Meningkatkan Partisipasi Perempuan di Bidang STEM
Foto oleh Chokniti Khongchum di Pexels
Perempuan memegang peran penting untuk mencapai kemajuan dalam pembangunan berkelanjutan. Mendorong partisipasi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk dalam sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan. Namun sayangnya, peran perempuan dalam bidang STEM secara global, termasuk di Indonesia, masih tergolong rendah.
Kesenjangan Gender di Bidang STEM
Kesenjangan partisipasi perempuan dalam STEM terjadi di lingkungan pendidikan maupun lingkungan kerja profesional. Laporan Global Gender Gap 2023 oleh World Economic Forum mengungkap bahwa jumlah lulusan mahasiswa perempuan di bidang STEM masih kecil. Misalnya, lulusan perempuan di bidang teknik hanya 24,92% dan bidang teknologi komunikasi 34.67%. Jika dibandingkan dengan bidang-bidang sosial-humaniora, akan terlihat kesenjangannya. Misalnya, lulusan perempuan di bidang Bisnis, Administrasi, dan Hukum mencapai 57,93%, dan Ilmu Sosial dan Jurnalisme sebesar 50,56%.
Sementara itu, di dunia kerja, jumlah peneliti perempuan di seluruh Indonesia di bidang sains hanya berkisar di angka 45%. Periset sains perempuan yang ada di Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) jumlahnya bahkan baru mencapai 35%. Sementara itu, perempuan yang bekerja di bidang teknologi angkanya hanya sekitar 22%.
Minimnya partisipasi perempuan di bidang STEM dapat berdampak pada hilangnya potensi kreativitas, inovasi, dan perspektif yang beragam dalam pengembangan teknologi dan solusi ilmiah. Dampaknya akan meluas ke berbagai sektor, termasuk penelitian, industri, dan layanan publik, yang dapat menghambat kemajuan sosial dan ekonomi secara keseluruhan. Ketimpangan gender dalam bidang STEM juga dapat memperkuat ketidaksetaraan dalam hal kesempatan, penghasilan, dan peran dalam pembangunan masyarakat. Hal ini dapat mengakibatkan lahirnya kebijakan yang kurang memperhatikan kebutuhan dan aspirasi perempuan, serta pelayanan publik yang kurang inklusif.
Hambatan
Penelitian UNESCO di tiga negara, yaitu Indonesia, Kamboja, dan Vietnam, mengungkap beberapa faktor yang menghambat partisipasi perempuan di bidang STEM, yang dikelompokkan ke dalam aspek struktural, psikologis, dan sosiokultural.
Faktor Struktural
- Sistem pendidikan yang ada saat ini kurang menyediakan pembelajaran STEM berkualitas tinggi yang dapat merangsang minat anak-anak dan remaja perempuan terhadap bidang STEM.
- Terbatasnya akses terhadap peralatan penunjang studi STEM, seperti perangkat digital dan alat-alat laboratorium.
- Rendahnya akses terhadap pendidikan STEM yang berkualitas di banyak daerah, terutama di luar Pulau Jawa dan Bali.
- Terbatasnya infrastruktur dan kesenjangan digital yang membuat perempuan lebih sulit untuk mengakses informasi berkaitan dengan STEM.
Faktor Psikologis
- Banyak perempuan merasa bahwa mereka tidak punya kapasitas untuk mengenyam pendidikan atau menjalani karier di bidang STEM.
- Banyak perempuan mengikuti stereotip gender tentang apa yang dianggap pantas secara sosial bagi perempuan.
Faktor sosiokultural
- Norma dan bias gender membuat anak perempuan percaya bahwa peran utamanya ada di rumah sehingga menghambat kesempatannya untuk menempuh pendidikan dan karier di bidang STEM.
- Terbatasnya dukungan baik dukungan finansial maupun moral, termasuk dari keluarga terhadap perempuan yang berpartisipasi di bidang STEM.
Meningkatkan Partisipasi Perempuan di Bidang STEM
Atas temuan tersebut, UNESCO memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang STEM, terutama dari kalangan remaja, sebagai berikut:
- Mengembangkan pendekatan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mengurangi kesenjangan dalam pendidikan STEM.
- Mengembangkan strategi komunikasi guna mendukung aspirasi karier perempuan di bidang STEM. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong dialog bersama orang tua untuk mengurai stereotip gender terkait STEM dan memperluas pemahaman akan peluang karier di bidang tersebut. Penguatan kapasitas guru juga diperlukan untuk membimbing siswa yang ingin menempuh pendidikan dan karier di bidang STEM.
- Meningkatkan pendidikan STEM melalui pengembangan infrastruktur dan fasilitas, memperkuat kurikulum, menghapus stereotip gender dalam materi pembelajaran, dan memperluas kesempatan belajar praktis di luar lingkungan pendidikan formal.
- Meningkatkan minat dan motivasi perempuan untuk melanjutkan pendidikan dan karier di bidang STEM melalui dukungan finansial atau beasiswa.
Pada akhirnya, meningkatkan partisipasi perempuan di bidang STEM membutuhkan pendidikan yang inklusif dengan memastikan akses perempuan terhadap pendidikan STEM yang berkualitas di semua tingkatan pendidikan. Selain itu, dibutuhkan kebijakan yang dapat mendukung fleksibilitas kerja terutama bagi perempuan yang telah menjadi ibu agar tetap dapat mengakses peluang karier di bidang STEM. Tidak kalah penting, investasi yang lebih besar untuk riset dan inovasi bidang STEM perlu didorong untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dan aspirasi perempuan.
Editor: Abul Muamar
Nisa is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She holds a bachelor's degree in International Relations from Gadjah Mada University. She has particular interest in research and journalism on social and environmental issues surrounding human rights.

Membiarkan Hutan Pulih Sendiri sebagai Pendekatan yang Lebih Hemat Biaya
Membingkai Ulang Tata Kelola di Era Kebangkrutan Air
PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit