Mengevaluasi Teknologi CCS sebagai Opsi untuk Percepat Pencapaian Target Nol Emisi
Foto: Fanjianhua di Freepik.
Dengan masih maraknya penggunaan bahan bakar fosil dan industri yang sulit dikendalikan seperti semen dan baja, emisi karbon menjadi hal yang tak terelakkan. Namun, hanya tinggal sedikit waktu yang tersisa untuk mencapai nol emisi (net-zero). Salah satu teknologi yang dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan ini adalah teknologi CCS (penangkapan dan penyimpanan karbon). Namun, perkembangan yang ada sangat lambat secara global.
Masih Jauh dari Target
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), kapasitas fasilitas CCS global saat ini adalah 50,5 juta ton (Mt) CO2 per tahun. Fasilitas CCS yang dilaporkan beroperasi kini berjumlah 45, dan lebih dari separuhnya hanya berasal dari Amerika Utara. Proyek CCS sangat populer di sektor gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG). Pada tahun 2023, sebanyak dua pertiga dari kapasitas penangkapan tahunan berasal dari perusahaan LNG.
Saat ini, ada sedikitnya 700 proyek yang sedang direncanakan, yang dapat menghasilkan kapasitas penangkapan CO2 sebesar 435 Mt per tahun dan kapasitas penyimpanan CO2 sebesar 615 Mt per tahun pada 2030. Kapasitas penangkapan CO2 mencerminkan jumlah emisi CO2 yang dapat ditangkap oleh teknologi tertentu (misalnya, pra-pembakaran dan pasca-pembakaran), sedangkan kapasitas penyimpanan CO2 mewakili jumlah CO2 yang dapat disimpan, biasanya dalam formasi geologi yang dalam.
Pada tahun 2023, 23 negara peserta Carbon Management Challenge (CMC) menyatakan bahwa mereka akan menangkap dan menyimpan target global sebesar 1 Gt CO2 setiap tahun. Negara-negara tersebut antara lain Uni Eropa, Amerika Serikat, Arab Saudi, Jepang, dan Indonesia. Dengan perkembangan yang ada sejauh ini, dunia masih tertinggal sebesar 565 Mt atau lebih dari setengah kapasitas yang ditargetkan pada tahun 2030.
Risiko Teknologi CCS
Salah satu alasan utama mengapa proyek CCS sulit dilaksanakan adalah karena risikonya, baik secara finansial maupun operasional. Proyek CCS dikenal berbiaya tinggi. Proses “menangkap” emisi CO2 memerlukan sumber daya yang besar, peralatan khusus, dan infrastruktur seperti jaringan pipa dan fasilitas penyimpanan.
Permasalahan lainnya adalah potensi kebocoran CO2. CO2 yang ditangkap biasanya disimpan dalam formasi geologi seperti formasi garam dalam dan reservoir minyak dan gas yang sudah habis. IEA melaporkan bahwa terdapat potensi untuk menyimpan antara 8.000 dan 55.000 Gt CO2 secara global. Namun, masih terdapat keraguan mengenai bagaimana CO2 dapat disimpan dengan aman untuk jangka waktu yang lama.
Yang terakhir, tidak adanya kerangka peraturan global yang kuat dan mapan. Menurut Global CCS Institute, Amerika Utara dan Uni Eropa memiliki kerangka peraturan yang paling matang mengenai CCS. Sebaliknya, kerangka peraturan di Asia dan Australia perlu ditingkatkan untuk mendorong lebih banyak penerapan CCS. Dengan risiko yang mencakup belanja modal yang besar dan persepsi negatif masyarakat, wajar jika industri gas dan industri yang sulit dikendalikan enggan mengembangkan CCS di tempat mereka beroperasi.
Langkah ke Depan
Pemerintah memiliki kekuatan untuk mendorong penerapan CCS melalui kebijakan dan kerangka hukum yang kuat. Insentif, subsidi, dan penyederhanaan proses perizinan merupakan beberapa solusi yang dapat diberikan pemerintah kepada industri untuk meringankan beban keuangan mereka.
Industri, khususnya para pemain kunci, juga punya kekuatan untuk menunjukkan praktik bisnis yang baik melalui teknologi CCS agar dapat diikuti oleh perusahaan lain. Industri dapat berkontribusi dengan memulai dan mendukung penelitian berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas biaya teknologi CCS. Misalnya, mereka dapat melakukannya dengan mengembangkan jaringan pipa yang lebih baik untuk meminimalkan kebocoran CO2, meneliti formasi geologi lain yang aman untuk penyimpanan CO2, dan memanfaatkan karbon yang ditangkap dan disimpan (carbon capture, utilization, and storage/CCUS) untuk menghasilkan hidrogen dan alternatif lainnya.
Upaya bersama para pemangku kepentingan juga penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Global CCS Institute menyarankan agar penyokong dan operator proyek secara proaktif melibatkan masyarakat untuk meminimalisir penolakan. Sosialisasi proyek, pemahaman masyarakat, dan pengumpulan keluhan secara memadai akan sangat membantu. Pemerintah dan organisasi masyarakat sipil juga dapat dilibatkan dalam upaya untuk memperlancar proses ini.
CCS Hanyalah Satu dari Sekian Banyak Solusi
CCS jangan dipandang sebagai “obat” yang dapat mengatasi segalanya, namun sebagai sebuah peluang. Ada teknologi lain yang ditujukan untuk dekarbonisasi yang lebih hemat biaya dan tidak terlalu berisiko, seperti energi terbarukan dan kendaraan listrik. Namun, CCS dapat menjadi jalan ke depan bagi sebagian industri. Selama alternatif selain minyak dan gas, semen, atau baja tidak tersedia dan tidak dapat diperluas, industri-industri yang sulit untuk dikendalikan ini mungkin akan bertahan lebih lama dari yang diharapkan. Pada akhirnya, para pelaku dan pemangku kepentingan utama tidak boleh melupakan hal yang paling penting: menciptakan lingkungan yang lebih baik dan meminimalkan dampak buruk terhadap manusia dan planet Bumi.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Lalita adalah Manajer Program & Kemitraan di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Ilmu Manajemen Lingkungan dari University of Queensland, Australia. Ia seorang environmental & biodiversity impact specialist, memperkuat program dan kemitraan Green Network Asia khususnya dalam lensa dan wawasan lingkungan.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan