Pembersihan Pantai di Filipina: Sampah Plastik Ditukar dengan Beras
Foto: Freepik.
Planet Bumi menghadapi berbagai tantangan akibat aktivitas yang tidak berkelanjutan dari manusia. Salah satu penyebab utama adalah polusi plastik. Sampah plastik berakhir di perairan sehingga menyebabkan dampak ekologi dan kesehatan yang lebih luas. Di Filipina, terdapat sebuah inisiatif yang mengumpulkan penduduk setempat untuk membersihkan pantai dari polusi plastik dengan menawarkan pertukaran sampah plastik dengan beras.
Bahaya Sampah Plastik
Asia merupakan negara dengan produksi dan konsumsi plastik tertinggi di dunia. Sektor pengemasan menyumbang sekitar 36% produksi plastik global, dengan 85% sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai berakhir di tempat pembuangan sampah (TPA) atau mencemari lingkungan. Perlu juga dicatat bahwa banyak negara Asia Tenggara yang menjadi penerima impor sampah dari negara-negara maju.
Diperkirakan sekitar 1,7 juta metrik ton plastik masuk ke laut setiap tahunnya. Sampah-sampah plastik tersebut mengganggu keseimbangan ekosistem laut dengan mempengaruhi populasi dan penyebaran spesies. Seiring waktu, sampah-sampah plastik tersebut perlahan-lahan dapat terurai di bawah air dan berubah menjadi mikroplastik, partikel plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm. Sampah plastik pada akhirnya mencemari air, makhluk laut, dan rantai makanan kita dengan mikroplastik dan bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Program Sampah Plastik Ditukar dengan Beras
DI Filipina, terdapat sebuah pulau di Provinsi Batangas, bernama Mabini. Pulau ini terkenal karena keanekaragaman hayati laut dan terumbu karangnya yang berwarna-warni. Namun kota pesisir ini menghadapi masalah polusi plastik yang tak berkesudahan. Penyu-penyu sering mengira sedotan dan kantong plastik sebagai makanan mereka, sedangkan ikan-ikan menelan mikroplastik sehingga mengancam kesehatan kehidupan akuatik.
Untuk membantu mengatasi masalah ini, terdapat sebuah inisiatif pembersihan laut yang mengajak penduduk setempat untuk membersihkan pantai dan menukar sampah yang dikumpulkan dengan beras. Untuk setiap 1,5 kilogram sampah yang dikumpulkan, relawan akan mendapat 1 kilogram beras. Sejak diluncurkan dua tahun lalu, program sampah ditukar beras ini telah membersihkan lebih dari 4,3 metrik ton sampah dari pantai dan mendistribusikan 2,6 ton beras sebagai imbalannya.
Didanai oleh donor swasta dan usaha kecil, program ini mendukung keluarga berpenghasilan rendah dengan meringankan biaya makan mereka sekaligus secara aktif mengurangi jumlah sampah plastik di pantai. Rata-rata, keluarga setempat dapat menghemat hingga membeli dua karung beras setiap bulannya.
Penciptaan Dampak Berbasis Komunitas
Kebiasaan kolektif penggunaan plastik – terutama plastik sekali pakai – dalam kehidupan sehari-hari menghasilkan polusi plastik yang signifikan. Meskipun peraturan pemerintah dan praktik bisnis yang bertanggung jawab diprioritaskan, kontribusi dan tanggung jawab kita sebagai individu juga dapat memberikan dampak. Perubahan besar terkadang perlu dimulai dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat. Selain itu, inisiatif berbasis masyarakat dapat direplikasi dan disesuaikan dengan kondisi unik di masing-masing daerah.
Tentu saja, inisiatif akar rumput yang mengatasi tantangan lokal harus didukung dengan pendanaan yang cukup untuk memastikannya menjadi solusi jangka menengah. Mengakui tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan sangat penting untuk mengakhiri polusi plastik dan menciptakan dampak jangka panjang untuk menjaga ekosistem Bumi dan seluruh makhluk hidup.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Larangan Impor 12 Komoditas dan Hal-Hal yang Perlu Diantisipasi
Hak Alam untuk Lebah Tanpa Sengat di Peru
Mengatasi Ketimpangan Akses terhadap Tanah di Kalangan Orang Muda Pedesaan
Mengintegrasikan Inovasi Energi Terbarukan secara Sistemik untuk Transisi Energi
Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest