Mengarusutamakan Perilaku Iklim untuk Perubahan yang Bermakna
Foto: GlobeScan’s Societal Shift 2025 Report.
Banyak orang merasakan keprihatinan yang mendalam terhadap perubahan iklim, tetapi kekhawatiran ini jarang berujung pada perubahan nyata yang berarti. Bahkan ketika risiko perubahan iklim semakin terang benderang, hanya sedikit orang yang bersedia melakukan pengorbanan pribadi. Lantas, apa yang dapat mengubah kepedulian terhadap perubahan iklim menjadi tindakan nyata dan berkelanjutan? Laporan Societal Shift 2025 dari GlobeScan mengulik bagaimana sikap publik, tekanan ekonomi, dan kondisi pendukung membentuk perilaku iklim di berbagai belahan dunia.
Kesenjangan Pengorbanan
Laporan Societal Shift 2025 menunjukkan dukungan publik yang kuat terhadap aksi iklim, dengan 85% responden di 33 negara/pasar memandang lingkungan yang sehat sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Hampir separuh responden bahkan menyatakan dukungan yang sangat kuat terhadap kebijakan ramah lingkungan.
Namun, hanya 27% yang menyatakan bersedia berkorban “dalam skala besar” demi transisi ini. Mayoritas orang lebih bersedia melakukan perubahan gaya hidup berbiaya rendah—seperti mendaur ulang atau mendukung politisi yang berkomitmen pada isu lingkungan—tetapi jauh lebih enggan melakukan pengorbanan iklim yang lebih mahal, seperti memperkecil ruang hunian atau secara signifikan mengurangi konsumsi daging dan susu.
Negara-negara Global South menunjukkan tingkat keprihatinan dan kesiapan bertindak yang paling tinggi terhadap perubahan iklim. Negara seperti Nigeria, Kenya, India, dan Vietnam menempati peringkat teratas dalam Societal Shift Index. Di negara-negara ini, 73–83% responden menilai perubahan iklim sebagai isu yang sangat serius, dan 97–99% menganggap ekonomi hijau sebagai sesuatu yang esensial. Meski demikian, hanya 43–55% yang bersedia melakukan pengorbanan pribadi yang signifikan.
Namun, angka ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara Global North, yang hanya berkisar antara 3–10% di negara seperti Jepang dan Jerman. Perbedaan ini menegaskan pentingnya pendekatan yang mampu mendukung momentum di Global South, sekaligus mengatasi keraguan dan keengganan di Global North.
Hambatan Ekonomi dan Emosional
Kerawanan ekonomi menjadi penghalang utama yang membuat orang enggan, dengan kenaikan biaya hidup menempati peringkat tertinggi sebagai tekanan pribadi di seluruh negara yang disurvei. Kesediaan untuk melakukan pengorbanan iklim yang berbiaya tinggi tetap rendah: hanya 33% responden bersedia membayar pajak yang lebih tinggi, dan 54% bersedia mengurangi ruang hunian mereka. Sebaliknya, jauh lebih banyak orang mendukung aksi berbiaya rendah seperti daur ulang, yakni sebesar 89%. Singkatnya, keterjangkauan menjadi gerbang utama yang menentukan.
Selain itu, faktor emosional dan persepsi semakin memperlebar kesenjangan ini. Perasaan takut, cemas, berduka, dan rasa bersalah kerap muncul ketika orang terpapar berita tentang krisis iklim, dan berkontribusi pada apa yang disebut sebagai kelelahan iklim (climate fatigue). Di Global North, emosi negatif ini sering kali mendominasi ketika isu iklim tidak disampaikan dengan kerangka yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga melemahkan rasa kendali dan daya bertindak masyarakat, meskipun dukungan terhadap kebijakan iklim sebenarnya cukup kuat. Akibatnya, publik cenderung mendukung langkah-langkah iklim yang membebankan tanggung jawab pada pemerintah dan perusahaan—seperti regulasi korporasi atau investasi teknologi hijau—ketimbang melakukan tindakan-tindakan yang menambah pengeluaran pribadi.
Dari Perilaku Iklim Menuju Dampak Nyata
Porsi tanggung jawab dan kapasitas terbesar untuk membalikkan laju perubahan iklim berada di tangan kekuatan terbesar dunia: pemerintah dan korporasi besar. Meski demikian, transformasi yang sesungguhnya tetap membutuhkan partisipasi semua pihak.
Warga negara dan konsumen individu bukanlah pihak yang tidak berdaya. Namun, agar perilaku iklim individu benar-benar berdampak, perubahan tersebut harus meluas dan menjadi arus utama. Intervensi yang efektif serta sistem pendukung yang memadai perlu hadir untuk memberdayakan masyarakat dalam melakukan perubahan bermakna menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Pada akhirnya, perilaku iklim tidak pernah berdiri sendiri dalam ruang hampa.
Menutup Kesenjangan
Laporan tersebut menyajikan sejumlah rekomendasi kunci untuk menutup kesenjangan pengorbanan dan mendukung perubahan perilaku iklim:
- Mendasarkan strategi pada budaya dan emosi: Strategi iklim yang efektif harus berangkat dari realitas hidup masyarakat, mencerminkan nilai dan pengalaman lokal, alih-alih ideal-ideal abstrak. Dialog berbasis komunitas dan cerita dapat membantu orang mengelola rasa duka, kecemasan, dan kelelahan iklim, sehingga harapan dapat bertransformasi menjadi tindakan.
- Membingkai ulang keberlanjutan melalui kesehatan, keterjangkauan, dan daya kendali: Pesan iklim paling efektif ketika mengaitkan aksi dengan manfaat nyata seperti kesehatan yang lebih baik, biaya yang lebih rendah, dan pilihan sehari-hari yang lebih sederhana. Komunikasi perlu menekankan langkah-langkah yang jelas dan dapat dicapai, yang menggabungkan keterjangkauan dengan kesejahteraan. Membingkai keberlanjutan sebagai sesuatu yang tak terelakkan juga harus disertai dengan penguatan daya kendali personal dan kolektif, agar masyarakat merasa mampu membentuk arah transisi.
- Mengatasi kelelahan iklim melalui narasi yang memberdayakan: Laporan tersebut menemukan penurunan kepedulian terhadap iklim di banyak negara kaya, yang dipicu oleh kejenuhan terhadap pesan krisis yang terus-menerus. Peralihan menuju narasi yang menekankan peluang, manfaat bersama, dan solusi praktis dapat membantu memulihkan motivasi. Komunikasi juga perlu disesuaikan dengan konteks wilayah dan generasi, sejalan dengan realitas hidup yang berbeda-beda.
- Mengaitkan kemajuan lingkungan dengan ekonomi yang adil dan kesejahteraan: Orang lebih bersedia bertindak ketika keberlanjutan diposisikan sebagai penguat lapangan kerja, kesehatan, dan keamanan ekonomi, bukan sebagai ancaman bagi mata pencaharian. Kebijakan yang menurunkan emisi sekaligus meningkatkan kesehatan publik dan menekan biaya hidup dapat meminimalkan dilema pengorbanan pribadi. Alih-alih membebankan pengorbanan finansial pada individu semata, institusi perlu menyediakan dukungan, perlindungan, dan insentif agar pilihan ramah iklim menjadi lebih mudah dan terjangkau.
- Menyesuaikan strategi dengan kesiapan regional dan menunjukkan kepemimpinan nyata: Tingkat kesiapan untuk aksi iklim sangat beragam. Banyak negara Global South menunjukkan kepedulian dan kesiapan berubah yang tinggi, sementara sebagian negara Global North menghadapi skeptisisme dan kelelahan. Strategi perlu membangun momentum di wilayah yang dukungannya kuat, serta menerapkan pendekatan yang lebih pragmatis dan membangun kepercayaan di wilayah yang diliputi kekhawatiran akan kehilangan. Di semua kawasan, kepemimpinan yang nyata dan terlihat dari pemerintah serta bisnis sangat penting untuk menunjukkan bahwa aksi iklim adalah tanggung jawab bersama, bukan beban individu semata.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit