Tantangan Orang Muda Perkotaan dalam Penerapan Praktik Keberlanjutan
Wikilatih Indonesia | Foto: Indorelawan di Wikimedia Commons.
Krisis iklim dan kerusakan lingkungan semakin berdampak dalam kehidupan sehari-hari, dan menuntut perubahan dalam cara kita berperilaku dan bertindak. Dengan populasinya yang besar, orang muda menjadi kelompok yang dapat mengambil peran besar dalam mendorong gaya hidup berkelanjutan. Terkait hal ini, sebuah laporan mengkaji bagaimana perilaku keberlanjutan dijalankan oleh orang-orang muda di wilayah perkotaan dalam kehidupan sehari-hari.
Krisis Lingkungan Hidup
Peningkatan suhu, polusi, penurunan keanekaragaman hayati, dan berbagai tekanan lainnya terhadap lingkungan semakin terasa dalam kehidupan manusia. Dampak dari krisis ini terlihat pada banyak dimensi, mulai dari meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Namun, dampak tersebut tidak dialami secara merata karena kelompok rentan seringkali menanggung beban paling besar akibat keterbatasan akses, sumber daya, dan perlindungan.
Pola konsumsi yang tinggi, produksi sampah yang ajek, serta sistem pengelolaan sampah yang belum memadai turut berkontribusi pada krisis ini. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup kerap dipandang sebagai salah satu cara untuk menekan dampak krisis tersebut, yang penerapannya tidak dapat dilepaskan dari partisipasi publik yang bermakna, termasuk orang-orang muda.
Tantangan Orang Muda dalam Praktik Keberlanjutan
Indonesia memiliki populasi orang muda (rentang usia 16-30 tahun) yang relatif tinggi, yang sebagian besar tinggal dan beraktivitas di kawasan perkotaan. Kelompok usia ini berada pada fase ketika kebiasaan konsumsi, pilihan mobilitas, dan pola hidup mulai atau telah terbentuk. Oleh karena itu, orang muda perlu didorong untuk menerapkan praktik keberlanjutan.
Namun sayangnya, perilaku yang dilakukan oleh orang-orang muda di wilayah perkotaan masih jauh dari harapan. Menurut laporan dari Plastic Smart Cities, salah satu persoalan yang menonjol adalah pengelolaan sampah. Praktik membuang sampah tidak pada tempatnya masih banyak ditemukan, baik di lingkungan rumah tangga maupun di ruang publik. Hal tersebut terbukti dari 40,6 persen responden yang mengingat kondisi di mana sampah tidak dibuang pada tempatnya. Praktik pemilahan sampah juga belum menjadi kebiasaan umum, terutama karena keterbatasan fasilitas dan sistem pengelolaan yang belum berjalan konsisten. Hanya sebagian kecil orang muda yang berupaya mengelola sampahnya secara mandiri.
Survei tersebut melibatkan 1.006 responden di Jakarta, Bogor, dan Depok. Praktik berkelanjutan dalam laporan tersebut disusun berdasarkan jawaban dari para responden orang muda atas pertanyaan survei yang merekam kebiasaan sehari-hari, mulai dari pilihan transportasi, penghematan energi, pengurangan plastik sekali pakai, hingga keterlibatan dalam komunitas dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan serta risiko bencana.
Perbedaan kondisi kota juga berpengaruh. Bogor tercatat memiliki indeks keberlanjutan yang lebih tinggi dibandingkan Depok dan Jakarta. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di minimarket yang diberlakukan di Bogor, yang mendorong perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. Selain itu, keberadaan ruang terbuka hijau yang lebih luas di Bogor juga turut membentuk lingkungan fisik yang lebih mendukung praktik ramah lingkungan.
Laporan tersebut juga mengidentifikasi pengaruh jenis pekerjaan dan kondisi finansial. Wirausahawan dan pekerja lepas memiliki tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja dengan pekerjaan konvensional, seperti pegawai swasta atau pegawai negeri. Perbedaan ini dikaitkan dengan fleksibilitas waktu yang lebih besar. Selanjutnya, orang muda dengan pendapatan 4–5,5 juta rupiah dan pengeluaran 2–4 juta rupiah, serta mereka yang berpenghasilan 8,5–10 juta rupiah dengan pengeluaran 5,5–7 juta rupiah, tercatat memiliki indeks keberlanjutan yang lebih tinggi dibandingkan orang muda dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah dan tidak stabil.
Faktor Pendorong
Perubahan gaya hidup kini semakin relevan untuk merespons krisis iklim dan berbagai krisis lainnya yang sedang kita hadapi. Laporan tersebut memberikan beberapa rekomendasi untuk mendorong perilaku keberlanjutan di kalangan orang muda perkotaan di Indonesia, di antaranya:
- Mengintegrasikan tradisi lokal, minat, dan hobi orang-orang muda ke dalam inisiatif keberlanjutan.
- Mengadopsi model proyek dinamis jangka pendek yang selaras dengan pola konsumsi digital orang muda dalam program-program keberlanjutan.
- Mendorong pemberian insentif finansial serta pengakuan untuk praktik-praktik keberlanjutan.
- Mengintegrasikan solusi berbasis ekonomi untuk memperluas daya tarik program keberlanjutan bagi orang muda.
- Memperluas edukasi lingkungan dan praktik keberlanjutan sejak usia dini, dan menyasar orang tua dan masyarakat melalui edukasi berbasis komunitas.
Namun, pada akhirnya, pilihan untuk menjalankan praktik keberlanjutan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dibentuk oleh sistem yang mengatur akses terhadap sumber daya, infrastruktur, informasi, dan ruang pengambilan keputusan. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjalani gaya hidup berkelanjutan karena pilihan-pilihan yang ada seringkali bergantung pada kondisi ekonomi, kebijakan publik, dan dukungan institusional. Oleh karena itu, keberlanjutan perlu dipahami sebagai isu struktural yang menuntut perubahan pada tingkat kebijakan, tata kelola, dan sistem produksi.
Editor: Abul Muamar
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Mengatasi Banjir Jakarta dengan Solusi yang Mengakar
Memahami Keterkaitan antara Krisis Iklim dan Kerja Perawatan
Menilik Potensi Digitalisasi Rantai Nilai Pangan untuk Mendukung Kesejahteraan Petani
Bagaimana Bank Dapat Berperan dalam Mendorong Terciptanya Pekerjaan Layak
Menilik Tantangan dalam Pengembangan SAF berbasis Minyak Jelantah di Indonesia
Mengintegrasikan Panas Perkotaan dalam Sistem Penanggulangan Bencana