Ketimpangan Representasi dalam Seni dan Industri Kreatif
Foto: Ahmed Raza Kz di Unsplash.
Seiring perkembangan teknologi dan politik, produksi karya seni pun semakin berkembang. Sebagai alat komunikasi, seni kerap memuat latar budaya, nilai, dan cara pandang para senimannya. Tak ayal, kebutuhan akan representasi dalam seni melampaui karya itu sendiri, mencakup pula para kreator dan tenaga kerja di balik produk-produk kreatif tersebut.
Pemberdayaan melalui Representasi dalam Seni
Dunia ini terdiri atas individu dengan beragam latar sosial-ekonomi dan identitas: ras, gender, etnis, orientasi seksual, penyandang disabilitas, dan banyak lainnya. Sepanjang sejarah hingga hari ini, sebagian kelompok mengalami lebih banyak kesulitan dibanding kelompok lain akibat diskriminasi dan penindasan struktural. Para kreator dari komunitas-komunitas yang termarjinalkan kemudian berupaya menyampaikan pengalaman mereka melalui seni visual, cerita, dan berbagai karya lainnya.
Namun, seniman dari kelompok minoritas—terutama kelompok rasial non-kulit putih—sering memikul beban representasi. Penelitian menunjukkan bahwa harapan terhadap karya seniman minoritas tersebar luas di berbagai medium, mulai dari film, seni rupa, teater, hingga musik klasik. Meski representasi bukanlah satu-satunya tujuan seniman dari komunitas beragam dalam berkarya, fenomena ini muncul bukan tanpa alasan. Karena kelompok-kelompok marginal kerap tersisih dari ruang sosial, karya seni yang mereka hasilkan memiliki peran unik dalam memberdayakan komunitas mereka sendiri.
Penggunaan seni sebagai alat pemberdayaan telah berlangsung selama lama. Pada 1920-an, pemerintah Meksiko menugaskan para seniman untuk memulai gerakan Mexican Muralism, yang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang Revolusi Meksiko melalui mural-mural publik. Pada 1960-an, Black Arts Movement mendorong banyak seniman kulit hitam menciptakan musik, sastra, drama, dan seni visual yang berfokus pada gerakan hak sipil serta budaya Afrika-Amerika. Sejumlah seniman kulit hitam ternama yang terlibat dalam gerakan ini antara lain Audre Lorde, James Baldwin, Nikki Giovanni, dan Maya Angelou.
Representasi dalam seni kini semakin beragam seiring meningkatnya tuntutan audiens. Salah satu contohnya adalah Moonlight, film tahun 2016 karya Barry Jenkins, sineas kulit hitam asal Amerika Serikat. Film tersebut menggambarkan tiga fase kehidupan seorang pria kulit hitam queer, sekaligus menyinggung isu kelas sosial, seksualitas, dan maskulinitas. Film ini memenangkan Academy Awards ke-89 dalam kategori Best Picture.
Representasi juga hadir dalam sastra anak. Penulis seperti Elle McNicoll dan Lizzie Huxley-Jones telah menulis banyak buku yang mengangkat tema disabilitas dan neurodiversitas. Meski begitu, Cat Mitchell, dosen dari University of Derby, menyebut masih ada novel yang melanggengkan narasi merugikan, seperti tokoh penyandang disabilitas yang meninggal secara tragis atau pulih secara ajaib, alih-alih menjalani kehidupan yang kompleks seperti karakter non-disabilitas lainnya.
Tantangan dalam Industri Kreatif
Namun, representasi dalam seni tidak sesederhana memasukkan karakter tertentu ke dalam sebuah cerita. Tanpa riset yang memadai, penggambaran budaya tertentu—terutama oleh seniman dari latar berbeda—justru dapat memperkuat stereotip yang sudah ada. Sementara itu, laki-laki kulit putih masih menjadi kelompok yang paling mendominasi industri kreatif. Sudah banyak kasus ketika sutradara laki-laki kulit putih membuat film tentang perjuangan kelompok rasial non-kulit putih, seperti Paul Thomas Anderson lewat One Battle After Another, yang menuai cukup banyak kritik.
Fenomena tersebut sejalan dengan survei yang menunjukkan dominasi laki-laki kulit putih di empat sektor kreatif: seni kontemporer (54% dari 2.092 data), fesyen (42% dari 866 data), film (60% dari 1.569 data), dan musik (41% dari 220 data). Dengan demikian, representasi tidak hanya penting dalam karya fiksi, tetapi juga di dalam industri kreatif itu sendiri.
Menurut Hollywood Diversity Report 2025 dari University of California Los Angeles (UCLA), kelompok orang kulit hitam, penduduk asli, dan orang-orang dari berbagai ras (BIPOC), perempuan, dan aktor penyandang disabilitas masih kurang terwakili dalam industri kreatif. Meningkatnya tuntutan akan karya yang inklusif dan representatif ternyata belum sebanding dengan kesetaraan kesempatan kerja bagi kelompok minoritas. Ketimpangan ini bahkan lebih terlihat dalam industri seni kontemporer, di mana persaingan ketat dan terbatasnya pasar semakin memperlebar kesenjangan bagi para pekerjanya.
Bahkan ketika seniman dari komunitas marginal berhasil masuk ke industri, mereka tetap rentan mengalami diskriminasi. Sebuah laporan survei menunjukkan bahwa 51% responden mengaku pernah mengalami perundungan dan pelecehan berdasarkan kelas sosial atau persepsi terhadap kelas sosial mereka. Selain itu, perempuan di industri kreatif masih berada dalam posisi yang lebih rentan akibat ketimpangan kuasa dan impunitas laki-laki dalam industri tersebut.
Jalan menuju Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi
Untuk menghadirkan representasi yang bermakna dalam seni, perusahaan di industri kreatif perlu memberi perhatian sebesar-besarnya tidak hanya pada produk budaya mereka, tetapi juga pada kondisi tenaga kerjanya. Mereka perlu meninjau ulang kerangka keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), menghapus regulasi diskriminatif, serta mengurangi prasangka terhadap talenta minoritas dalam proses perekrutan.
Semakin banyak seniman dari komunitas marginal yang dapat mengakses industri kreatif, semakin beragam pula karya yang dihasilkan. Namun, hal ini juga harus dibarengi dengan upah yang layak, perlakuan setara, dan penyediaan layanan sosial bagi pekerja kreatif agar keberagaman tidak sekadar menjadi alat bisnis tanpa langkah nyata untuk mengatasi persoalan struktural.
Untuk mencegah atau mengatasi kegagalan perusahaan dalam memenuhi hak pekerja, bergabung dengan serikat pekerja bisa menjadi langkah penting bagi pekerja kreatif. Melalui gerakan kolektif, pekerja memiliki posisi tawar yang lebih seimbang terhadap korporasi. Pada 2023, misalnya, serikat pekerja Screen Actors Guild–American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) berhasil menekan studio-studio Hollywood agar memperbaiki kondisi kerja dan membatasi penggunaan kecerdasan buatan setelah hampir empat bulan mogok kerja.
Sementara itu, bagi audiens yang ingin melihat lebih banyak representasi dalam seni, ada banyak seniman dari luar negara sendiri maupun luar dunia berbahasa Inggris yang layak dieksplorasi. Mendukung seniman dari berbagai negara dapat meningkatkan keterlibatan publik terhadap karya mereka, memberi panggung yang lebih besar bagi cerita-cerita mereka, sekaligus memperluas pengakuan di tingkat global.
Meskipun artikel ini banyak membahas representasi dalam seni dan industri kreatif di Hollywood serta lanskap media Barat lainnya, kompleksitas representasi di berbagai belahan dunia—termasuk di dalam komunitas marginal itu sendiri—tidak boleh diabaikan. Dengan memperluas wawasan artistik, kita tidak hanya belajar tentang seni dari berbagai penjuru dunia, tetapi juga turut mendukung keberagaman para seniman. Pada akhirnya, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat seharusnya menjadi proses yang tidak meninggalkan seorang pun di belakang.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sejauh Mana Efektivitas Jalur Penyeberangan Satwa Liar?
Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik