Laporan UNEP dan ISWA Ungkap Pengelolaan Sampah Global yang Tidak Memadai
Foto: Nathan Cimai di Unsplash.
Mengatasi perubahan iklim, penurunan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan planet yang berkelanjutan. Sayangnya, pertumbuhan populasi dan produksi yang tidak bertanggung jawab telah memperparah persoalan sampah dan menimbulkan krisis. Laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Asosiasi Limbah Padat Internasional (ISWA) mengungkap bagaimana dampak sampah global terhadap berbagai aspek dan merekomendasikan langkah-langkah penting yang dapat dilakukan.
Sampah dan Krisis
Sampah merupakan salah satu faktor utama penyebab krisis yang terjadi di Bumi. Seiring peningkatan konsumsi, tumpukan sampah pun meningkat. Lebih dari 2 miliar ton sampah perkotaan dihasilkan setiap tahunnya, dan diperkirakan setidaknya sepertiga dari sampah tersebut tidak diproses dengan cara yang ramah lingkungan.
Sebagian sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan umumnya terkelola atau dibakar, sehingga menimbulkan polusi udara yang menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat. Selain itu, limbah padat dapat berdampak pada keanekaragaman hayati karena mencemari saluran air dan mengganggu ekosistem.
Laporan Pengelolaan Sampah Global 2024
Laporan UNEP dan ISWA mengungkap bahwa timbulan sampah dan pengolahan sampah yang tidak memadai semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut laporan tersebut, pertumbuhan populasi dan peningkatan konsumsi mendorong peningkatan jumlah sampah perkotaan (MSW). Sampah perkotaan berasal dari rumah tangga, pengecer, usaha kecil, penyedia layanan publik, dan sumber serupa lainnya.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa sampah perkotaan akan terus meningkat dari 2,1 miliar ton menjadi 3,8 miliar ton per tahun antara 2020 hingga 2050. Diperkirakan, sebagian besar sampah tersebut tidak akan terolah, dengan kurang dari 1 miliar ton yang didaur ulang atau diubah menjadi energi pada periode yang sama.
Selain itu, pertumbuhan besar-besaran dalam produksi sampah diperkirakan akan terjadi di negara-negara berkembang pesat. Proyeksi menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur akan mengalami pertumbuhan produksi sampah tertinggi, meningkat dari 600 juta ton per tahun pada tahun 2020 menjadi lebih dari 1 miliar ton per tahun pada tahun 2050, terutama jika tindakan segera tidak dilakukan.
Laporan tersebut juga merinci dampak finansial dari sampah, dengan hampir $500 miliar (sekitar Rp7.758 triliun) dihabiskan untuk pengelolaan sampah perkotaan pada tahun 2020. Di sisi lain, laporan tersebut menyatakan bahwa daur ulang yang tepat dapat menghemat hingga $1135 miliar (sekitar Rp2.094 triliun) per tahun.
Perlu Komitmen Bersama
Tidak ada pendekatan yang universal dalam kebijakan pengelolaan sampah karena setiap wilayah memiliki konteks sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berbeda-beda. Namun, kuncinya adalah setiap pemangku kepentingan memainkan perannya masing-masing.
Pemerintah pusat dan pemerintah kota harus memprioritaskan pengurangan sampah dan mendukung efisiensi sumber daya. Digitalisasi dan data, penerapan prinsip transisi yang adil dalam pengambilan keputusan, dan pengembangan keahlian nasional yang disesuaikan dengan konteks spesifik masing-masing kawasan sangatlah penting untuk memastikan pengelolaan sampah yang paling cocok.
Selain itu, produsen dan pengecer harus menjalankan tanggung jawab mereka dengan melakukan transisi ke model bisnis sirkular dan berkelanjutan. Sebagai konsumen, kita semua dapat berkontribusi dengan memilih opsi yang lebih berkelanjutan di pasar secara bijak, serta mendorong permintaan akan produk dan layanan berkelanjutan untuk mendukung perubahan perilaku individu yang membantu mencapai dunia tanpa sampah.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Bagaimana Program PLTS 100 GW dapat Mendukung Ketahanan Energi
Kontaminasi PFAS di Amerika Serikat dan Desakan Petani ke Pemerintah
Mengatasi Kemiskinan Waktu di Tengah Meningkatnya Isu Kesehatan Mental
Kemunduran Besar dalam Pencapaian SDGs di Asia Pasifik
Penguatan Tata Kelola Data Geospasial untuk Mendukung Pembangunan
Menelusuri Dampak Olimpiade terhadap Lingkungan