Menakar Efektivitas Model Insentif Konservasi TFFF untuk Atasi Deforestasi
Foto: Ivars Utināns di Unsplash.
Hutan tropis merupakan rumah bagi sebagian besar keanekaragaman hayati daratan di Bumi. Namun, berbagai data menunjukkan laju deforestasi yang mengkhawatirkan, dengan jutaan pohon ditebang setiap tahunnya. Untuk menghentikan deforestasi, para pemimpin dari lebih dari 30 negara yang memiliki hutan tropis meluncurkan Tropical Forest Forever Facility (TFFF) sebagai upaya menyediakan insentif permanen bagi konservasi hutan.
Laju Deforestasi Global
Pada COP26 di Glasgow tahun 2021, lebih dari 100 pemimpin dunia berjanji untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2030. Namun, sebuah penilaian yang dipublikasikan pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa negara-negara masih tertinggal 63% dari jalur pencapaian target tersebut.
Sepanjang tahun 2024 saja, hampir 8,1 juta hektare hutan hilang secara permanen. Pembukaan lahan untuk pertanian permanen menjadi penyebab utama, menyumbang rata-rata sekitar 86% deforestasi global selama satu dekade terakhir, disusul oleh faktor lain seperti pertambangan. Pada tahun yang sama, 8,8 juta hektare hutan hujan tropis lembap mengalami degradasi. Sementara itu, meski pembiayaan publik internasional untuk sektor kehutanan meningkat hingga diperkirakan mencapai 5,7 miliar dolar AS pada periode 2022–2024, alokasinya masih belum selaras dengan tujuan perlindungan hutan.
Tropical Forest Forever Facility (TFFF)
TFFF merupakan dana permanen yang dirancang untuk mendukung konservasi hutan tropis. Fasilitas ini diluncurkan pada tahun 2025 pada helatan COP30 di Belém, Brasil. Dipimpin oleh Brasil bersama negara-negara mitra lainnya, inisiatif ini menawarkan pendekatan inovatif dalam konservasi hutan dengan menghimpun investasi dari pemerintah, dana kekayaan negara (sovereign wealth funds), serta investor institusional.
TFFF dirancang sebagai model pembiayaan campuran (blended finance) dengan target awal sebesar 125 miliar dolar AS, yang terdiri dari 25 miliar dolar AS dari negara donor dan 100 miliar dolar AS dari sektor swasta. Dana investasi ini akan disalurkan ke 74 negara yang berpotensi memenuhi syarat, yaitu negara-negara dengan hutan tropis dan subtropis berdaun lebar lembap serta tingkat deforestasi tahunan di bawah 0,5%.
Berbeda dengan mekanisme konservasi hutan lainnya, TFFF tidak dirancang untuk mendanai negara dalam menurunkan laju deforestasi mereka. Sebaliknya, TFFF berfungsi sebagai sistem penghargaan atau insentif dengan memberikan pembayaran langsung kepada negara berhutan tropis untuk setiap hektare hutan yang berhasil dipertahankan, sekitar 4 dolar AS per hektare. Namun, pembayaran ini akan dikurangi apabila terjadi deforestasi atau degradasi hutan. Selain itu, TFFF mewajibkan agar 20% dari dana yang diterima dialokasikan untuk Masyarakat Adat dan komunitas lokal.
Kekhawatiran dan Kritik
Tropical Forest Forever Facility (TFFF) disebut-sebut sebagai inisiatif yang belum pernah ada sebelumnya dan berpotensi memainkan peran penting dalam penanganan krisis iklim. Meski demikian, mekanismenya tidak luput dari berbagai kelemahan.
Sebulan setelah peluncurannya, dana yang berhasil dijanjikan baru mencapai 6,7 miliar dolar AS. Brasil dan Indonesia masing-masing menjanjikan kontribusi sebesar 1 miliar dolar AS, sementara Portugal mengumumkan investasi sebesar 1 juta dolar AS. Norwegia menjanjikan 3 miliar dolar AS dan Prancis 577 juta dolar AS, keduanya dengan persyaratan tertentu. Sedangkan Jerman menyediakan 1,15 miliar dolar AS yang akan dicairkan selama 10 tahun.
Sebuah laporan dari World Rainforest Movement yang berbasis di Uruguay mengungkapkan kekhawatiran bahwa TFFF berpotensi memperbesar beban utang negara-negara Global South dan meningkatkan ketergantungan mereka terhadap Global North. Laporan tersebut juga menilai bahwa TFFF belum memiliki rencana yang kredibel untuk mengatasi akar penyebab deforestasi.
Sementara itu, Global Forest Coalition (GFC) menyatakan bahwa TFFF “mengomodifikasi hutan dengan memperlakukannya sebagai aset finansial yang tunduk pada imbal hasil investasi, risiko likuidasi, serta pembayaran yang tidak dijamin.” GFC juga menyoroti bahwa TFFF dirancang untuk membiayai pemerintah nasional semata, bukan para aktor yang secara langsung terlibat dalam perlindungan dan pengelolaan hutan.
Selain itu, Forest & Finance—sebuah koalisi organisasi kampanye dan riset—menyerukan perlunya kriteria eksklusi yang kuat dan terperinci dalam portofolio investasi TFFF untuk memastikan bahwa portofolio tersebut tidak mencakup investasi yang berdampak buruk bagi lingkungan atau berpotensi melemahkan tujuan konservasi hutan. Kriteria eksklusi tersebut harus bersifat inklusif, diaudit secara berkala, dan sepenuhnya transparan.
Mengatasi Akar Persoalan
Tropical Forest Forever Facility (TFFF) dapat berkontribusi signifikan dalam menanggulangi deforestasi sepanjang didukung oleh sistem pemantauan yang jelas. TFFF membutuhkan standar teknis yang detail untuk memastikan bahwa setiap dana yang diinvestasikan benar-benar dialokasikan bagi konservasi hutan serta memberikan manfaat nyata bagi Masyarakat Adat dan komunitas lokal. Lembaga yang mengelola operasional TFFF juga harus senantiasa bersikap kritis dalam pengambilan keputusan dengan berlandaskan sains dan bukti.
Pada akhirnya, upaya mengatasi deforestasi dan degradasi hutan menuntut negara-negara untuk merumuskan kebijakan dan tindakan yang komprehensif guna menghadapi penyebab struktural dan industrial dari kerusakan hutan. Para pembuat kebijakan dapat menghapus atau mereformasi subsidi bagi kegiatan yang mendorong deforestasi dan alih fungsi hutan, sekaligus memastikan akuntabilitas penuh dari pemerintah dan pelaku usaha yang merusak ekosistem hutan. Dalam proses tersebut, partisipasi bermakna seluruh pemangku kepentingan—termasuk Masyarakat Adat dan komunitas lokal sebagai penjaga wilayah—harus diperkuat dan dijamin.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan
Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara
Memprioritaskan Pembiayaan untuk Alam demi Ekosistem yang Sehat dan Tangguh
Menilik Arah Baru Kebijakan Pariwisata Indonesia