Skip to content
  • Tentang
  • Bermitra dengan Kami
  • Beriklan dengan Kami
  • GNA Internasional
  • Berlangganan
  • Log In
Primary Menu
  • Beranda
  • Terbaru
  • Topik
  • Wilayah
    • Jawa
    • Kalimantan
    • Maluku
    • Nusa Tenggara
    • Papua
    • Sulawesi
    • Sumatera
  • Kabar
  • Ikhtisar
  • Wawancara
  • Opini
  • Figur
  • Infografik
  • Video
  • Komunitas
  • Siaran Pers
  • ESG
  • Muda
  • Dunia
  • Unggulan
  • Wawancara

Seni Tani Menyediakan Akses Pangan Sehat dan Dekat di Perkotaan

Seni Tani hadir untuk menjawab tantangan krisis pangan di wilayah perkotaan melalui pertanian perkotaan yang berkelanjutan dengan pendekatan Community Supported Agriculture (CSA).
Oleh Abul Muamar
26 Desember 2022
Seni Tani menerima kunjungan anak-anak sekolah untuk belajar berkebun.

Seni Tani menerima kunjungan anak-anak sekolah untuk belajar berkebun. | Foto oleh Seni Tani.

Kita semua membutuhkan makanan. Namun, makanan yang sehat hari ini mulai sulit dijangkau dan harganya cenderung mahal. Hal ini menjadi persoalan mengingat pangan yang sehat sangat penting untuk menunjang kualitas hidup seseorang dan mendukung produktivitas nasional.

Di tengah perubahan iklim dan perang antarnegara, krisis pangan mulai mengancam. Menurut Laporan Keadaan Ketahanan Pangan dan Nutrisi Dunia 2022 yang dirilis FAO, hampir 2,3 miliar orang mengalami kerawanan pangan sedang atau parah, dan hampir 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan yang sehat dan seimbang. 

Di wilayah perkotaan di mana lahan pertanian kian menyusut, ancaman krisis pangan lebih terasa. Orang-orang banyak mengonsumsi makanan artifisial. Kondisi tersebut menjadi fokus perhatian komunitas Seni Tani di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Mengusung pertanian berkelanjutan dengan pendekatan Community Supported Agriculture (CSA), Seni Tani hadir untuk menjawab tiga tantangan utama, yakni:

  • Tingginya angka impor pangan di Kota Bandung.
  • Tingginya tingkat depresi pemuda di Kota Bandung yang salah pemicunya adalah keterbatasan lapangan pekerjaan.
  • Banyaknya lahan tidur di wilayah perkotaan yang terbengkalai.

Atas nama Green Network, saya mewawancarai Vania Febriyantie, penggagas Seni Tani melalui Zoom pada 14 Desember 2022. Kami berbincang seputar ketahanan pangan di wilayah perkotaan dan bagaimana Seni Tani berupaya untuk mewujudkannya.

Bagaimana awalnya Seni Tani terbentuk?

Anggota Seni Tani berada di lahan yang dilalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT).
Anggota Seni Tani berada di lahan yang dilalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT). | Foto oleh Seni Tani.

Awalnya, kami membentuk 1000Kebun pada tahun 2015. Itu komunitas yang saya dan beberapa teman inisiasi pada tahun 2015. Kami fokus pada pemanfaatan lahan tidur yang terbengkalai di perkotaan. Kami melihat itu sebagai peluang untuk menciptakan akses pangan yang dekat dan sehat. 

Gerakan kami awalnya lebih ke edukasi dan membangun kesadaran akan pentingnya pangan sehat. Kami bertujuan untuk mempertemukan konsumen dan produsen lokal, dengan harapan terjadi interaksi dan timbul rasa empati dan engagement (keterikatan) yang tinggi antara masyarakat dengan petani lokal. 

Selama 2015-2020, kami mengadakan berbagai kegiatan, yang kami sebut Ngebun Seru. Kegiatannya berupa berkebun dan workshop. Lalu pandemi COVID-19 datang, dan makin banyak yang mempertanyakan 1000Kebun lokasinya di mana. Karena kami basisnya di Bandung, akhirnya kami berpikir untuk tetap beraktivitas sambil tetap menjaga jarak. Dari situ, terbentuklah Seni Tani.

Apa misi Seni Tani?

Kami punya misi untuk meregenerasi petani. Kami ajak anak-anak muda yang baru lulus SMA, yang belum bisa kuliah, untuk berkebun di kebun Seni Tani. Hasil panennya kami distribusikan melalui sistem langganan, dengan mekanisme CSA (Community Supported Agriculture) atau kami menyebutnya dengan istilah “Tani Sauyunan”. Sauyunan berarti kebersamaan. Kebersamaan antara petani muda dan para anggota CSA.

Pendekatan CSA ini mengajak orang-orang dalam komunitas untuk bisa berlangganan sayuran, dengan cara berinvestasi di awal. Kami urunan untuk menutupi biaya operasional petani muda di Seni Tani. Hasil panennya akan dibagikan seminggu sekali ke setiap anggota.

Bagaimana kondisi ketahanan pangan di Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang tinggal di wilayah perkotaan?

Anggota Seni Tani panen biji bunga matahari untuk dijadikan kuaci.
Anggota Seni Tani panen biji bunga matahari untuk dijadikan kuaci. | Foto oleh Seni Tani.

Krisis pangan di perkotaan sudah berlangsung saat ini. Dalam hal ini, krisis pangan yang sudah terjadi lebih ke soal kualitas pangan. Kita memang masih bisa makan setiap hari, tetapi bagaimana dengan kualitas makanannya? Sekarang real food dan artificial food sudah berbaur. Anak-anak muda di perkotaan cenderung mengkonsumsi makanan yang manis-manis. Boba dan segala macam. 

Kita lihat, sekarang makanan artifisial lebih murah dibanding real food. Makanan yang organik cenderung tidak affordable (terjangkau). Sedih kita. Kenapa sih makanan organik dan sehat harus mahal? Kenapa jadi eksklusif? 

Pada akhirnya makanan yang sehat-sehat hanya dirasakan oleh orang-orang yang mampu saja. Teman-teman kita yang belum berkecukupan, terpaksa makan makanan yang tidak sehat. 

Pada poin inilah krisis pangan itu berlangsung. Padahal pangan sehat sangat memungkinkan untuk dibuat inklusif. Kami punya hashtag #pangansehatuntuksemua. Harapan kami, makanan sehat bisa dinikmati semua orang. Sehingga ke depannya orang-orang kembali lumrah memakan real food dengan harga yang lumrah pula.

Apa saja yang Seni Tani lakukan?

Siswa sekolah belajar berkebun di kebun Seni Tani.
Siswa sekolah belajar berkebun di kebun Seni Tani. | Foto oleh Seni Tani.

Ada tiga aspek yang Seni Tani perjuangkan: lingkungan, sosial dan ekonomi. Untuk lingkungan, seperti yang sudah saya katakan, kami mengubah lahan tidur di kawasan lahan yang dilalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di Arcamanik. Di lahan tersebut kami menerapkan urban farming dengan memanfaatkan potensi sumber daya sekitar menjadi kebun pangan melalui pertanian organik yang berkelanjutan. 

Pada aspek sosial, Seni Tani melibatkan pemuda dan komunitas untuk mendapatkan nature healing melalui Kebun Komunal; memberikan pelatihan urban farming; dan menyediakan akses pangan lokal yang sehat. Untuk ekonomi, para petani muda di Seni Tani berdaya dan mendapatkan kepastian pendapatan dari penjualan hasil tani dengan pendekatan sistem CSA.

Kami ingin mengubah paradigma bahwa bukan kita yang membantu petani, tetapi petani yang membantu kita untuk bisa makan. Petani itu bukan dikasihani, tapi petani yang kasihan sama kita. Kalau tidak ada petani, kita mau makan apa?

Kadang-kadang orang tidak adil terhadap petani. Suka menawar, misalnya. Orang seperti itu tidak mengerti kalau kerja petani itu penuh dengan ketidakpastian. Cuaca yang tidak menentu, ancaman gagal panen, distribusi yang sulit, dan sebagainya. 

Semangat yang Seni Tani bawa adalah bagaimana agar petani, dengan sistem CSA, bisa mendapatkan harga yang adil dan masyarakat bisa mendapatkan pangan sehat dan dekat.

Apa saja pencapaian Seni Tani?

Dari lahan terbengkalai yang kami manfaatkan, sekarang sudah ada tujuh petani muda kota yang sama-sama bekerja keras untuk menghasilkan sayuran sehat bagi masyarakat. Kami berhasil menghasilkan 303.843 Kg sayuran hijau dengan lahan 1.500 meter persegi. 

Semua hasil sayuran sehat ini kami distribusikan ke beberapa mitra Seni Tani dan utamanya untuk para anggota CSA Tani Sauyunan, dengan jumlah rata-rata anggota 20 orang per bulan.

Di lahan tersebut kami juga memproduksi kompos sendiri supaya bisa memanfaatkan sampah-sampah hijauan dan coklatan dari lingkungan sekitar kami. Kami berhasil memproduksi 2.268 Kg kompos dan membantu kedai-kedai kopi di lingkungan sekitar kami untuk memanfaatkan 560 Kg ampas kopinya sebagai salah satu bahan pembuatan kompos.

Bagaimana potensi pertanian perkotaan untuk ketahanan pangan?

Anggota Seni Tani panen sayuran.
Anggota Seni Tani panen sayuran. | Foto oleh Seni Tani.

Potensi pertanian perkotaan untuk ketahanan pangan menurutku sangat besar. Kalau ada lahan yang cukup luas, bisa dibuat urban farming yang bisa dikembangkan menjadi bisnis. Tapi kalau tidak ada, bisa sekadar untuk kebutuhan pribadi.

Saya sering kepikiran, bagaimana kalau kita adakan wajib tani–seperti halnya ada wajib militer. Misalnya, di Korea orang wajib militer saat akan masuk kuliah, mungkin di Indonesia bisa diterapkan wajib bertani sebelum kuliah. Wajib tani ini sekaligus bisa menjadi strategi survive (bertahan hidup) kita. Apalagi kalau kita bermaksud untuk mengatasi tantangan krisis pangan.

Kebijakan seperti apa yang Anda harapkan dari pemerintah?

Subsidi pupuk itu menurut saya kebijakan yang kurang tepat sasaran. Mungkin perlu diubah. Misalnya, subsidinya diberikan kepada orang-orang yang pengen beli makanan sehat dari petani. Kalau ada Kartu Indonesia Sehat, mungkin perlu diadakan semacam “kartu pangan sehat”. Orang-orang bisa mendapat akses pangan yang sehat dan terjangkau, tetapi petaninya juga nggak bangkrut.

Untuk subsidi pupuk, petani memang dapat pupuk murah, tapi yang diuntungkan cuma pabrik pupuk. Padahal pupuk kimiawi juga merusak lingkungan. Mungkin perlu dibalik, petaninya yang diuntungkan, dengan cara tidak perlu membeli pupuk subsidi tetapi menghasilkan pupuk sendiri dari resource yang ada di sekitar.

Kemudian, pemerintah perlu memberikan akses lahan bagi pemuda atau orang-orang di perkotaan agar bisa bertani. Saya sering sekali melihat lahan terbengkalai yang cukup luas di perkotaan, ditutupi pagar. Mungkin pemerintah bisa memberikan lahan itu agar bisa dikelola warga. Mungkin dengan membebaskan pajak, mempermudah perizinan, dan sebagainya. Yah, sekalian untuk menghindari kemubaziran.

Aktivitas Seni Tani dapat diikuti melalui akun Instagram @kamisenitani.

Artikel ini diterbitkan dengan penjadwalan per 23 Desember 2022. Saat ini, seluruh tim Green Network sedang libur akhir tahun bersama sampai 02 Januari 2023.

Perkuat pengembangan kapasitas pribadi dan profesional Anda dengan Langganan GNA Indonesia.

Jika konten ini bermanfaat, harap pertimbangkan Langganan GNA Indonesia untuk mendapatkan akses digital ke wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di Indonesia dan dunia.

Pilih Paket Langganan Anda

Abul Muamar
Managing Editor at Green Network Asia | Website |  + postsBio

Amar adalah Manajer Publikasi Digital Indonesia di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, dan Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Ia memiliki lebih dari sepuluh tahun pengalaman profesional di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor untuk beberapa media tingkat nasional di Indonesia. Ia juga adalah penulis, editor, dan penerjemah, dengan minat khusus pada isu-isu sosial-ekonomi dan lingkungan.

  • Abul Muamar
    https://greennetwork.id/author/abulmuamar/
    Pendekatan Sistemik untuk Hapus Kekerasan Seksual di Fasilitas Kesehatan
  • Abul Muamar
    https://greennetwork.id/author/abulmuamar/
    Jerman Danai Proyek SETI untuk Dekarbonisasi Sektor Bangunan dan Industri di Indonesia
  • Abul Muamar
    https://greennetwork.id/author/abulmuamar/
    Memutus Lingkaran Setan Kekerasan dalam Pendidikan Dokter Spesialis
  • Abul Muamar
    https://greennetwork.id/author/abulmuamar/
    Pemerintah Luncurkan Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional

Continue Reading

Sebelumnya: Resilient Coffee: Mendukung Petani Kopi Indonesia di Tengah Perubahan Iklim
Berikutnya: 4 Tips Mengolah Sampah Plastik Menjadi Benda Bernilai

Baca Kabar dan Cerita Lainnya

mobil angkutan berwarna biru tanpa penanda rute di kelokan jalan dekat pos polisi lalu lintas Harapan akan Perbaikan Sistem Transportasi Umum di Kota Serang
  • Konten Komunitas
  • Unggulan

Harapan akan Perbaikan Sistem Transportasi Umum di Kota Serang

Oleh Ajeng Rizkasari
28 Agustus 2025
Topi wisuda melambangkan semakin banyaknya lulusan yang menghadapi kesempatan kerja terbatas Sarjana Berlimpah, Cari Kerja Susah: Mengulik Isu Pengangguran Sarjana di Negara Berkembang
  • Ikhtisar
  • Unggulan

Sarjana Berlimpah, Cari Kerja Susah: Mengulik Isu Pengangguran Sarjana di Negara Berkembang

Oleh Sukma Prasanthi
28 Agustus 2025
seorang pedagang bertopi caping mendorong gerobak menyeberangi jalan. Mengatasi Heat Stress Okupasional Demi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja
  • Eksklusif
  • Kabar
  • Unggulan

Mengatasi Heat Stress Okupasional Demi Keselamatan dan Kesehatan Pekerja

Oleh Dinda Rahmania
27 Agustus 2025
foto udara KEK Mandalika; terdapat jalanan dan beberapa bangunan di wilayah yang terhubung pantai dan laut Sisi Kelam Pengembangan Pariwisata di Kawasan KEK Mandalika
  • Eksklusif
  • Ikhtisar
  • Unggulan

Sisi Kelam Pengembangan Pariwisata di Kawasan KEK Mandalika

Oleh Seftyana Khairunisa
26 Agustus 2025
pasangan lanjut usia menggunakkan masker Polusi Udara dan Risiko Demensia yang Lebih Tinggi
  • Eksklusif
  • Kabar
  • Unggulan

Polusi Udara dan Risiko Demensia yang Lebih Tinggi

Oleh Dinda Rahmania
26 Agustus 2025
Sekelompok laki-laki muda berfoto bersama seorang ibu di depan sebuah rumah. Kisah Mpu Uteun dan Ekofeminisme di Aceh
  • Konten Komunitas
  • Unggulan

Kisah Mpu Uteun dan Ekofeminisme di Aceh

Oleh Naufal Akram
25 Agustus 2025

Tentang Kami

  • Surat CEO GNA
  • Tim In-House GNA
  • Jaringan Penasihat GNA
  • Jaringan Author GNA
  • Panduan Artikel Opini GNA
  • Panduan Konten Komunitas GNA
  • Layanan Penempatan Siaran Pers GNA
  • Program Magang GNA
  • Pedoman Media Siber
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
© 2021-2025 Green Network Asia