Bagaimana Kota Singkawang Mewujudkan Toleransi dalam Keberagaman
Hiasan lampion saat perayaan Imlek tahun 2022 di Kota Singkawang. | Foto oleh Media Center Singkawang
Keberagaman dalam masyarakat merupakan aset berharga yang harus dikelola dengan baik agar tercipta kehidupan yang harmonis. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang etnis atau kepercayaannya, berhak untuk mengekspresikan diri serta hidup dengan nyaman dan aman. Untuk mencapai hal tersebut, penting untuk memasukkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian ke dalam setiap aspek pembangunan kota. Singkawang, sebagai contoh, telah dikenal sebagai salah satu kota paling toleran, menunjukkan pentingnya menumbuhkan semangat toleransi dalam masyarakat dan mempromosikan kerukunan antar-etnis serta antar-agama.
Berdasarkan laporan Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2023 yang dirilis oleh SETARA Institute pada awal tahun 2024, Kota Singkawang kembali menempati posisi pertama atau yang ketiga kalinya berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Capaian ini menunjukkan bagaimana Kota Singkawang membangun ekosistem toleransi dan anti-diskriminasi melalui rencana pembangunan dan regulasi sosialnya.
Toleransi dalam Rencana Pembangunan
Toleransi adalah sikap saling menghargai antara individu dengan segala perbedaan yang ada untuk mencapai kedamaian dan mewujudkan kesetaraan. Berdasarkan laporan SETARA Institute, sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota toleran apabila memiliki rencana pembangunan yang inklusif, regulasi yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, memiliki tingkat pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan yang rendah, dan ada upaya berkelanjutan dalam mengelola keberagaman dan inklusi sosial.
Usaha memupuk toleransi di Kota Singkawang telah tercermin dalam tujuan Rencana Pembangunan Daerah, yaitu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang harmonis, kondusif, toleran, dan berbudaya. Pemajuan toleransi di Kota Singkawang selanjutnya diterjemahkan dalam perencanaan pembangunan dan regulasi, baik berupa peraturan daerah (perda) maupun peraturan wali kota (perwako).
Toleransi di Kota Singkawang dapat terwujud di antaranya karena tidak ada peraturan, regulasi, ataupun tindakan masyarakat yang membatasi kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi. Setiap anggota atau kelompok masyarakat dari agama atau kepercayaan manapun dapat secara leluasa melakukan ritual keagamaan atau kebudayaan mereka tanpa rasa takut atau khawatir.
Toleransi di Kota Singkawang
Perwujudan Singkawang sebagai Kota Toleran merupakan buah sinergi dari semua pihak dan generasi. Laporan IKT 2023 menyebutkan bahwa Pemkot Singkawang menempatkan generasi muda sebagai ujung tombak dalam menjaga tata kelola keberagaman. Pemkot Singkawang mengajak generasi milenial dari berbagai etnis dan agama untuk terlibat agar mereka memiliki ruang untuk membaur dan menjalin kerja sama. Komunitas yang mempromosikan toleransi bentukan anak-anak muda pun tumbuh subur, seperti Ruang Muda Kreatif Singkawang (Rumaksi) yang menghidupkan seni dengan semangat toleransi dan Inspirasi Kreativitas Biak Singkawang (IKBS) yang merupakan komunitas kreatif di bidang sosial budaya.
Pemkot Singkawang juga memanfaatkan lembaga pendidikan sebagai ujung tombak dalam menginternalisasi nilai-nilai toleransi sejak dini. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama dengan pihak sekolah, Pemkot Singkawang membentuk Gerakan Satu Sekolah Satu Kearifan Lokal (GS3KL) yang bertujuan untuk mendidik siswa tentang kearifan budaya lokal mengingat Singkawang adalah kota yang multietnis. Melalui program ini, sekolah dapat menguatkan nilai-nilai toleransi dalam kegiatan belajar mengajar maupun melalui program ekstrakurikuler.
Sinergi dalam menjaga harmoni antaretnis dan antaragama juga tidak lepas dari peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan berbagai Paguyuban Etnis di Kota Singkawang. Keduanya merupakan elemen penting dalam menjaga toleransi antar-umat beragama yang beragam. FKUB Singkawang rutin mengadakan dialog kerukunan antartokoh agama setiap tahunnya untuk mencegah isu terkait SARA yang dapat menimbulkan gesekan di masyarakat. Selain itu, mereka juga kerap menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan banyak pihak, mulai dari pemerintah, tokoh adat, hingga komunitas umum untuk memelihara keharmonisan di Singkawang.
Namun demikian, sebagaimana kota-kota lainnya, Singkawang juga menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga toleransi. Persebaran misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian di media sosial yang masif berpotensi menimbulkan konflik. Contohnya pernah terjadi pada tahun 2020, ketika Singkawang sempat mengalami riak-riak gejolak menyusul beredarnya video berbau sentimen SARA. Saat itu, Pemkot Singkawang meredam riak-riak tersebut dengan mempertemukan semua pihak terkait untuk berdialog.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memasukkan literasi digital dalam pembicaraan dan pemajuan toleransi agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang ditemui di internet.
Peran Semua Pihak
Mewujudkan kota yang toleran merupakan hal yang sangat penting karena itu membentuk dasar kehidupan yang damai bagi semua warga. Semua pihak memiliki peran penting dalam mencapai tujuan ini. Pemerintah perlu menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan yang memperkuat toleransi, lembaga pendidikan mesti menyebarkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak sejak dini, dan masyarakat sipil dapat memperkuat toleransi melalui dialog dan kegiatan sosial.
Editor: Abul Muamar
Nisa is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She holds a bachelor's degree in International Relations from Gadjah Mada University. She has particular interest in research and journalism on social and environmental issues surrounding human rights.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut