Menyusutnya Jaring Pengaman di Tengah Krisis Bantuan Pengungsi Global
Kamp pengungsi Sudan di Chad, Mei 2023 | Foto: Henry Wilkins/VOA.
Saat ini, satu dari setiap 70 orang di dunia terpaksa mengungsi. Mereka melarikan diri akibat perang, persekusi, bencana iklim, dan negara yang runtuh. Dan ketika mereka akhirnya tiba di tempat pelarian, semestinya ada jaring pengaman yang menampung mereka. Sayangnya, bantuan bagi pengungsi yang seharusnya menopang seluruh proses tersebut justru terus menyusut; menyingkap betapa rapuhnya sistem ini ketika jaring pengamannya terkoyak lebih cepat dibandingkan beberapa dekade terakhir.
Krisis yang Lebih Besar dari Satu Lembaga
Bantuan pengungsi bukanlah satu sistem dengan anggaran tunggal. Bantuan pengungsi melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, badan-badan PBB, organisasi nonpemerintah (NGO) internasional, organisasi masyarakat sipil lokal, hingga donor swasta. Masing-masing beroperasi dengan mandat dan model pendanaan yang berbeda.
Pemerintah negara bertanggung jawab menangani pengungsi yang berada di wilayahnya. Namun secara global, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengoordinasikan upaya perlindungan bagi sebagian besar orang tanpa kewarganegaraan dan mereka yang terpaksa mengungsi. Ada pula Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang memiliki mandat tersendiri untuk melayani pengungsi Palestina di wilayah operasionalnya. Di lapangan, organisasi seperti International Rescue Committee, Médecins Sans Frontières, dan ribuan kelompok lokal turut mengisi celah yang ada.
Jelas bahwa sistem ini sama terfragmentasinya dengan krisis yang hendak ditangani. Dan saat ini, hampir setiap bagiannya sedang berada di bawah tekanan.
Kebutuhan Bantuan Pengungsi yang Terus Membesar
Sepanjang sejarah, belum pernah ada sebanyak sekarang orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Menurut UNHCR, hingga akhir 2025 terdapat 41,6 juta pengungsi di seluruh dunia. Di luar jumlah tersebut, sebanyak 68,7 juta orang mengungsi di dalam negaranya sendiri akibat konflik atau kekerasan.
Krisis yang menyebabkan orang menjadi pengungsi tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan justru memburuk. Konflik di Sudan, Myanmar, Republik Demokratik Kongo, dan Palestina, misalnya, belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Pada saat yang sama, guncangan iklim juga memaksa orang mengungsi dan menempatkan mereka dalam wilayah abu-abu secara hukum. Perpindahan yang berkaitan dengan bahaya iklim sendiri mencapai 26,4 juta pada 2023.
Akibatnya, kini terdapat rekor 136 juta orang yang terpaksa mengungsi atau tidak memiliki kewarganegaraan di seluruh dunia—jumlah yang sejak awal tidak pernah dirancang untuk ditopang oleh sistem pendanaan yang ada.
Keruntuhan Sistem
Seruan bantuan kemanusiaan global PBB secara keseluruhan telah dipangkas menjadi US$46 miliar pada 2024. Jumlah tersebut mencerminkan apa yang mampu ditanggung para donor: hanya sekitar sepertiga dari kebutuhan yang diminta pada tahun sebelumnya. Sejak saat itu, penarikan dukungan semakin parah.
Anggaran UNHCR untuk 2026 berada di angka US$8,5 miliar, sekitar 20% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Penyusutan pendanaan ini berdampak ke berbagai sisi, baik terhadap pekerja maupun pengungsi. Hampir 5.000 staf, atau sekitar seperempat dari total tenaga kerja lembaga tersebut, kehilangan pekerjaan. Sekitar 12 juta pengungsi diperkirakan akan kehilangan bantuan langsung sama sekali.
Dampaknya di lapangan sangat nyata. Di Sudan Selatan, 75% ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan telah ditutup. Sementara itu, pendanaan bulanan per pengungsi di Sudan turun dari US$11 menjadi US$4. Kondisi ini memaksa penutupan dua dari tiga pusat pendaftaran dan membuat lebih dari 71.000 keluarga pengungsi di Chad bagian timur kehilangan bantuan tempat tinggal. Di Mesir, pemangkasan pendanaan menghentikan layanan pengobatan bagi ribuan pengungsi, termasuk seorang laki-laki yang kehilangan akses terhadap perawatan jantung yang selama ini menopang hidupnya.
Bagi pengungsi Palestina, situasinya memiliki lapisan kompleksitas politik tambahan. UNRWA, yang mengoperasikan sekolah, klinik kesehatan, dan program pangan bagi 2,4 juta orang di Gaza dan Tepi Barat, menghadapi krisis yang berlapis: larangan pendanaan dari Amerika Serikat, undang-undang Israel yang membatasi operasionalnya di wilayah yang dianggap sebagai bagian dari kedaulatan Israel, serta kekurangan anggaran sebesar US$220 juta pada 2026. Kondisi tersebut memaksa pemotongan gaji staf lokal sebesar 20% dan penghentian sejumlah program penting.
Mengapa Bantuan Pengungsi Menyusut?
Secara teori, bantuan pengungsi seharusnya bersifat netral dan tidak memihak. Namun, sebagaimana dijelaskan para pakar Nicholas R. Micinski dan Kelsey Norman, dalam praktiknya pendanaan kerap digunakan sebagai instrumen kebijakan luar negeri—untuk memberi penghargaan kepada sekutu sekaligus menghukum pihak yang dianggap lawan. Menyusutnya bantuan pengungsi global saat ini mencerminkan pola tersebut.
Sebagian besar kerusakan langsung memang dapat ditelusuri pada keputusan Amerika Serikat yang menarik diri dari komitmen pendanaan kemanusiaan utama pada 2025. Namun, persoalan yang lebih dalam bersifat struktural.
Krisis pengungsi tidak lagi berupa keadaan darurat singkat dengan tanggal berakhir yang jelas. Banyak di antaranya telah berubah menjadi situasi berkepanjangan selama puluhan tahun. Perubahan iklim semakin memperumit keadaan tersebut, dan kondisi terburuk mungkin masih akan datang. Model pendanaan bantuan pengungsi yang bergantung pada donor dan diperbarui dari tahun ke tahun tidak pernah dirancang untuk menghadapi realitas seperti ini.
Janji yang tertuang dalam berbagai kerangka seperti Deklarasi Rabat, yang berkomitmen memperluas cakupan layanan kesehatan bagi pengungsi dan migran, pun semakin sulit diwujudkan.
Langkah ke Depan
Perubahan struktural yang paling mendesak sekaligus paling mungkin dilakukan adalah mendiversifikasi sumber pendanaan, sehingga tidak terlalu bergantung pada segelintir donor pemerintah. Melibatkan sektor swasta, misalnya, merupakan salah satu peluang. Organisasi mitra nasional UNHCR yang secara langsung menghimpun dana dari sektor swasta berhasil menyalurkan US$350 juta untuk operasional 2026. Model ini patut diperluas secara signifikan, mengingat betapa rentannya anggaran pemerintah terhadap perubahan situasi politik.
Selain itu, komitmen pendanaan multi-tahun, alih-alih janji tahunan, akan memungkinkan lembaga-lembaga kemanusiaan menyusun perencanaan dan kebutuhan tenaga kerja secara lebih baik, tanpa harus terus-menerus melakukan penentuan prioritas darurat. Investasi pada infrastruktur kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial yang inklusif di negara-negara penerima pengungsi juga sangat penting. Dengan demikian, pengungsi dapat berintegrasi ke dalam sistem yang sudah mapan dan kokoh, alih-alih terus bergantung pada struktur bantuan yang terpisah. Strategi seperti ini cenderung lebih tahan ketika pendanaan internasional mengalami ketidakpastian.
Respons yang dipimpin komunitas juga dapat mengisi celah ketika sistem formal tidak mampu menjangkau semuanya. Sanad Initiative, misalnya, dijalankan oleh warga Palestina yang mengungsi di Kairo untuk membantu sesama pengungsi Palestina di Mesir. Inisiatif tersebut menunjukkan seperti apa bantuan yang berakar pada komunitas dan dipimpin oleh mereka yang memiliki pengalaman langsung.
Memberikan dukungan kepada organisasi-organisasi semacam itu akan memperkuat sistem. Pada tingkat individu, mencari cara untuk mendukung pengungsi di komunitas masing-masing memang tidak akan dengan sendirinya menutup kesenjangan pendanaan sebesar US$8,5 miliar, namun langkah ini akan terus mendorong sistem agar tetap akuntabel terhadap masyarakat yang menjadi tanggung jawab untuk dilindungi.
Jaring Pengaman untuk Semua
Dunia kini semakin membutuhkan bantuan pengungsi, dan menarik diri bukanlah pilihan. Yang jelas, model yang reaktif, bergantung pada donor, dan setiap saat dapat runtuh hanya karena satu keputusan politik tidaklah memadai. Model semacam itu tidak akan mampu mengikuti dunia yang menjadikan pengungsian sebagai ancaman bagi semakin banyak manusia, ketika Bumi terus memanas dan kesenjangan semakin melebar.
Pada akhirnya, peralihan menuju strategi bantuan pengungsi yang berorientasi ke masa depan, beragam, dan kolaboratif merupakan fondasi penting untuk merajut jaring pengaman yang mampu melindungi semua orang di tengah realitas dunia yang semakin tidak menentu.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Pembiayaan Hijau yang Jauh dari Jangkauan Pelaku UMKM di Sarimukti, Garut
Meningkatkan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi El Niño Kuat di Tengah Krisis Global
Ketika Perusahaan Asuransi Menarik Diri dari Risiko Iklim
Pengurangan Deforestasi dan Pemberantasan Kemiskinan yang Jauh dari Target Kehutanan Global
Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha