Program BASAMO: Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan untuk Anak dan Masyarakat Riau
Pencanangan program BASAMO oleh WWF-Indonesia dan Save the Children Indonesia. | Foto: WWF Indonesia.
Riau dikenal sebagai salah satu daerah dengan sumber daya alam yang kaya. Namun, pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan telah mengancam ekosistem dan keanekaragaman hayati di wilayah ini. Tidak hanya itu, operasi perkebunan di wilayah ini juga sering melibatkan pekerja anak. Merespons keadaan tersebut, WWF-Indonesia dan Save the Children Indonesia mencanangkan program Basamo sebagai salah satu upaya untuk menjaga keanekaragaman hayati melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan bagi anak dan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pekerja Anak di Riau
Riau memiliki daratan seluas 8,9 juta hektare, dengan 3,49 juta hektare di antaranya merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit. Wilayah ini mengalami deforestasi hutan hingga 20 ribu hektare sepanjang tahun 2023. Hal ini terjadi karena tingginya permintaan lahan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit yang menjadi salah satu pemicu tingginya angka konversi lahan atau hutan, termasuk di Kabupaten Kuantan Singingi.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit ini menjadi penyebab utama deforestasi dan kerusakan lingkungan, yang dapat merugikan ekosistem lokal, keanekaragaman hayati, dan sumber daya air. Tak jarang aktivitas pembukaan lahan juga terjadi di kawasan konservasi. Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Riau ini juga banyak dilakukan di lahan gambut, yang merupakan salah satu ekosistem dengan kerentanan tinggi.
Selain itu, operasi perkebunan di wilayah ini juga sering melibatkan pekerja anak. Hal ini dapat menghalangi anak dari pendidikan dan membatasi hak-hak mendasar mereka. Beberapa dari mereka juga diselundupkan melintasi perbatasan dan hidup tanpa kewarganegaraan, membuat mereka rentan menjadi korban eksploitasi, kekerasan, perdagangan manusia, pelecehan seksual, dan perbudakan. Selain itu, sebagian besar pekerja anak tersebut juga berpenghasilan rendah, atau bahkan sama sekali tidak dibayar.
Program BASAMO
Pada Desember 2023, WWF-Indonesia dan Save the Children Indonesia meluncurkan program BASAMO (Build and Empower Riau Children and Community for Sustainable Agriculture and Impactful Actions on Education in Kuantan Singingi). Program ini bertujuan untuk menjaga keanekaragaman hayati melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan anak serta masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Program Basamo ini juga bertujuan untuk menghindarkan anak-anak dari praktik komoditas tidak berkelanjutan, seperti keterlibatan menjadi buruh anak, sehingga anak bisa terbebas dari masalah eksploitasi, kekerasan, dan pengurangan akses belajar. “Dengan melibatkan anak, diharapkan mereka memahami pentingnya menjaga lingkungan untuk generasi mendatang,” kata Kurwiany Ukar, Interim CEO Save the Children Indonesia.
Program ini memberi pendampingan kepada masyarakat petani karet alam untuk melakukan praktik pertanian karet secara berkelanjutan, dengan penggunaan teknologi modern, penyediaan akses terhadap perbankan untuk mendapatkan kredit, dan penerapan GAP (Good Agricultural Practices). Proyek ini diimplementasikan di tiga desa di Kabupaten Kuantan Singingi, yaitu Desa Pangkalan Indarung (Kecamatan Hulu Singingi), Desa Lubuk Ambacang (Kecamatan Hulu Kuantan), dan Desa Teluk Beringin (Kecamatan Gunung Toar).
“Pelestarian keanekaragaman hayati sangat penting dilakukan melalui perubahan perilaku, dan dilakukan sejak usia dini melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Kami meyakini program ini dapat menjawab persoalan di atas melalui beberapa aktivitas yang berdampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan di Kabupaten Kuantan Singingi,” kata Aditya Bayunanda, CEO WWF-Indonesia.
Perlunya Dukungan
Pendidikan pembangunan berkelanjutan penting untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, termasuk masalah pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan dan pekerja anak. Untuk itu, diperlukan implementasi kebijakan yang mendukung prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan perlindungan terhadap anak-anak. Pemerintah harus aktif merancang dan menerapkan kebijakan yang mempromosikan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, melindungi hak-hak anak, serta menegakkan hukum terhadap praktik pekerja anak. Langkah ini mesti didukung oleh kesadaran dan partisipasi aktif dari semua pihak, termasuk industri dan masyarakat sipil.
Editor: Abul Muamar

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit