UGM Luncurkan Smart Agri Plant Factory untuk Dukung Pertanian Modern dan Ketahanan Pangan
Aktivitas dalam Smart Agri Plant Factory | Foto: Tim Media Smart Agriculture
Sektor pertanian memegang peranan penting dalam menjaga ketahanan pangan. Namun, produksi pangan sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, inovasi dalam pertanian menjadi sangat penting sebagai bentuk adaptasi iklim. Untuk menjawab tantangan ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan Smart Agri Plant Factory sebagai upaya untuk mendukung pertanian modern dan ketahanan pangan.
Perubahan Iklim Ancam Pertanian dan Ketahanan Pangan
Beberapa penelitian FAO menunjukkan bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara paling terdampak perubahan iklim, terutama berupa kekeringan dan banjir. Bencana iklim ini akan menurunkan produksi pangan dan kapasitas produksi pertanian di Indonesia, terutama di Pulau Jawa–pulau dengan hampir 60% dari total populasi Indonesia.
“Akibat perubahan iklim, Pulau Jawa diprediksi akan mengalami penurunan produksi sebesar 5% pada tahun 2025 dan 10% pada tahun 2050 mendatang, bahkan bisa lebih dari itu. Ini perlu diwaspadai dan diantisipasi sejak dini,” kata Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Mark Smulders.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2023 produksi beras Indonesia merupakan yang terendah dalam satu dekade. Penurunan produksi ini disebabkan oleh fenomena El Nino dengan kemarau panjang. Dalam jangka panjang, penurunan produksi pertanian dapat menyebabkan kelangkaan pangan dan memicu kenaikan harga pangan. Puncaknya, situasi ini akan meningkatkan kerawanan pangan yang dapat menimbulkan bencana kelaparan, seperti yang terjadi di Papua.
Di sisi lain, praktik pertanian dengan metode yang tidak berkelanjutan, seperti penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan dan pembukaan lahan dan hutan untuk memperluas area pertanian, serta pengelolaan lahan yang tidak tepat, menjadi penyebab menurunnya kesuburan tanah dan kualitas air. Hal ini dapat memperparah krisis iklim dan turut memicu penurunan produksi pangan.
Smart Agri Plant Factory
Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB), Fakultas Teknologi Pertanian, mengumumkan peluncuran Smart Agri Plant Factory pada 23 Februari 2024. Mengusung konsep pertanian modern, Smart Agri Plant Factory bertujuan untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan guna mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Smart Agri Plant Factory dirancang sebagai upaya mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, kerawanan pangan, dan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Fasilitas ini menggunakan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan untuk membuat produksi pangan lebih efisien, ramah lingkungan, modern, dan berkelanjutan.
“Smart Agri Plant ini bertujuan untuk riset dan pengembangan teknologi, sekaligus menyiapkan adaptasinya untuk masyarakat dengan tingkat kemampuan yang bermacam-macam,” jelas koordinator penelitian di Smart Agriculture Research, Dr. Andri Prima Nugroho kepada Green Network Asia.

Fasilitas Smart Agri Plant Factory dilengkapi dengan teknologi tanpa tanah seperti otomatisasi untuk pemberian nutrisi, pengamatan kualitas air dan udara, serta pencahayaan. Selain itu, fasilitas ini juga menerapkan sistem perkebunan hidroponik dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperkirakan pertumbuhan tanaman, panen, serta diagnosis kesehatan tanaman. Hal ini memungkinkan pertanian dilakukan di dalam ruangan, terlindung dari variabilitas cuaca dan tantangan lingkungan eksternal.
Tidak hanya sebagai wahana penelitian dan pengembangan teknologi pertanian, Smart Agri Plant Factory juga dimaksudkan sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman guna memastikan keamanan pangan yang berkelanjutan, mengurangi penggunaan pestisida dan air, serta meminimalkan jejak karbon dari aktivitas pertanian.
Penelitian yang dilakukan di Smart Agri Plant Factory berfokus pada optimasi kondisi lingkungan untuk berbagai jenis tanaman, respons pertumbuhan, dan perilaku tanaman untuk memastikan bahwa fasilitas ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik berbagai ekosistem dan kondisi geografis. Teknologi pengamatan pertumbuhan tanaman dilakukan secara non-kontak dan non-destruktif, baik dengan 2D maupun 3D, serta studi perilaku pergerakan tanaman untuk menilai kondisi tanaman selama budidaya dalam lingkungan terkontrol.
Perlu Pengembangan Lebih Lanjut
Penelitian berkesinambungan dalam bidang pertanian dapat membantu menciptakan model pertanian yang adaptif terhadap masalah perubahan iklim. Dalam hal ini, apa yang telah dilakukan di Smart Agri Plant Factory UGM penting untuk ditingkatkan dan dapat menjadi inspirasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri pertanian dapat mendorong terciptanya inovasi yang tidak hanya meminimalisir dampak negatif pertanian terhadap lingkungan, tetapi juga mendukung keberlanjutan sistem pangan global.
Editor: Abul Muamar

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest