Ribuan Pekerja di Inggris Sudah Mulai Bekerja 4 Hari Seminggu
Foto oleh dylan nolte di Unsplash
Jika Anda bekerja dengan jam yang lebih pendek untuk upah yang sama, maukah Anda menerimanya? Jawabnya, umumnya pasti iya. Pandemi COVID-19 telah memaksa kita, khususnya bisnis, untuk memikirkan kembali sistem ruang kerja kita. Mengapa, seberapa banyak, seberapa keras, dan di mana kita bekerja sekarang semuanya akan berubah. Di Inggris, lebih dari 3,300 pekerja sudah mulai bekerja empat hari dalam seminggu.
Bagaimana ceritanya 4 hari kerja di Inggris?
6 Juni menandai dimulainya masa uji coba enam bulan untuk kerja empat hari seminggu tanpa pengurangan upah. Program percontohan yang didukung pemerintah ini melibatkan pekerja dari lebih 70 perusahaan dan organisasi, meliputi lebih dari tiga puluh sektor seperti konstruksi, teknik, ritel, dan pekerja kantoran.
Program ini dikoordinasi oleh 4 Day Week Global, bekerja sama dengan think thank Autonomy, 4 Day Week Campaign (Kampanye 4 Hari Kerja), dan para peneliti di Universitas Cambridge, Universitas Oxford, dan Boston College.
Program ini menggunakan model 100:80:100 – 100% upah untuk 80% waktu sementara tetap menjaga 100% produktivitas. Untuk membantu mereka yang terlibat agar beradaptasi dengan perubahan, program perintis ini juga meliputi lokakarya, program pendampingan, program jaringan, serta penilaian kesejahteraan dan produktivitas.
Menurut peneliti utama Juliet Schor dari Boston College, penilaiannya akan komprehensif. Katanya, “Kita akan menganalisis bagaimana para pekerja merespons berkurangnya satu hari kerja, dengan melihat stress dan kelelahan (burn out), kepuasan kerja dan hidup, kesehatan, jam tidur, penggunaan energi, perjalanan, dan banyak lagi aspek kehidupan lainnya.
Kampanye 4 Hari Kerja
Sekitar seabad lalu, enam hari kerja seminggu diganti menjadi lima hari kerja seminggu. Di AS, 8 juta orang mulai bekerja empat hari seminggu antara 1973 dan 2018, menurut riset IZA Institute of Labor Economics. Ini memang bukan ide baru, tetapi belum menjadi norma.
“Semakin banyak perusahaan menyadari bahwa hal terbaru yang dikedepankan dalam persaingan adalah kualitas hidup, dan mengurangi jam kerja tersebut, maka bekerja dengan fokus pada hasilnya adalah cara agar perusahaan memiliki keunggulan daya saing,” ujar Joe O’Connor, CEO 4 Day Week Global, kepada The Guardian.
Saat ini, percobaan serupa sedang berlangsung di Irlandia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Skotlandia dan Spanyol akan menyusul akhir tahun ini.
Pekerjaan yang Layak & Ketenagakerjaan
Pekerjaan yang layak & ketenagakerjaan mencakup banyak aspek. Upah, keselamatan kerja, kesetaraan, pertumbuhan, keseimbangan antara kerja dan hidup, dan hal-hal lain harus diperhatikan dalam menciptakan sistem ruang kerja yang menguntungkan semua orang. Perubahan menjadi empat hari kerja barangkali dapat menjadi opsi bagi banyak pihak.
Dalam kapitalisme pemegang saham, bisnis dengan buruh berupah rendah demi memaksimalkan profit jangka pendek – sistem ini tidak punya tempat di masa depan yang lebih baik. Dunia berubah dengan cepat, dan semua pemangku kepentingan harus bekerja sama untuk beradaptasi dan berinovasi bagi manusia, planet Bumi, perdamaian, dan kemakmuran.
Penerjemah: Gayatri W.M
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Naz is the Manager of International Digital Publications at Green Network Asia. She is an experienced and passionate writer, editor, proofreader, translator, and creative designer with over a decade of portfolio. Her history of living in multiple areas across Southeast Asia and studying Urban and Regional Planning exposed her to diverse peoples and cultures, enriching her perspectives and sharpening her intersectionality mindset in her storytelling and advocacy on sustainability-related issues and sustainable development.

Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan
Tantangan Orang Muda Perkotaan dalam Penerapan Praktik Keberlanjutan
Memperkuat Tata Kelola Risiko Bencana di Tingkat Lokal