial dan ekonomi yang disebabkan oleh deforestasi juga tidak boleh diabaikan. Hilangnya hutan berarti hilangnya mata pencaharian masyarakat sekitar hutan. Selain itu, apabila terjadi bencana alam seperti kebakaran hutan atau tanah longsor, masyarakat sekitar hutan akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Menekan laju deforestasi juga penting untuk mendukung komitmen Indonesia di mata dunia, yang bertujuan untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal.

Langkah yang Dapat Dilakukan
Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Rainforest Foundation Norway menyajikan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan hutan dunia yang dapat diterapkan di Indonesia. Di antaranya adalah:
- Meningkatkan dukungan finansial negara untuk pencegahan deforestasi, baik melalui anggaran nasional maupun bantuan internasional.
- Penggunaan teknologi modern dalam mengurangi deforestasi, seperti satelit, pesawat dan kamera pantau, sensor tanah hingga artificial intelligence (kecerdasan buatan) untuk membantu menganalisis data, masalah, serta solusi yang mungkin dilakukan.
- Menyediakan data dan informasi terbarukan dan terintegrasi secara global maupun nasional mengenai hutan dan deforestasi.
- Meningkatkan transparansi pemerintah dalam memberikan data untuk mendorong kerja sama antar pelaku usaha, masyarakat adat, dan pemangku kepentingan lain dalam pengelolaan hutan.
- Melibatkan masyarakat adat secara aktif dan mengakui peran dan pengetahuan mereka dalam pengelolaan dan konservasi hutan.
- Menitikberatkan pengurangan deforestasi pada kerja sama berbagai pemangku kebijakan, utamanya pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat adat.
- Memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku deforestasi seperti penebangan ilegal dan pembakaran hutan.
- Mengembangkan secara terus menerus kapasitas penegak hukum dan pelindung hutan terutama dalam bidang teknologi dan lingkungan.
Mengatasi deforestasi juga memerlukan implementasi kebijakan lingkungan yang kuat dan efektif, termasuk pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan insentif untuk pelestarian hutan, yang disertai dengan promosi pertanian berkelanjutan. Selain masyarakat adat, komunitas lokal yang tinggal di sekitar hutan juga mesti dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan. Dan yang tak kalah penting, perlu ada sistem monitoring dan pelaporan yang efektif untuk memantau tingkat deforestasi yang terjadi secara real-time serta perkembangan yang dicapai.
Editor: Abul Muamar
Titis is a Reporter at Green Network Asia. She is currently studied undergraduate program of Law at Brawijaya University.

Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional