Dampak Buruk Produksi Kendaraan Listrik terhadap Keanekaragaman Hayati
Foto: Wirestock di Freepik.
Kendaraan listrik (EV) digadang-gadang sebagai alternatif kendaraan bertenaga gas. Permintaan yang meningkat mendorong produksi kendaraan listrik yang lebih gencar. Namun sayangnya, produksi kendaraan listrik membutuhkan sumber daya yang eksploitatif.
Meskipun lebih rendah karbon, jejak lingkungan dari produksi kendaraan listrik dapat lebih merusak dibanding kendaraan bertenaga gas. Beberapa bahan bakunya diekstraksi melalui industri pertambangan.
Permintaan yang Meningkat
Mobil listrik telah mencapai rekor penjualan global, yakni lebih dari 10 juta, pada tahun 2022. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan bahwa angka tersebut dapat meningkat hingga 35% pada tahun 2023.
Akibatnya, permintaan akan pasokan baterai dan material lainnya meningkat pesat. Untuk diketahui, kendaraan listrik dijalankan dengan baterai yang biasanya terbuat dari litium, kobalt, dan nikel. Pada tahun 2022, permintaan 60% lithium, 30% kobalt, dan 10% nikel hanya untuk baterai kendaraan listrik. Sahamnya berkisah antara 15%, 10%, dan 2% pada tahun 2017. Pertumbuhan pesat ini menguntungkan bagi perusahaan pertambangan di mana pun.
Dampak Produksi Kendaraan Listrik terhadap Keanekaragaman Hayati

Penambangan telah lama menjadi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati melalui penebangan besar-besaran dan konversi lahan. Sepanjang tahun 2000 hingga 2019 saja, pertambangan telah menyebabkan kerusakan hutan seluas 3.264 Km2, dengan Indonesia, Brasil, Ghana, dan Suriname sebagai negara terparah.
Di saat negara memaksa perusahaan pertambangan untuk melakukan penilaian dampak lingkungan untuk konsesi pertambangan, sebagian besar perusahaan justru tidak memasukkan dampak tidak langsung. Dampak langsung adalah kegiatan di dalam konsesi pertambangan, misalnya, lokasi ekstraksi dan pembuangan batuan sisa. Sedangkan dampak tidak langsung adalah dampak yang muncul dari area di luar konsesi yang hanya dapat terjadi akibat aktivitas pertambangan, seperti pemukiman migrasi masuk. Di Brasil, dampak tidak langsung dari sewa pertambangan mencapai 12 kali lipat di luar konsesi pertambangan.
Deforestasi di dalam wilayah konsesi pertambangan mendorong deforestasi di luar wilayah konsesi. Praktik ini mengarah pada peningkatan konversi lahan dan akses manusia, yang mengakibatkan perambahan habitat dan perburuan liar. Semua itu mengancam keanekaragaman hayati.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa 84% spesies dalam Daftar Merah IUCN terancam oleh perambahan habitat yang disebabkan oleh tambang. Misalnya, mamalia berukuran besar dan sedang umumnya membutuhkan wilayah hutan yang cukup luas untuk kawin dan mencari makan. Dengan berkurangnya habitat mereka, hewan-hewan ini dapat masuk ke pemukiman manusia dan menimbulkan konflik. Perburuan liar juga merajalela karena akses manusia meningkat.
Praktik Baik dalam Produksi Kendaraan Listrik, Mungkinkah?
Pembangunan selalu disertai dengan kerusakan lingkungan. Namun, tingkat kerusakan dapat diminimalkan atau dikurangi.
Saat ini, sejumlah perusahaan terkemuka menggunakan pendekatan no-net-loss/net-gain. No-net-loss adalah dampak proyek terhadap keanekaragaman hayati diatasi dengan upaya mitigasinya, seperti restorasi di lokasi. Sedangkan net gain adalah hasil tambahan yang diperoleh dari upaya konservasi oleh proyek. Dalam beberapa kasus, net gain keanekaragaman hayati dapat dicapai.
Net loss dan net gain hanya dapat diukur jika penilaian dilakukan sebelum dan selama proyek berlangsung. Dampak di lokasi dan di luar lokasi serta keseluruhan rantai pasokan harus dinilai. Saat ini, bank pembangunan seperti Grup Bank Dunia telah membuat dampak proyek kumulatif sebagai bagian dari penilaian yang diperlukan dalam aplikasi pinjaman.

Salah satu contoh praktik yang baik ada di Oyu Tolgoi, Mongolia. Di tempat ini, konsesi pertambangan saling melengkapi dengan gurun Gobi, rumah bagi keledai liar Asia yang hampir terancam punah. Upaya untuk mencegah eksploitasi hutan secara ilegal dan mengurangi akses manusia telah dilakukan, dan perusahaan bekerja lebih keras dengan berinvestasi di 46.000 Km2 lahan penggembalaan di luar konsesi. Daerah ini adalah tempat penggembalaan keledai liar nomaden Asia dan, pada akhirnya, tempat yang aman bagi mereka untuk menjelajah.
Memastikan Rantai Pasok yang Berkelanjutan
Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan melaporkan bahwa hanya sebagian kecil perusahaan pertambangan yang menetapkan target no-net-loss/net-gain. Banyak perusahaan di beberapa negara enggan menggunakan pendekatan ini karena membutuhkan sumber daya dan tidak diwajibkan.
Pada akhirnya, sangat disayangkan mengetahui bahwa pilihan yang lebih ramah lingkungan dapat menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, seperti dalam kasus produksi kendaraan listrik. Dampak ini kurang mendapat perhatian karena terjadi di hulu rantai pasok. Meski perusahaan kendaran listrik memproduksi barang mereka secara berkelanjutan, namun tidak ada yang menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku mereka jika mereka tidak rajin memeriksa sumbernya.
Untuk itu, perusahaan mesti memperhatikan keseluruhan rantai pasok, bukan hanya pada produk akhir. Hanya dengan demikian perusahaan dapat benar-benar berdampak positif pada pembangunan berkelanjutan yang bersifat interseksional.
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Lalita adalah Manajer Program & Kemitraan di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Ilmu Manajemen Lingkungan dari University of Queensland, Australia. Ia seorang environmental & biodiversity impact specialist, memperkuat program dan kemitraan Green Network Asia khususnya dalam lensa dan wawasan lingkungan.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan