Kerja Sama Indonesia dan IsDB Tingkatkan Kualitas Kesehatan Ibu dan Anak
Foto oleh kevin liang di Unsplash.
Menjamin kualitas kesehatan adalah salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 3. Saat obat dan teknologi kesehatan sudah sedemikian berkembang, kasus kematian ibu dan anak masih terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2021 sebesar 59,69% atau sekitar 7.389 kasus kematian. Sementara, angka kematian bayi (AKB) yang baru lahir (usia 0-28 hari) mencapai 20.226 jiwa atau sekitar 11,7 jiwa/1.000 kelahiran, dan angka kematian balita mencapai 2.506 jiwa.
Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Keuangan dan Islamic Development Bank (IsDB) bekerja sama untuk menekan angka kematian ibu dan anak di Indonesia melalui pembangunan infrastruktur dan program peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak.
Masalah Utama di Indonesia
Sebagian besar kasus kematian ibu disebabkan oleh perdarahan saat proses bersalin dan hipertensi. Sementara kasus kematian anak banyak disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti kanker, diare, dan pneumonia. Kondisi tersebut diperparah dengan belum meratanya jangkauan pelayanan antenatal (ANC) dan adanya disparitas layanan kesehatan antar wilayah karena faktor ekonomi dan pendidikan.
Kerja sama pemerintah Indonesia dan IsDB ditandai dengan acara peletakan batu pertama proyek pembangunan gedung layanan kesehatan ibu dan anak di enam rumah sakit vertikal, yakni RS Kanker Dharmais Jakarta, RS Dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, RSUP Prof.I.G.N.G. Ngoerah Bali, RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, dan RS Persahabatan Jakarta.
”Sangat penting dilakukan peningkatan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan ibu dan anak. Saya sangat berterima kasih kepada IsDB yang telah memberikan dukungan untuk memperluas enam rumah sakit nasional untuk fasilitas kesehatan ibu dan anak,” kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
Kerja sama ini juga berfokus untuk mengerjakan berbagai hal lain, seperti menganggarkan pembelian dan pengadaan alat-alat kesehatan baru, meningkatkan kompetensi SDM rumah sakit, melakukan optimalisasi penggunaan teknologi komunikasi, dan meningkatkan kapasitas tanggap darurat di enam rumah sakit vertikal.
Adapun kerja sama ini juga mengembangkan rumah sakit jaringan rujukan dengan akreditasi paripurna dan utama untuk mempercepat transformasi kesehatan di 34 provinsi. Setiap rumah sakit dikembangkan untuk dapat menangani penyakit dengan angka kesakitan dan kematian tinggi secara nasional, yakni penyakit jantung, kanker, diabetes melitus, penyakit ginjal, penyakit hati, stroke, dan TBC.
Proyek Jangka Panjang
Proyek kerja sama ini mayoritas didanai oleh IsDB yakni sebesar 89,3%, dan ditambah pendanaan sebesar 10,7% dari pemerintah Indonesia. Proyek ini menelan biaya sebesar US$ 293 juta dan akan berlangsung hingga tahun 2026.
“Peletakan batu pertama gedung layanan ibu dan anak di enam rumah sakit vertikal ini menunjukkan tonggak penting berupa komitmen dan kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan IsDB di bidang kesehatan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Meningkatkan ketersediaan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah langkah penting untuk menekan AKI dan AKB, sekaligus untuk mewujudkan generasi penerus Indonesia yang lebih sehat.
Editor: Abul Muamar
Panji adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar Ilmu Media Massa dan Komunikasi Digital di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan