Evoware Ciptakan Kemasan Berkelanjutan yang Dapat Dimakan dan Didaur Ulang
Foto: Evoware.
Kemasan plastik merupakan salah satu penyumbang terbesar penumpukan sampah. Menurut data KLHK, sampah plastik menduduki posisi kedua dalam jumlah sampah di Indonesia. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah plastik kemasan dengan menerapkan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Evoware, perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di bidang pengelolaan sampah, berupaya menciptakan solusi permasalahan sampah plastik dengan memproduksi kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Dampak Buruk Polusi Sampah Plastik Kemasan
Kehidupan manusia tidak terlepas dari aktivitas konsumsi dan produksi. Sayangnya, aktivitas manusia seringkali melibatkan penggunaan plastik sekali pakai. Banyak dari sampah plastik tersebut berakhir di laut dan sungai, mengancam kehidupan manusia serta keanekaragaman hayati.
Saat ini, dunia memproduksi 430 juta metrik ton plastik setiap tahun. Lebih dari dua pertiganya berakhir menjadi limbah dan jumlahnya terus bertambah. Produksi plastik diprediksi akan meningkat tiga kali lipat pada 2060 jika bisnis tetap berjalan seperti biasa (business as usual). Pada 2019, sampah plastik menghasilkan 1,8 miliar ton emisi GRK atau setara 3,4% dari emisi global tahun tersebut.
Sebagaimana persoalan sampah pada umumnya, masalah sampah plastik juga disebabkan sistem pengelolaan yang tidak memadai. Untuk itu, mengurangi konsumsi kemasan plastik sekali pakai perlu dimulai dari diri masing-masing. Kemasan berkelanjutan atau sustainable packaging juga dapat menjadi salah satu solusi atas persoalan sampah plastik kemasan, terutama yang dihasilkan oleh produksi dan konsumsi yang tidak bertanggung jawab.
Langkah Evoware
Evoware adalah perusahaan yang memproduksi berbagai produk kemasan yang lebih ramah lingkungan dengan tujuan untuk mengurangi dampak buruk sampah plastik kemasan. Evoware mencoba mengatasi masalah sampah plastik di Indonesia melalui produksi kemasan yang dapat didaur ulang, lebih aman bagi lingkungan, dan bahkan dapat dimakan.
Salah satu produk kemasan berkelanjutan Evoware adalah Evo Jello Cup, gelas sekali pakai dari rumput laut yang dapat dimakan. Gelas ini bahkan memiliki berbagai rasa seperti peppermint dan teh hijau. Selain menggunakan rumput laut, Evoware juga memproduksi berbagai produk kemasan lainnya dengan bahan terbarukan seperti singkong, beras, tebu, hingga pinang.

“Mulai dari kantong bebas plastik berbahan dasar singkong, sedotan sekali pakai berbahan dasar beras hingga cangkir dan pembungkus terbuat dari rumput laut, kami terus belajar dan berinovasi untuk mendiversifikasi penawaran kami,” kata CEO Evoware, David Christian.
Evoware juga menginisiasi #RethinkPlastic, sebuah gerakan kolaboratif untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih lanjut akibat penggunaan plastik sekali pakai. Gerakan ini bertujuan untuk memberdayakan individu dan bisnis untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan yang terbuat dari bahan yang lebih ramah lingkungan.
Evoware memasarkan produk kemasan berkelanjutan mereka tak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri seperti di Australia, Amerika Serikat, dan Arab Saudi. Evoware terus berupaya memperluas jangkauan dengan mencari mitra global baru. Inisiatif Evoware mendapat apresiasi dari Elsie Otter Pechenik, putri aktris Hollywood Zooey Deschanel yang menyurati perusahaan ini.

Meningkatkan Inovasi dan Investasi
Langkah Evoware merupakan contoh nyata pentingnya investasi berdampak di sektor pengelolaan sampah melalui inovasi dan teknologi kemasan ramah lingkungan. Mengingat persoalan sampah yang kian pelik, meningkatkan inovasi dalam proses produksi dapat menjadi langkah strategis dan efektif yang perlu diupayakan oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama di sektor bisnis dan industri.
Editor: Abul Muamar
Maulina adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar program Sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Jember.

Pelajaran dari Selat Hormuz untuk Indonesia: Kita Tak Bisa Berleha-leha Soal Kedaulatan Energi
Meningkatkan Peran Sektor Swasta dalam Atasi Ancaman Krisis Fertilitas
Bagaimana Afrika Mencapai Rekor Lonjakan Energi Surya
Kapitalisme Bukanlah Takdir: Membaca Clara Mattei di Tengah Kelelahan Kolektif
Mengintegrasikan Pertanian dalam Permukiman Perkotaan dengan Konsep Agrihood
Meningkatkan Pelindungan Anak di Ruang Digital dengan Pendekatan Tanggung Jawab Bersama