Bagaimana Perilaku Manusia Menjadi Mesin Utama Aksi Keberlanjutan
Ilustrasi: Irhan Prabasukma.
Umat manusia berada pada momen yang menentukan. Tiga krisis planet—yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi—terus memburuk baik dalam hal skala maupun urgensinya. Di tengah tantangan sebesar ini, refleks yang muncul sering kali adalah mencari terobosan teknologi dan perubahan kebijakan besar. Namun, ada dimensi yang jauh lebih dekat dan mendasar, yakni kekuatan kumulatif dari perilaku manusia. Sains, diplomasi, dan inovasi memang tak tergantikan, tetapi semuanya tidak akan mencapai dampak yang diharapkan tanpa masyarakat yang bersedia menginternalisasi dan menjalankan perubahan.
Transformasi yang bermakna dimulai ketika individu dan masyarakat menyadari bahwa perilaku mereka memiliki kekuatan untuk mendorong sistem agar berubah. Ini menuntut kesediaan untuk mempertanyakan norma yang ada dan memperkuat tanggung jawab pribadi. Hal ini juga menuntut kita untuk melihat melampaui diri sendiri dan mengakui pengaruh besar ekspektasi sosial terhadap hasil kolektif.
Perilaku Manusia dalam Tata Kelola Lingkungan
Konsep ini juga berlaku dalam tata kelola lingkungan. Perilaku manusia memiliki dampak besar terhadap planet. Nilai, pilihan, dan pola tindakan membentuk diskursus publik serta memungkinkan kerangka kebijakan dan investasi yang menyusul—baik ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya. Di tengah ketidakpastian, orang cenderung menoleh satu sama lain dan kepada pemimpin yang dipercaya, sehingga wawasan tentang perilaku menjadi komponen penting dalam tata kelola lingkungan. Perjanjian lingkungan membutuhkan legitimasi publik; aksi iklim menuntut partisipasi sosial; dan adaptasi serta mitigasi bergantung pada pemahaman, kepercayaan, dan keterlibatan masyarakat. Tanpa elemen-elemen ini, bahkan strategi paling maju pun akan sulit mengakar.
Tentu, disiplin ilmiah tetap menjadi tulang punggung dalam hal ini. Klimatolog, ekolog, insinyur, dan ahli biologi kelautan menyediakan dasar empiris bagi pengambilan keputusan. Selanjutnya, pakar kebijakan dan diplomat menerjemahkan temuan tersebut ke dalam kerangka kerja untuk membimbing negara dan institusi.
Namun, efektivitas upaya-upaya ini pada akhirnya bertumpu pada satu kebenaran sederhana: ambisi lingkungan hanya menjadi kenyataan ketika orang memilih untuk mengintegrasikan perilaku berkelanjutan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ketika perilaku manusia selaras dengan bukti ilmiah, kemajuan akan lebih cepat; dan ketika tidak, momentum akan terhenti.
Studi Kasus: Abu Dhabi
Pengalaman Abu Dhabi memberikan bukti kuat tentang apa yang mungkin terjadi ketika perilaku manusia menjadi pilar utama strategi lingkungan. Ketika stok ikan turun hingga hanya 8% dari tingkat berkelanjutan pada 2018, krisis ini menuntut lebih dari sekadar penilaian ilmiah. Diperlukan keterlibatan mendalam dengan para nelayan, yang partisipasinya sangat penting bagi solusi apa pun.
Melalui dialog, intervensi perilaku yang dirancang bersama, penguatan pemantauan, dan tanggung jawab bersama, stok ikan berkelanjutan meningkat hingga 100%. Kasus ini merupakan salah satu pemulihan tercepat yang pernah didokumentasikan secara global. Lebih jauh, ini menunjukkan bahwa perilaku manusia, yang didukung sains dan kebijakan, dapat mengubah arah ekosistem.
Perubahan serupa terjadi setelah penerapan Kebijakan Plastik Sekali Pakai Abu Dhabi. Apa yang awalnya merupakan langkah regulasi dengan cepat berkembang menjadi gerakan kolektif. Komunitas mengadopsi alternatif yang dapat digunakan kembali, dan para peritel menyesuaikan operasional mereka. Secara keseluruhan, budaya akuntabilitas yang lebih luas mulai terbentuk.
Pola perilaku ini menghasilkan dampak yang terukur. Sejak larangan diberlakukan pada 2022, sebanyak 490 juta kantong plastik sekali pakai berhasil dihindari, dengan penurunan 95% penggunaan kantong belanja di toko bahan pangan, dan dampak lainnya. Selain itu, pemasangan 170 Reverse Vending Machines dan Smart Bins mendukung pemulihan 267 juta botol plastik sekali pakai sejak 2023. Secara keseluruhan, perubahan ini mencegah emisi gas rumah kaca sebesar 116.000 ton—setara dengan melenyapkan 185.620 mobil dari jalan dalam satu tahun.
Dari Perilaku Manusia menuju Kemajuan Nyata
Hasil-hasil tersebut menunjukkan pola yang konsisten. Perilaku manusia itu kuat, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Ketika individu dibekali pengetahuan, disediakan alternatif yang layak, dan didukung oleh contoh nyata komitmen bersama dari individu maupun korporasi, mereka akan menyesuaikan perilaku mereka. Ketika masyarakat menyesuaikan perilaku, pasar akan merespons dan kebijakan memperoleh momentum baru. Dengan cara ini, perilaku menjadi pemantik sekaligus mesin kemajuan pelestarian lingkungan.
Oleh karena itu, perhatian terhadap dimensi manusia dalam aksi lingkungan sangat diperlukan. Sains mutakhir akan terus memperluas apa yang mungkin. Kebijakan akan terus memandu apa yang harus dilakukan. Namun, keberhasilan keduanya bergantung pada kesediaan masyarakat untuk menerapkan pengetahuan dalam praktik. Lebih dari itu, kesediaan ini harus disertai intervensi yang memungkinkan dan memperhitungkan realitas interseksional masyarakat agar transformasi yang nyata dan bermakna dapat terjadi.
Singkatnya, perilaku manusia tetap menjadi alat paling kuat dan paling dekat yang kita miliki. Dengan dipandu oleh sains, didukung secara inklusif oleh kebijakan, dan diperkuat oleh norma sosial, perilaku manusia akan menjadi kekuatan yang mampu membentuk ulang sistem dan memperkuat ketahanan lintas generasi, demi manusia dan planet Bumi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Shaikha adalah Sekretaris Jenderal Environment Agency – Abu Dhabi. Ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Global Future Council on Human Science of Environmental Action di World Economic Forum.

Meningkatkan Peran Komunitas Lokal dalam Mengatasi Masalah Sampah Laut
Menilik Dampak Masifnya Pembangunan Pusat Data
Menyoal Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual yang Tidak Ditanggung Negara
Memprioritaskan Pembiayaan untuk Alam demi Ekosistem yang Sehat dan Tangguh
Menilik Arah Baru Kebijakan Pariwisata Indonesia
Pergeseran Sistemik untuk Mewujudkan Lingkungan Gizi Sekolah yang Sehat