Survei Ungkap Persepsi Pakar tentang Berbagai Isu dan Pemimpin Keberlanjutan
Foto: Freepik.
Selama bertahun-tahun, dunia telah berusaha memitigasi berbagai krisis. Pemerintah, bisnis, dan organisasi, semuanya memiliki peran khusus dalam mewujudkan keberlanjutan (sustainability). Dalam hal ini, peran pemimpin keberlanjutan (sustainability leaders) menjadi sangat penting untuk membuat langkah yang berarti.
Survei GlobeScan-SustainAbility: Pemimpin Keberlanjutan 2023 oleh ERM membagikan wawasan tentang persepsi pakar global tentang isu prioritas dan para pemimpin keberlanjutan. Survei ini dilakukan terhadap lebih dari 500 profesional keberlanjutan dari perusahaan, pemerintah, akademisi, dan sektor nirlaba di 63 negara.
Tantangan & Terobosan
Beberapa krisis yang melanda dunia dinilai mendesak untuk segera ditangani oleh para pakar keberlanjutan. Menurut laporan tersebut, perubahan iklim dianggap sebagai masalah yang paling mendesak (93%), diikuti oleh penurunan keanekaragaman hayati (86%), kelangkaan air (86%), deforestasi (86%), dan kemiskinan (80%). Daftar lengkapnya mencakup isu-isu penting lain seperti akses ke pendidikan berkualitas, masalah sampah, dan ketimpangan ekonomi.
Selain isu-isu tersebut, laporan tersebut juga menyoroti pendapat para ahli tentang inisiatif dan perkembangan keberlanjutan paling signifikan antara tahun 2022 dan 2023. Undang-undang keberlanjutan baru menempati urutan teratas dengan 25% suara pakar, seperti Undang-Undang Pengurangan Inflasi Amerika Serikat dan Kesepakatan Hijau Uni Eropa. Standar pengungkapan (13%) dan kesepakatan keanekaragaman hayati COP15 (10%) menempati posisi kedua dan ketiga sebagai perkembangan paling signifikan.
Di Asia-Pasifik, para pemimpin keberlanjutan memandang undang-undang dan tindakan bisnis menuju keberlanjutan (14%) sebagai perkembangan positif yang paling signifikan, diikuti oleh standar pengungkapan keberlanjutan (11%) dan pengembangan terkait energi terbarukan dan karbon (10%).
Pemimpin Keberlanjutan
Mencapai kemajuan berarti bagi pembangunan berkelanjutan merupakan tanggung jawab bersama. Selain pemerintah, bisnis dan organisasi juga mesti meningkatkan upaya keberlanjutan dan berkolaborasi untuk mencapai dampak yang lebih besar.
Laporan tersebut mengidentifikasi beberapa perusahaan dan organisasi yang dianggap sebagai pemimpin keberlanjutan oleh para ahli. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap persepsi ini antara lain menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari model bisnis (31%), memprioritaskan dampak dan tindakan nyata (23%), serta menetapkan tujuan dan target ambisius (16%).
Dengan pertimbangan ini, perusahaan pakaian outdoor Amerika Patagonia menjadi yang paling dikenal atas upaya keberlanjutannya, menerima suara dari 32% pakar. Unilever (29%), IKEA (10%), Natura & Co (9%), dan Microsoft (6%) menyusul di posisi dua hingga lima.
NGO juga diakui sebagai bagian dari pemimpin keberlanjutan. Para ahli memilih kolaborasi dan keterlibatan (37%), komitmen jangka panjang (27%), dan skala inisiatif (22%) sebagai tiga aspek penentu utama kepemimpinan NGO.
Meningkatkan Keberlanjutan
Dunia terus berubah dan akan menghadirkan tantangan baru dalam upaya keberlanjutan kita. Para pemimpin keberlanjutan mesti terus meningkatkan agenda berkelanjutan melalui inisiatif multi-sektoral dan partisipasi multi-stakeholder. Para ahli melihat masalah keberlanjutan sebagai prioritas tinggi jangka panjang, dan perusahaan, pemerintah, dan NGO mesti mengambil lebih banyak tindakan untuk mengatasinya. Diperlukan upaya yang berkesinambungan, lebih baik, dan lebih berani untuk memastikan bahwa kita dapat mencapai tujuan bersama, yakni menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Madina adalah Asisten Manajer Publikasi Digital di Green Network Asia. Ia adalah lulusan Program Studi Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Madina memiliki 3 tahun pengalaman profesional dalam publikasi digital internasional, program, dan kemitraan GNA, khususnya dalam isu-isu sosial dan budaya.

Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja
Mengungkap Potensi Risiko Teknologi di Tengah Krisis Global
Memperkuat Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
Menilik Solusi Potensial Pengelolaan Sampah menjadi Metanol (Waste-to-Methanol)
Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru