Sejauh Mana Efektivitas Jalur Penyeberangan Satwa Liar?
Foto: Emmanuel Munoz di Unsplash.
Manusia hidup di Bumi dengan berbagi ruang bersama spesies lain. Layaknya teman serumah, menjaga jarak dengan hormat sembari sesekali menjalin interaksi positif merupakan pilihan terbaik, baik bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Namun, pembangunan infrastruktur dan aktivitas eksploitasi sumber daya terus merambah habitat satwa liar. Lantas, bagaimana jalur penyeberangan satwa liar dapat menjadi solusi?
Tingginya Kasus Satwa Liar Tertabrak di Jalan
Jauh sebelum ada kendaraan, hewan-hewan telah mengarungi Bumi untuk mencari makanan, pasangan, dan tempat tinggal. Hari ini, perkembangan transportasi menghadirkan infrastruktur besar yang tak terhindarkan, memotong habitat dan jalur migrasi satwa liar. Dampaknya sangat mematikan: jutaan hewan mati tertabrak di jalan setiap tahun.
Data Global Roadkill menghimpun catatan satwa vertebrata darat yang tertabrak kendaraan dalam rentang tahun 1971 hingga 2024 dari berbagai sumber terpublikasi maupun tak terpublikasi. Basis data tersebut memperkirakan bahwa sekitar 340 juta burung tewas di jalanan Amerika Serikat selama periode tersebut. Sementara itu, di Eropa, tabrakan di jalan menyebabkan kematian sekitar 194 juta burung dan 29 juta mamalia.
Global Roadkill juga menemukan sekitar 126 spesies terancam yang kerap menjadi korban tabrakan kendaraan. Trenggiling raksasa (Myrmecophaga tridactyla) tercatat sebagai spesies dengan jumlah korban tertinggi dalam basis data tersebut (1.199 catatan), diikuti salamander api umum (Salamandra salamandra) dengan 1.043 catatan. Keduanya telah diklasifikasikan sebagai spesies rentan dalam Daftar Merah IUCN.
Selain menyebabkan kematian satwa, jalan raya juga secara langsung menghancurkan habitat melalui pembukaan lahan untuk pembangunan jalur transportasi. Infrastruktur turut menurunkan kualitas habitat akibat emisi dan polusi, termasuk kebisingan, cahaya, serta limpasan limbah. Dampak tersebut sangat merugikan bagi spesies liar dengan populasi yang terus menurun.
Tidak hanya itu, dampak sosial-ekonomi dari semua ini juga tidak dapat diabaikan. Di Amerika Serikat, misalnya, tabrakan antara kendaraan dan satwa liar menyebabkan lebih dari 200 kematian manusia serta 29.000 luka-luka setiap tahun, dengan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar.
Membangun Jalur Penyeberangan Satwa Liar
Jalur penyeberangan satwa liar menawarkan solusi untuk membantu mengatasi konflik manusia dan satwa liar. Infrastruktur ini dirancang agar hewan dapat melintasi penghalang buatan manusia dengan aman. Manfaatnya diharapkan bersifat dua arah: menghubungkan kembali habitat yang terfragmentasi sekaligus mencegah tabrakan.
Konsep jalur penyeberangan satwa pertama kali muncul di Prancis pada 1950-an dan terus berkembang di berbagai belahan dunia hingga kini. Bentuk infrastrukturnya beragam, mulai dari jembatan penyeberangan, terowongan bawah tanah, terowongan khusus amfibi dan reptil, tangga ikan, jembatan kanopi, hingga gorong-gorong yang dimodifikasi.
Belanda disebut memiliki sekitar 600 jalur penyeberangan satwa liar, dengan yang terbesar adalah Natuurbrug Zanderij Crailoo—jembatan penyeberangan sepanjang 800 meter dan lebar 50 meter. Pada 2021, otoritas Swedia juga mengumumkan rencana pembangunan renoduct, yakni viaduk khusus rusa kutub agar dapat menyeberangi jalan menuju area penggembalaan. Selama ini, pemerintah biasanya menutup jalan raya utama Swedia saat musim migrasi rusa kutub ke pegunungan. Kehadiran renoduct diharapkan memungkinkan kawanan rusa menemukan padang rumput baru sekaligus mengurangi kemacetan lalu lintas.
Infrastruktur serupa juga hadir di Singapura. Jembatan Eco-Link yang dibangun pada 2012 menjadi jembatan ekologis pertama di kawasan Asia-Pasifik. Jembatan ini melintasi Bukit Timah Expressway dan ditanami pepohonan serta semak untuk meniru ekosistem hutan alami dan menarik satwa liar. Beberapa spesies yang tercatat menggunakan jembatan ini antara lain trenggiling Sunda (Manis javanica), musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), dan tupai ramping (Sundasciurus tenuis).
Efektivitas yang Masih Dipertanyakan
Meski menjanjikan, jalur penyeberangan satwa liar memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah biaya pembangunan yang sangat mahal.
Pembangunan Eco-Link di Singapura menelan biaya lebih dari 10 juta dolar AS. Di California, Amerika Serikat, proyek pembangunan jalur penyeberangan satwa liar juga menuai kritik karena anggarannya mencapai 114 juta dolar AS. Jembatan tersebut diperkirakan mulai beroperasi pada 2 Desember 2026 untuk menyediakan jalur aman bagi singa gunung, bobcat, dan kadal.
Selain itu, studi yang dipimpin Soanes (2024) terhadap literatur mengenai jalur penyeberangan satwa menemukan bahwa hanya 14% dari 313 penelitian yang benar-benar mengevaluasi dampak infrastruktur tersebut terhadap perubahan pola pergerakan hewan di jalan. Ketiadaan tolok ukur dinilai menjadi persoalan utama. Sebagian besar penelitian belum menelaah apakah jalur ekologis tersebut berhasil memulihkan pola pergerakan satwa seperti sebelum pembangunan jalan atau setidaknya mencegah penurunan mobilitas setelah pembangunan.
Beberapa bukti memang menunjukkan adanya peningkatan pergerakan satwa berkat jalur penyeberangan, meski belum sampai pada pemulihan sepenuhnya. Dalam kasus ketika tidak ditemukan peningkatan, penelitian tersebut mengindikasikan bahwa jalan raya mungkin sejak awal bukan hambatan signifikan bagi pergerakan satwa.
Implementasi yang Lebih Baik
Mencari cara agar manusia dan satwa dapat hidup berdampingan merupakan proses panjang yang terus berlangsung. Infrastruktur seperti jalur penyeberangan satwa liar mungkin dapat membantu mencegah kecelakaan, tetapi implementasinya memerlukan perencanaan matang serta mekanisme pemantauan dan evaluasi yang lebih kuat untuk menilai efektivitasnya.
Selain itu, seperti telah disebutkan sebelumnya, menambah infrastruktur baru untuk mengatasi konflik manusia dan satwa di jalan yang sudah ada akan memerlukan biaya besar. Karena itu, kajian yang memadai serta integrasi jalur penyeberangan satwa liar sejak tahap awal perencanaan pembangunan sangat penting untuk meminimalkan biaya dan potensi masalah di kemudian hari. Riset dan inovasi, termasuk pengembangan peta prediksi risiko tabrakan, juga dibutuhkan guna menentukan solusi yang paling tepat.
Pada saat yang sama, upaya konservasi harus terus diperkuat dan perusakan lingkungan harus dihentikan. Fakta bahwa kesehatan manusia dan planet saling terhubung erat seharusnya menjadi pengingat penting bagi pemerintah, pelaku usaha, dan para pemegang kekuasaan untuk menghadirkan langkah nyata demi melindungi kesehatan dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik
Mengintegrasikan Desain Adat dan Rekayasa Modern untuk Pengolahan Air Berkelanjutan