Krisis Agensi Reproduksi dan Beratnya Ongkos Membangun Keluarga Hari Ini
Foto: Mike Scheid di Unsplash.
Sebagai makhluk yang mendambakan keterhubungan, manusia cenderung menemukan ikatan terdekat dalam keluarga. Namun, pembahasan tentang membangun keluarga hari ini semakin kompleks di tengah berbagai krisis, memunculkan pertanyaan tentang kendali atas keputusan dan hak reproduksi individu.
Krisis Agensi Reproduksi
Membangun keluarga telah menjadi, dan sejak lama dianggap sebagai, ritus peralihan tradisional bagi banyak orang. Ketika mencapai usia tertentu, banyak orang diharapkan menemukan pasangan hidup, menikah, dan memiliki anak. Bagi sebagian orang, membangun keluarga adalah pilihan; namun bagi sebagian lainnya, itu menjadi semacam kebutuhan untuk bertahan hidup. Namun, pilihan tersebut kini menjadi privilese yang hanya dapat dinikmati segelintir orang, terutama di tengah dinamika populasi yang terus berubah.
Populasi global mencapai 8 miliar jiwa pada 2022, angka besar yang kerap dipandang sebagai tanda kelebihan populasi. Namun, pada saat yang sama, sejumlah negara justru mengalami penurunan tingkat fertilitas. Korea Selatan, misalnya, termasuk yang terendah, dengan tingkat fertilitas 0,80 pada 2026, jauh di bawah angka 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil tanpa migrasi.
Di tengah kompleksitas ini, laporan UNFPA menyatakan bahwa kita selama ini mungkin melihat masalah yang keliru. Laporan tersebut menyoroti adanya krisis agensi reproduksi, yakni kondisi ketika individu tidak memiliki kendali untuk membuat pilihan bebas dan terinformasi terkait reproduksi. Agensi reproduksi tidak hanya berarti mampu berkata “ya” atau “tidak” tanpa paksaan, tetapi juga membutuhkan berbagai kondisi yang memungkinkan seseorang benar-benar memiliki pilihan.
Ketidaksesuaian Sistemik
Laporan tersebut merujuk pada survei online yang dilakukan oleh UNFPA dan YouGov terhadap lebih dari 14.000 orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan di 14 negara.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar orang menginginkan dua anak. Namun, proporsi yang signifikan mengaku harus mengubah aspirasi reproduksi mereka seiring kondisi hidup. Perubahan ini bisa ke arah memiliki lebih banyak anak, atau justru menerima kenyataan untuk memiliki lebih sedikit.
Perubahan ini jarang semata-mata pilihan pribadi. Narasi populer kerap membingkai isu populasi sebagai sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada keputusan perempuan. Padahal, perempuan sering kali tidak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan pilihan akibat stigma sosial, tekanan, dan ekspektasi yang melekat pada peran mereka sebagai ibu, terlepas bahwa akses terhadap kontrasepsi dan layanan fertilitas semakin luas.
Baik laki-laki maupun perempuan memiliki aspirasi untuk menjadi orang tua, dan aspirasi tersebut dapat berubah seiring waktu. Laporan tersebut menyoroti adanya ketidaksesuaian antara faktor sistemik dan aspirasi individu, yang gagal menyediakan rasa aman bagi orang untuk membangun keluarga. Dengan kata lain, keinginan untuk memiliki anak sering kali tidak terwujud karena berbagai hambatan, baik dalam mencegah maupun mewujudkan kehamilan.
Beratnya Ongkos Membangun Keluarga
Hambatan terbesar adalah ekonomi. Sebanyak 39% dari 10.000 responden menyebut keterbatasan finansial sebagai faktor yang memengaruhi keputusan reproduksi mereka. Sejalan dengan itu, pengangguran dan ketidakpastian pekerjaan (21%) serta masalah perumahan (19%) juga menjadi penghalang untuk memiliki lebih banyak anak.
Faktor kesehatan juga berperan penting, mengingat kesehatan reproduksi pada dasarnya adalah isu kesehatan. Sekitar 24% responden melaporkan berbagai kendala kesehatan, seperti kesulitan untuk hamil, keterbatasan layanan kesehatan, dan kondisi kesehatan umum yang buruk. Aspek ini juga mencakup ketersediaan layanan aborsi yang aman dan mudah diakses untuk kehamilan yang tidak direncanakan, yang di beberapa negara sangat bergantung pada kebijakan hukum.
Selain itu, kekhawatiran terhadap masa depan yang dibayangi oleh krisis lingkungan dan konflik membuat 19% responden memilih untuk memiliki lebih sedikit anak. Di sisi lain, lebih banyak perempuan (13%) dibandingkan laki-laki (8%) melaporkan beban tanggung jawab pengasuhan yang tidak seimbang sebagai hambatan untuk mencapai jumlah anak yang diinginkan.
Mewujudkan Agensi Reproduksi
Memahami faktor eksternal yang memengaruhi keputusan reproduksi akan membantu kita melihat isu ini sebagai persoalan sistemik, bukan sekadar pilihan individu. Agensi reproduksi berarti memberi individu kekuatan untuk memutuskan apakah mereka ingin memiliki anak atau tidak, serta berapa jumlahnya, tanpa tekanan untuk menaikkan angka fertilitas atau menekan pertumbuhan populasi. UNFPA menegaskan bahwa hal ini dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang, baik bagi individu maupun keluarga dan komunitas mereka.
Oleh karena itu, intervensi sistemik sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan individu menjalankan agensi reproduksinya. Kebijakan yang memperluas akses ke layanan kesehatan, memperkuat kondisi ekonomi melalui peluang kerja dan pendapatan yang stabil, serta memastikan perlindungan dari ancaman krisis iklim adalah kuncinya. Yang tak kalah penting, informasi tentang reproduksi harus dapat diakses secara luas agar individu mampu membuat keputusan yang terinformasi tentang tubuh mereka, serta mendorong perubahan hukum bila diperlukan.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Sungai Kalimalang di Bawah Tekanan Industri di Bekasi: Cerita Mereka yang Terdampak Pencemaran Limbah
Mengukur Keberlanjutan Perbankan dengan Lebih Baik
Mengintegrasikan Desain Adat dan Rekayasa Modern untuk Pengolahan Air Berkelanjutan
Mewujudkan Transisi Energi yang Berkeadilan dengan Pendekatan Interseksional
Pembiayaan yang Meregenerasi Bumi
Mengakhiri Kekerasan Berbasis Gender di Sekolah