Meningkatkan Kesiapsiagaan dalam Menghadapi El Niño Kuat di Tengah Krisis Global
Foto: Md. Hasanuzzaman Himel di Unsplash.
Cuaca memengaruhi hampir setiap aspek kehidupan, termasuk makanan yang tersaji di piring kita. Di tengah berbagai krisis global yang masih berlangsung, pola iklim diperkirakan akan semakin ekstrem dengan hadirnya siklus El Niño kuat pada pertengahan 2026 yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dunia. Terkait hal ini, para pemimpin dunia perlu meningkatkan kesiapsiagaan pada sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan iklim.
Prakiraan El Niño Kuat
“El Niño bukan lagi sekadar berada di ambang pintu, melainkan sudah masuk ke dalam rumah dan meningkatkan suhu. Dan ini baru pemanasan,” ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Pembaruan iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Juli menunjukkan bahwa El Niño akan terus menguat secara bertahap sepanjang Agustus hingga Oktober 2026.
El Niño dan pasangannya, La Niña, merupakan fase-fase yang membentuk El Niño-Southern Oscillation (ENSO), sebuah fenomena iklim kuat yang memicu perubahan suhu dan cuaca di seluruh dunia. Keduanya memiliki dampak yang saling berlawanan. Angin pasat—yakni angin yang bertiup dari timur ke barat di sepanjang garis khatulistiwa—melemah selama El Niño, tetapi menguat ketika La Niña terjadi. La Niña menyebabkan suhu permukaan laut lebih rendah dari rata-rata, sedangkan El Niño menghangatkan suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.
Dampak El Niño tidak berhenti di permukaan laut. Fenomena ini meningkatkan suhu rata-rata global dan biasanya mencapai pengaruh paling nyata sekitar satu hingga dua tahun setelah mulai berkembang. Siklus El Niño 2023–2024 tercatat sebagai salah satu dari lima yang terkuat sepanjang sejarah pengamatan, dengan suhu permukaan laut mencapai puncak sekitar 2,0°C di atas rata-rata periode 1991–2020. Dikombinasikan dengan perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca, El Niño kuat turut menjadikan tahun 2024 sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu global sekitar 1,55°C di atas tingkat praindustri.
El Niño tahun 2026 bahkan mulai berkembang sejak Mei. Berdasarkan prakiraan multi-model ensemble, WMO memperkirakan suhu permukaan laut dapat melampaui 2,9°C, lebih tinggi dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Badan PBB tersebut juga memprediksi bahwa intensitas El Niño akan mencapai puncaknya sekitar November.
Dari Perubahan Cuaca hingga Kelaparan Global
El Niño dapat memicu kekeringan di sebagian kawasan dan curah hujan ekstrem di kawasan lainnya. Keduanya sama-sama mengancam ketahanan pangan.
Pada siklus 2015–2016, El Niño memicu kekeringan terparah dalam 35 tahun di Afrika bagian selatan. Ainembabazi, Rusike, dan Keizire (2018) menemukan bahwa kekeringan tersebut menyebabkan hasil panen jagung—komoditas pangan utama di kawasan itu—merosot tajam. Botswana, yang sebelumnya telah mengalami produksi jagung rendah, bahkan mencatat penurunan hasil panen hingga 78%.
Turunnya produktivitas pertanian memicu kerawanan pangan sekaligus tekanan ekonomi, terutama bagi petani kecil. Negara-negara terdampak akhirnya harus mengandalkan cadangan pangan atau meningkatkan impor, yang pada gilirannya mendorong kenaikan harga. Di sisi lain, rendahnya hasil panen juga menyebabkan berkurangnya komoditas ekspor dari negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara yang menyumbang sekitar 80% ekspor beras dunia.
Sementara itu, fenomena yang sama juga dapat memicu hujan ekstrem dan banjir di wilayah lain, terutama di sebagian Amerika Selatan dan Afrika Timur. Di Peru, El Niño yang berlangsung antara Januari hingga Maret 2017 merusak lebih dari 60.000 hektare lahan pertanian dan membuat sekitar 18.000 hektare di antaranya tidak lagi dapat digunakan. Para ilmuwan juga telah memperingatkan bahwa El Niño kuat tahun ini mengancam sektor perikanan Peru, karena meningkatnya suhu laut menyebabkan penurunan stok ikan.
Krisis yang Bertumpuk
Meskipun El Niño telah lama dipahami para ilmuwan, proyeksi El Niño kuat kali ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena terjadi di tengah kekacauan rantai pasok global dan krisis iklim yang terus berlangsung.
Catatan Bank Dunia menunjukkan bahwa konflik Amerika Serikat–Iran telah mengguncang pasar pupuk global sehingga harga pupuk meningkat sekitar 35% dibandingkan tahun sebelumnya. Jika El Niño kuat bertahan hingga 2027, produksi beras diperkirakan dapat turun 20–50%, terutama di Asia Selatan, Afrika bagian selatan, dan sebagian Asia Timur. Akibatnya, kerawanan pangan berpotensi semakin memburuk di negara-negara yang sejak awal sudah rentan.
Pada saat yang sama, suhu Bumi terus meningkat akibat perubahan iklim yang dipicu emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Dampaknya semakin nyata setiap hari, mulai dari meningkatnya suhu di daratan dan lautan hingga mencairnya lapisan es dan naiknya permukaan laut.
Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa bahan bakar fosil terus “menyulut api krisis ini” dan menyerukan agar ekspansinya segera dihentikan. Ia menambahkan, “Masa pemanasan telah berakhir. Kita tidak bisa menunggu hingga pertunjukan utamanya dimulai.”
Saatnya Bertindak
Prakiraan El Niño kuat seharusnya menjadi titik awal bagi para pemimpin dan pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak yang akan datang. Bagaimanapun, bukan prakiraan cuaca yang mampu mencegah bencana, melainkan tindakan manusia dalam mengantisipasi risikonya. Mengelola risiko sejak dini menjadi kunci untuk menghindari kerugian yang jauh lebih besar ketika krisis benar-benar terjadi. Dan kerugiannya tidak hanya bersifat ekonomi. Kehidupan manusia, keanekaragaman hayati, bahkan warisan budaya juga dipertaruhkan.
Berbagai upaya telah dilakukan di berbagai tingkat di seluruh dunia. Pemerintah di kawasan Amerika Latin tengah menjalankan rencana nasional maupun daerah untuk menghadapi potensi kekeringan dan banjir, mulai dari aktivasi sistem pemantauan air di Kolombia hingga pembersihan saluran drainase untuk mengantisipasi banjir di Ekuador. Di sepanjang Koridor Kering Amerika Tengah, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mendukung petani kecil melalui penyediaan benih berumur pendek, sistem pemanenan air hujan, serta perlindungan bagi ternak.
Tak kalah penting, pembiayaan merupakan fondasi utama bagi upaya adaptasi. Pemerintah perlu mengalokasikan sumber daya secara memadai untuk memperkuat sistem tanggap darurat, termasuk memastikan penyebaran informasi cuaca secara cepat agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko lebih awal. Selain itu, penyaluran bantuan tunai langsung tanpa syarat kepada masyarakat yang telah terdampak krisis iklim dapat menjadi jaring pengaman penting bagi kelompok yang paling rentan ketika keadaan darurat terjadi.
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.

Ketika Perusahaan Asuransi Menarik Diri dari Risiko Iklim
Pengurangan Deforestasi dan Pemberantasan Kemiskinan yang Jauh dari Target Kehutanan Global
Sadiman: Lelaki yang Bisa Memanggil Air
Utang kepada Anak-Cucu yang Terus Membesar: Earth Overshoot Day 2026 dan Panggilan bagi Dunia Usaha
Benang Kusut Blue Carbon di Afrika
Melindungi Hak Anak-Anak Migran dengan Kebijakan yang Berpusat pada Anak