Pengelolaan Biogas Babi sebagai Praktik Ekonomi Hijau di Sulawesi Utara
Foto oleh Kenneth Schipper di Unsplash.
Sub-sektor peternakan menjadi penyumbang 2% emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Limbah peternakan menghasilkan emisi buang berupa metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), dan karbon dioksida (CO2) yang dapat menyebabkan polusi udara berupa bau dari kotoran ternak dan berpotensi mencemari air dan tanah.
Di Sulawesi Utara, peternakan babi menjadi penyebab timbulnya masalah sosial dan lingkungan. Selain polusi udara dan risiko pencemaran air, peternakan babi juga berpotensi menimbulkan wabah penyakit seperti hog cholera yang dapat menginfeksi manusia.
Baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar diseminasi hasil riset yang berjudul “Biogas Babi sebagai Praktik Green Economy: Kasus di Desa Tumaluntung, Provinsi Sulawesi Utara”. Penelitian ini menjelaskan bahwa biogas babi dapat menjadi solusi bagi masalah peternakan babi di Sulawesi Utara, sekaligus mendukung praktik ekonomi hijau di wilayah tersebut.
Ide Biogas Babi
Biogas adalah energi yang dihasilkan dari limbah organik, salah satunya kotoran hewan. Limbah tersebut akan melalui proses urai yang dinamakan anaerobik digester di ruang kedap udara. Komponen utama dari energi biogas adalah gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Kedua gas tersebut dapat dibakar atau dioksidasi dan melepas energi yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.
Ide biogas babi ini merupakan respons solutif atas konflik antara masyarakat dengan peternak babi di Desa Tumaluntung. Limbah peternakan mencemari lingkungan sekitar dan menyebabkan turunnya kualitas udara akibat bau dari limbah kotoran. Dengan reaktor biogas yang telah dibangun, pemanfaatan limbah peternakan babi menerapkan konsep zero waste, seperti mengolah limbah peternakan menjadi produk pupuk organik.
“Reaktor biogas babi di Desa Tumaluntung menjadi satu-satunya reaktor biogas yang aktif di Provinsi Sulawesi Utara dan itu menjadi alasan kami untuk meneliti reaktor tersebut,” kata Triyono, salah satu penulis riset tersebut.
Pembangunan reaktor biogas babi tersebut mendapat bantuan konsultasi dari PTTI (Penggalangan Taksonomi Tumbuhan Indonesia) pada penerapan konsep nol sampah. Reaktor biogas babi ini menjadi satu-satunya yang tetap beroperasi karena tingginya permintaan daging babi dan sumber gas rumah tangga. Selain itu, peternak babi sadar untuk memberikan kontribusi ke warga sekitar sebagai wujud kepedulian lingkungan sosial.
Tantangan dan Solusi
Angin segar dari keberadaan reaktor biogas babi tersebut masih menyisakan tantangan yang tidak kalah serius, antara lain:
- Masih adanya kontroversi terkait penggunaan biogas babi dan turunannya.
- Ketergantungan masyarakat terhadap CSR perusahaan.
- Terhambatnya transfer knowledge tentang perawatan instalasi reaktor biogas, karena pendampingan kurang intensif dan hanya melibatkan generasi tua dalam kelompok penerima manfaat.
- Sumber kotoran babi berasal dari peternakan pribadi, sehingga keberlanjutan biogas babi sangat tergantung dari kelangsungan usaha peternakan.
Untuk itu, riset tersebut menawarkan tiga rekomendasi solusi, yakni:
- Dukungan pemerintah berupa pembuatan regulasi untuk pengembangan ketahanan energi desa.
- Meningkatkan kolaborasi dan mengintensifkan kerjasama dengan pelaku usaha melalui program CSR dan akademisi.
- Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara perlu memberikan program sosialisasi dan pendampingan tentang manfaat kotoran babi sebagai sumber energi.
“Saya berharap, ketiga solusi tersebut dapat menjadi kunci pemberdayaan yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlangsungan reaktor biogas babi,” ujar Triyono.
Editor: Abul Muamar
Panji adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar Ilmu Media Massa dan Komunikasi Digital di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan