Dampak Screen Time Berlebihan terhadap Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental Remaja
Foto: Ron Lach di Pexels
Meluasnya penggunaan perangkat digital telah membuka akses informasi yang luas bagi masyarakat. Remaja, khususnya, merupakan generasi digital yang sangat akrab dengan perangkat elektronik dan sehari-hari menggunakannya. Namun, remaja seringkali terjebak dalam penggunaan yang berlebihan. Berbagai studi menunjukkan bahwa screen time berlebihan dapat menurunkan kualitas tidur dan meningkatkan risiko gejala depresi pada remaja.
Periode Penting Perkembangan Remaja
Remaja adalah mereka yang berusia antara 10 – 19 tahun. Masa remaja merupakan masa krusial dalam perkembangan manusia yang ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosional, dan psikologis. Selama masa pubertas, mereka mulai menunjukkan kemampuan berpikir abstrak dan mengambil keputusan yang lebih kompleks dibandingkan ketika masih anak-anak.
Pada tahap ini, remaja mulai membangun citra diri, memahami emosi, serta membentuk identitas pribadi. Periode ini juga menjadi masa perkembangan krusial untuk mengasah keterampilan hidup, memperluas wawasan, dan mengumpulkan pengalaman yang akan membentuk masa dewasa mereka.
Remaja masa kini merupakan generasi yang sangat aktif di dunia digital. Secara global, sekitar 79% remaja berusia 15–24 tahun menggunakan internet dan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di berbagai platform digital. Selain itu, lebih dari 90% remaja berusia 13–17 tahun memiliki akses ke media sosial dan menggunakannya secara rutin. Bagi mereka, gawai dan media sosial bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat untuk mencari pengetahuan, mengasah keterampilan, menyalurkan kreativitas, dan menjalin relasi baru.
Namun, semua itu juga membawa risiko. Menghabiskan waktu terlalu lama dalam berselancar di platform digital dapat menyebabkan kecanduan, mengganggu siklus tidur serta penurunan kesehatan fisik dan mental remaja.
Dampak Screen Time Berlebihan pada Remaja
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa screen time berlebihan di kalangan remaja meningkatkan risiko depresi akibat kurang tidur. Penelitian ini melibatkan lebih dari 4.800 remaja dan menemukan bahwa mereka yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di depan gawai cenderung mengalami masalah tidur, seperti tidur larut malam, terbangun di malam hari, atau kurang tidur. Akibatnya, banyak remaja menunjukkan tanda-tanda depresi dalam waktu satu tahun, terutama perempuan.
Beberapa negara telah mengeluarkan pedoman untuk mengurangi dampak negatif dari screen time berlebihan, terutama di kalangan remaja dan anak-anak. Di Australia, Swedia, dan Amerika Serikat, pihak berwenang membatasi waktu screen time tidak lebih dari dua jam per hari. Di Australia, lebih dari 80% remaja berusia 16 tahun melanggar pedoman ini. Lantas, pada akhir 2024, Australia mengesahkan undang-undang yang menetapkan usia minimum 16 tahun untuk menggunakan platform media sosial.
Mendorong Penggunaan Gawai yang Lebih Sehat
Teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja sehingga semakin penting untuk meningkatkan kebiasaan digital yang lebih sehat. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan pembuat kebijakan memiliki peran penting dalam menetapkan batas waktu screen time yang sesuai usia serta mendorong penggunaan teknologi digital dengan bijaksana.
Selain itu, remaja perlu mendapat pemahaman yang cukup mengenai pentingnya batasan dan memprioritaskan kesehatan mereka dalam dunia digital. Percakapan terbuka dan lingkungan yang mendukung dapat menjadi langkah efektif untuk memastikan teknologi digunakan sebagai alat untuk belajar, berkembang, dan menjalin koneksi, bukan sebagai penghalang tumbuh kembang mereka.
Penerjemah: Kesya Arla
Editor: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Memahami Perjanjian Laut Lepas PBB
Menilik Langkah Indonesia Bergabung dengan Koalisi Pasar Karbon Global
Risiko dan Peluang Kabel Bawah Laut bagi Pembangunan Berkelanjutan
Tantangan dan Peluang Penerapan Pajak Karbon di Indonesia
Meningkatnya Serangan dan Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan dan Tanah
Menyoal Ketentuan Upah Minimum dan Tantangan Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja