Mengungkap Realitas Aksi Iklim Perusahaan Global
Foto: Bernard Tey di Flickr.
Dunia usaha, khususnya perusahaan-perusahaan besar, punya tanggung jawab besar untuk mengubah praktik industri mereka menjadi berkelanjutan (sustainable). Sejarah panjang praktik-praktik berbahaya perusahaan yang hanya mencari keuntungan telah memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, para pekerja, dan dunia industri secara keseluruhan. Seiring meningkatnya kesadaran, tuntutan hukum, dan desakan terhadap keberlanjutan, perusahaan-perusahaan kini didorong untuk memasukkan inisiatif iklim ke dalam kerangka kerja mereka. Sebuah laporan mengungkap realitas aksi dan komitmen perusahaan di seluruh dunia terhadap perubahan iklim.
Dampak Iklim Perusahaan Global
Diterbitkan oleh New Climate Institute, Laporan Tanggung Jawab Iklim Perusahaan 2024 memaparkan penilaian terhadap strategi iklim dari 51 perusahaan besar global. Penilaian ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana perusahaan-perusahaan tersebut memenuhi tanggung jawab mereka terhadap manusia dan planet Bumi dengan mengevaluasi tindakan dan komitmen mereka terhadap perubahan iklim berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
Sektor korporasi yang dicakup dalam laporan ini adalah manufaktur otomotif, utilitas listrik, fesyen, serta pangan dan pertanian. Pada tahun 2022 saja, sektor-sektor ini secara kolektif menghasilkan pendapatan sebesar $6,1 triliun dan menyumbang 16% emisi gas rumah kaca global. Laporan CCRM 2024 menilai upaya komitmen iklim perusahaan pada skala dari “Tinggi” hingga “Sangat Buruk” untuk menilai integritas mereka.
Aksi Iklim Perusahaan yang Tidak Memadai
Meski terdapat peningkatan komitmen perusahaan dibandingkan tahun 2022, Laporan Tanggung Jawab Iklim Perusahaan 2024 mengungkap bahwa target-target yang ada masih belum cukup untuk menyelaraskan dengan jalur aksi iklim global untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5°C.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sasaran iklim yang ditetapkan oleh 51 perusahaan pada tahun 2030 rata-rata hanya mencapai 30% dari total pengurangan emisi, dengan skenario paling optimistis hanya memproyeksikan penurunan sebesar 33% antara tahun 2019 dan 2030. Target-target ini masih jauh dari persyaratan minimum global, yakni Pengurangan 48% lintas sektor.
Banyak perusahaan yang menargetkan target emisi nol bersih pada 2030 yang tidak jelas atau hanya menjanjikan pengurangan emisi yang minim. Banyak target yang kurang transparan karena berbagai masalah seperti tidak mencantumkan sumber emisi tertentu, penggunaan tahun dasar yang tidak konsisten, kegagalan memperbarui tahun dasar emisi, atau memberikan konteks yang tidak memadai.
Selain itu, dilaporkan juga bahwa hanya empat perusahaan yang mencapai kemajuan, mulai dari sekadar janji hingga tindakan nyata. Upaya-upaya yang ada termasuk menargetkan pengurangan emisi metana dari susu segar serta mendorong produk-produk nabati, meningkatkan kapasitas energi terbarukan, dan berinvestasi pada kendaraan tanpa emisi dan bahan-bahan ramah lingkungan.
Namun, sektor fesyen, khususnya, gagal dalam menyajikan strategi pengurangan emisi yang meyakinkan, dan lebih menekankan pada listrik terbarukan tanpa mengatasi permasalahan seperti produksi berlebih atau praktik fast fashion.
Solusi yang Meragukan
Banyak perusahaan yang beralih ke solusi yang dianggap meragukan, seperti Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon (CCUS), Sertifikat Energi Terbarukan (RECs) yang berdiri sendiri, bioenergi, dan penghilangan karbon dioksida, alih-alih berfokus pada pengurangan emisi yang sebenarnya.
Beberapa perusahaan seperti Nestlé, Danone, Nike, Stellantis, dan Volvo Group mulai meninggalkan klaim netralitas karbon di masa lalu dan meningkatkan transparansi dalam komunikasi iklim mereka. Namun, hanya sedikit yang berkomitmen untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap.
Dari 20 perusahaan yang diperiksa, hanya empat yang mengklaim netral karbon untuk produk atau bagian tertentu dari operasi mereka yang menggunakan kredit karbon pada tahun 2022 atau 2023, yaitu Daimler Truck, Danone, Mars, dan Volkswagen Group. Namun, klaim-klaim ini dianggap memiliki integritas yang sangat buruk atau tidak jelas. Setiap klaim hanya membahas sebagian dari emisi perusahaan, dan tidak ada satupun yang memberikan bukti bahwa kredit karbon yang mereka gunakan cukup untuk mengimbangi emisi mereka sendiri.
Meningkatkan Komitmen dan Aksi Nyata
Meskipun terdapat beberapa kemajuan dalam aksi iklim perusahaan, laporan tersebut menyoroti kesenjangan besar antara target pengurangan emisi dan tindakan nyata yang dilakukan. Masih banyak perusahaan yang tertinggal karena komitmen yang tidak jelas atau tidak memadai, di saat beberapa perusahaan secara perlahan mulai bergerak maju menuju keberlanjutan.
Untuk itu, sangat penting bagi perusahaan untuk memprioritaskan pengurangan emisi secara nyata, meningkatkan transparansi dalam komunikasi iklim, dan menyelaraskan strategi mereka dengan jalur aksi iklim global untuk memitigasi kenaikan suhu. Dengan upaya yang terintegrasi dan komitmen yang lebih kuat, perusahaan dapat memberikan kontribusi yang memadai dalam mengatasi krisis iklim dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan untuk semua.
Baca laporan selengkapnya di sini.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia.
Join Membership Green Network Asia – Indonesia
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan