Mewujudkan Rantai Pasok Berkelanjutan dalam Industri Fesyen dan Konstruksi
Photo by Francois Le Nguyen on Unsplash
Fesyen dan konstruksi adalah sektor yang terus berkembang dan membentuk budaya kita. Namun, dua sektor ini meninggalkan jejak lingkungan yang signifikan dan sering kali berjalan dengan praktik-praktik buruk dan jahat. Di negara-negara berkembang, dampak industri fesyen dan konstruksi bisa lebih parah karena sering menjadi tempat untuk mendirikan pabrik dan meng-outsource produksi, dengan peraturan lingkungan yang lebih lemah dan para pekerjanya menghadapi kondisi kerja yang tidak aman. Terkait hal ini, sebuah inisiatif enam tahun diluncurkan oleh UNEP untuk membantu negara-negara berkembang mengurangi dampak buruk dari dua sektor ini dan beralih ke rantai pasok yang berkelanjutan.
Fesyen dan Konstruksi di Negara Berkembang
Industri fesyen dan konstruksi termasuk sektor utama yang menimbulkan dampak buruk yang signifikan terhadap lingkungan di seluruh dunia. Industri fesyen menyumbang sekitar 4% dari total emisi dunia, setara dengan emisi tahunan negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris.
Sekitar 70% dari emisi tersebut berasal dari aktivitas hulu, seperti produksi bahan mentah dan proses intensif energi lainnya. Sementara itu, aktivitas hilir seperti transportasi, ritel, dan penggunaan produk, menyumbang sisanya.
Sementara itu, emisi dari sektor bangunan dan konstruksi mencapai sekitar 10 gigaton CO2eq. Sektor ini berkontribusi 34% dari total permintaan energi untuk peralatan yang membutuhkan energi tinggi seperti pemanas, pendingin, dan penerangan. Selain itu, produksi bahan-bahan konstruksi inti seperti semen, beton, dan baja telah menyebabkan penyusutan sumber daya yang signifikan. Bahkan dengan investasi signifikan dalam efisiensi energi, perluasan area bangunan global tetap melampaui upaya efisiensi yang sedang dilaksanakan.
Dampak paling besar dari industri fesyen dan konstruksi terutama dirasakan oleh negara-negara berkembang. Banyak negara berkembang yang dijadikan tempat berdirinya pabrik yang seringkali beroperasi dengan tidak bertanggung jawab. Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, kehidupan tenaga kerja di dalam dua industri ini juga seringkali memprihatinkan. Banyak dari mereka yang mengalami kondisi kerja yang buruk, dan terkadang tidak aman, dengan upah yang rendah.
Selain itu, negara-negara berkembang menjadi semakin rentan dalam menghadapi perubahan iklim karena sangat bergantung pada material yang mengandung banyak karbon seperti semen dan baja untuk proyek konstruksi.
Rantai Pasok Berkelanjutan untuk Industri Fesyen dan Konstruksi
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah negara-negara yang berpartisipasi dalam Program Terintegrasi untuk Menghilangkan Bahan Kimia Berbahaya dari Rantai Pasok telah meluncurkan inisiatif enam tahun senilai $45 juta. Program ini bertujuan untuk mengubah rantai pasok di sektor fesyen dan konstruksi agar lebih berkelanjutan. Negara-negara yang berpartisipasi yaitu Kamboja, Kosta Rika, Ekuador, India, Mongolia, Pakistan, Peru, dan Trinidad & Tobago.
Inisiatif ini berfokus pada promosi desain regeneratif, mengganti bahan yang tidak terbarukan, memungkinkan produksi yang lebih hemat sumber daya dan energi, mendorong kebiasaan pembelian konsumen yang bertanggung jawab, dan meningkatkan sistem untuk pengumpulan dan daur ulang pasca-penggunaan.
Sebagai contoh, aksi program ini meliputi mendesain ulang kostum karnaval di Trinidad & Tobago, membuat oven batu bata tradisional di Ekuador, menguji sertifikasi bangunan hijau dan skema pelabelan fesyen ramah lingkungan di Kamboja, dan mengubah limbah batang pisang menjadi serat yang bernilai ekonomis di Pakistan.
Inisiatif ini menunjukkan betapa pentingnya bagi pemerintah untuk mengambil bagian dan memprioritaskan kewajiban mereka untuk mengubah praktik yang berbahaya menjadi praktik yang lebih berkelanjutan untuk mencegah kerusakan lingkungan, sosial, dan ekonomi lebih lanjut.
Perubahan untuk Industri Berkelanjutan
Menciptakan perubahan yang langgeng baik di dalam industri fesyen maupun konstruksi sangatlah penting. Untuk mencapainya, pemerintah harus menerapkan kebijakan yang lebih kuat yang mendorong praktik berkelanjutan, seperti menawarkan insentif pajak untuk konstruksi hemat energi dan subsidi untuk penggunaan material berkelanjutan.
Selain itu, bisnis harus transparan tentang rantai pasok mereka untuk memungkinkan konsumen membuat keputusan pembelian yang etis dan sesuai informasi. Pada akhirnya, pengarusutamaan konstruksi rendah karbon dan memprioritaskan produk berkelanjutan bagi individu akan meningkatkan permintaan akan pilihan yang lebih ramah lingkungan, sehingga mendukung kemajuan menuju industri yang lebih baik dan lebih berkelanjutan serta kesejahteraan menyeluruh untuk semua.
Editor: Kresentia Madina & Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest