Peraturan Baru untuk Atasi Overtourism di Gunung Fuji
Para pendaki Gunung Fuji. | Foto: Caribb di Flickr.
Pariwisata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Namun, pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata, terutama setelah pembatasan akibat pandemi COVID-19 berakhir, telah menimbulkan tantangan sosio-ekonomi dan lingkungan akibat overtourism. Di Jepang, kini ada aturan baru untuk menghentikan overtourism di Gunung Fuji sekaligus untuk menjaga kelestarian gunung tersebut.
Tantangan Overtourism
Gunung Fuji merupakan salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan asing di Jepang karena status ikonik dan keindahan alamnya. Gunung ini juga merupakan tempat populer untuk mendaki, dikelilingi oleh danau dan hutan, menawarkan pemandangan yang begitu indah dari puncaknya. Pada tahun 2023 saja, gunung ini didaki oleh lebih dari 220.000 orang pada puncak musim Juli hingga September. Gunung ini juga dianggap sebagai gunung suci, yang berkaitan erat dengan kepercayaan dan akar budaya tradisional.
Sayangnya, banyaknya pendaki telah menimbulkan masalah lingkungan dan sosial di Gunung Fuji. Wisatawan sering kali meninggalkan banyak sampah, mulai dari plastik hingga pakaian, yang dapat merusak lereng abu vulkanik. Banyaknya wisatawan mancanegara, ditambah dengan pendaki yang tidak siap atau pendaki yang ceroboh, juga meningkatkan risiko kecelakaan dan membebani fasilitas darurat. Selain itu, kepadatan berlebih di spot-spot foto populer dapat menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari penduduk setempat.
Peraturan Baru di Gunung Fuji
Untuk mempersiapkan lebih banyak kunjungan sekaligus melindungi lingkungan dan kesucian Gunung Fuji, pemerintah prefektur Yamanashi telah menambahkan aturan baru mulai Juli 2024. Aturan tersebut berlaku bagi para pendaki yang menggunakan jalur Yoshida, yang merupakan rute termudah dan terpopuler.
Berdasarkan peraturan baru ini, pendaki akan membayar tambahan 2.000 yen (18 USD). Hanya 4.000 orang yang diperbolehkan mendaki per harinya, dan mereka harus memesan secara online terlebih dahulu. Selain itu, terdapat peraturan yang dimaksudkan untuk meningkatkan standar keselamatan dengan mencegah para pendaki bergegas ke puncak tanpa istirahat yang cukup. Pendaki harus memilih pendakian siang atau malam, dan mereka yang tidak memiliki pemesanan dilarang mendaki antara jam 4 sore dan jam 3 pagi.
Biaya yang terkumpul akan digunakan untuk membangun fasilitas layanan yang penting, termasuk tempat penampungan darurat di sepanjang jalan jika terjadi letusan gunung berapi dan keadaan darurat lainnya. Selain itu, para pendaki diberi pilihan untuk memberi tambahan 1.000 yen (9 USD) sebagai sumbangan untuk upaya konservasi Gunung Fuji.
Keseimbangan Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi
Peraturan baru di Gunung Fuji pada dasarnya dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekologi dan keberlanjutan gunung tersebut untuk generasi mendatang dengan mengatasi overtourism. Namun, overtourism kini merupakan masalah bagi banyak destinasi wisata dunia, termasuk di Indonesia.
Di Bali, misalnya, overtourism telah menyebabkan kelangkaan air, peningkatan kemacetan lalu lintas, penumpukan sampah, alih fungsi lahan, dan biaya hidup yang sangat tinggi bagi penduduk lokal.
Secara umum, penting untuk mengatasi dampak lingkungan dan sosial-ekonomi dari pengembangan sektor pariwisata. Oleh karena itu, kebijakan dan tindakan penegakan hukum yang mengutamakan pelestarian ekologi dan budaya serta kesejahteraan masyarakat lokal harus diterapkan. Hal ini memastikan bahwa destinasi yang banyak dikunjungi terus menghasilkan perputaran ekonomi berkelanjutan yang bermanfaat bagi manusia dan planet Bumi.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda Rahmania is an Assistant of International Partnerships at Green Network Asia. She holds a bachelor’s degree in International Relations from President University. As part of the GNA In-House Team, she supports the organization’s partnerships with international organizations, governments, businesses, and civil society worldwide through digital publications, events, capacity building, and research.

Mengatasi Tantangan dalam Menghadirkan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan berbasis Komunitas
Menilik Fenomena Kesepian Lansia, Penyusutan Rumah Tangga, dan Lemahnya Sistem Perawatan
Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik
Mengintegrasikan Desain Adat dan Rekayasa Modern untuk Pengolahan Air Berkelanjutan