Merenungkan Pemahaman Kita tentang Bencana
Foto: Aditya Nara di Unsplash.
Ketika krisis iklim semakin parah, bencana yang selama ini hanya kita simak lewat berita bisa jadi sebenarnya semakin dekat dengan kehidupan kita. Ini bukan untuk menebar ketakutan, dan juga bukan berarti bahwa keadaan tak lagi dapat diperbaiki. Namun, ini adalah tentang pentingnya merenungkan pemahaman kita tentang bencana, sebagai langkah awal untuk memperbaiki sistem penanggulangan bencana.
Risiko yang Kian Meningkat
Di berbagai belahan dunia, frekuensi bencana semakin meningkat dan semakin parah dampaknya, dengan kawasan Asia-Pasifik sebagai wilayah yang paling rawan. Dalam rentang tahun 1970 hingga 2024, bencana di kawasan ini merenggut 2,14 juta korban jiwa dan berdampak terhadap 7,20 miliar orang. Pada tahun 2024 saja, tercatat lebih dari 180 bencana alam dan peristiwa ekstrem akibat perubahan iklim, dengan sebagian besar terjadi di Asia Tenggara. Sementara itu, Asia Selatan melaporkan jumlah korban jiwa dan penduduk terdampak tertinggi.
Tahun 2025 menunjukkan tren serupa. Pada Desember 2025, banjir besar melanda berbagai negara di Asia Tenggara, dipicu oleh badai tropis hebat dan hujan monsun yang sangat lebat. Dampaknya muncul dengan cepat dan sangat menghancurkan: lebih dari 1.800 orang meninggal dunia di Sri Lanka, Indonesia, Thailand, dan Malaysia, sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi dan menunggu bantuan.
Tidak hanya itu, dampak bencana tidak berhenti pada fase darurat. Para penyintas sering kali kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar dan layanan penting, seperti gizi yang memadai, sanitasi yang layak, dan fasilitas kesehatan. Musibah besar yang datang tiba-tiba juga dapat menyebabkan hilangnya dokumen atau harta benda penting, yang dapat berujung pada risiko status tanpa kewarganegaraan dan kesulitan mengakses bantuan. Penutupan sekolah yang berkepanjangan atau berulang mengganggu capaian pendidikan anak-anak dan berdampak signifikan terhadap perkembangan kognitif serta psikologis mereka. Kurangnya mekanisme penanggulangan bencana yang memadai sangat berdampak terhadap kesejahteraan, perlindungan sosial, dan pembangunan jangka panjang masyarakat.
Pemahaman Kita tentang Bencana
Secara historis, bencana kerap dipandang sebagai akibat dari kekuatan alam di luar kendali manusia. Meski alam memiliki dinamika dan siklusnya sendiri, kita perlu memperdalam pemahaman tentang bencana dan menyadari bahwa keputusan manusia sangat menentukan bagaimana kita mengalami dan merasakan dampak dari fenomena tersebut.
Ambil contoh perubahan iklim. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut bahwa risiko hujan ekstrem dapat meningkat seiring naiknya suhu global, karena atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Laporan lain juga menunjukkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca utama di atmosfer—yang dikenal sebagai pemicu utama peningkatan suhu—mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024 dan diperkirakan terus meningkat pada 2025. Emisi gas rumah kaca dari penggunaan bahan bakar fosil dan berbagai aktivitas manusia lainnya masih menjadi kontributor utama pemanasan global.
Kerusakan lingkungan, yang kerap didorong oleh kepentingan ekonomi, mengurangi kemampuan alam dalam memenuhi kebutuhan sosial dan ekologis. Bahkan dalam proyek-proyek yang mendukung transisi energi, seperti produksi biomassa dan ekstraksi mineral kritis, potensi dampak buruk akibat deforestasi berlebihan dan alih fungsi lahan tetap perlu diawasi. Banjir besar di Sumatera pada penghujung November 2025, misalnya, diduga berkaitan dengan pembukaan hutan secara masif untuk pertambangan dan perkebunan kelapa sawit yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, sehingga lereng-lereng terdegradasi dan tidak lagi mampu menyerap air.
Meningkatkan Kesadaran
Pemahaman yang lebih mendalam tentang bencana tidak dapat dibangun secara terpisah; melainkan harus mempertimbangkan berbagai aspek terkait. Perencanaan kota, jaring pengaman sosial, dan mekanisme penting lainnya masih belum sepenuhnya memasukkan risiko bencana sebagai pertimbangan utama. Dalam skala yang lebih luas, persoalan struktural seperti kemiskinan dan ketimpangan juga menentukan siapa yang paling menanggung dampak bencana. Bencana secara tidak proporsional menimpa kelompok dengan tingkat kerentanan tinggi, seperti perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Hal ini menunjukkan bahwa bencana bukan semata-mata peristiwa alam, melainkan sangat terkait dengan keputusan manusia. Selain berkontribusi pada akar masalah, keputusan manusia juga memainkan peran sentral dalam mencegah bencana berkembang menjadi tragedi kemanusiaan yang lebih besar. Investasi dalam riset, sumber daya, pendanaan, dan inovasi untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana dapat membantu membangun masyarakat yang lebih tangguh, terutama di tengah risiko yang terus meningkat akibat krisis iklim. Pada akhirnya, pemahaman yang lebih komprehensif tentang bencana merupakan langkah awal untuk memperkuat mekanisme penanggulangan bencana, sekaligus menjadi pendorong bagi para pengambil keputusan untuk merumuskan kebijakan politik yang berpihak pada manusia dan kelestarian planet Bumi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara
Memprioritaskan Pembiayaan untuk Alam demi Ekosistem yang Sehat dan Tangguh
Menilik Arah Baru Kebijakan Pariwisata Indonesia
Pergeseran Sistemik untuk Mewujudkan Lingkungan Gizi Sekolah yang Sehat