Dampak Kendaraan Lawas terhadap Iklim dan Kualitas Udara
Foto oleh Anton Mishin di Unsplash
Kota-kota di berbagai belahan dunia menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim dan pencemaran lingkungan, mulai dari suhu yang semakin panas hingga kualitas udara yang semakin buruk. Di antara berbagai faktor penyebabnya, kendaraan lawas yang masih beroperasi di jalan merupakan salah satu yang sering terlupakan.
Emisi Kendaraan Lawas
Pada dasarnya, kendaraan lawas berkontribusi terhadap polusi udara dan panasnya kehidupan di kota. Mesin yang usang dan sistem bahan bakar yang tidak efisien adalah penyebab utamanya. Sebuah studi dari Union of Concerned Scientists (UCS) mengungkapkan bahwa kendaraan lawas berperan besar dalam peningkatan polusi udara di wilayah California, dimana budaya penggunaan mobil sangat mengakar.
Dampak kendaraan lawas tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan. Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan bahwa kendaraan lawas menghambat upaya global dalam memerangi perubahan iklim. Banyak kendaraan lawas yang tidak memenuhi standar emisi modern, padahal hal ini sangat penting untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi secara keseluruhan. Selain kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar, kendaraan lawas secara umum juga menghasilkan karbon dioksida dan polutan lain dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan yang lebih baru, meskipun jarak tempuhnya lebih rendah.
Masalah yang Meluas
Dampak lingkungan dan kesehatan dari kendaraan lawas telah menyebar luas di berbagai negara. Laporan UNEP mengungkapkan bahwa banyak mobil tua yang sudah tidak aman diekspor oleh negara kaya ke negara berkembang. Kendaraan-kendaraan ini dianggap tidak layak digunakan di negara asalnya, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan karena tidak memenuhi standar keselamatan dan emisi. Namun, kendaraan tua ini seringkali kembali diperdagangkan ke negara-negara yang regulasinya lebih longgar, yang akhirnya memperburuk kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Salah satu contoh di New Delhi, India, salah satu kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Meningkatnya penggunaan mobil dan truk tua telah berdampak buruk terhadap emisi dan kualitas udara di kota tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kota setempat telah menerapkan larangan agar kendaraan berusia lebih dari 15 tahun tidak diperbolehkan mengisi bahan bakar.
Menyeimbangkan Kesehatan Lingkungan dengan Dampak Ekonomi dan Sosial
Mengatasi masalah ini memerlukan pendekatan multifaset. Sebagai langkah awal, penerapan peraturan kendaraan yang lebih ketat dan pengembangan sistem transportasi umum yang lebih efisien merupakan dua elemen kunci. Sebagai contoh di Inggris, dengan aturan Zona Emisi Ultra-rendah (Ultra Low Emission Zone/(ULEZ), pengemudi dapat dikenai denda jika mengendarai kendaraan yang tidak memenuhi standar emisi tertentu.
Namun, kebijakan dan program semacam ini harus diimplementasikan dengan cermat untuk memastikan penerapan yang bertanggung jawab dan transisi yang adil. Pemerintah perlu mempertimbangkan bahwa bagi banyak orang, membeli kendaraan baru sulit terjangkau secara finansial. Selain itu, memperbaiki sistem transportasi umum memerlukan investasi yang besar serta kepercayaan dari masyarakat.
Pada akhirnya, penghapusan kendaraan lawas harus didukung oleh kebijakan yang menjamin transisi yang adil bagi semua pihak, menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan sekaligus meminimalkan dampak sosial dan ekonomi.
Penerjemah: Kesya Arla
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan