Mendorong Sistem Ketertelusuran Komoditas untuk Rantai Pasok yang Lebih Berkelanjutan
Foto oleh CEphoto, Uwe Aranas di Wikimedia Commons.
Berbagai produk atau komoditas umumnya melalui serangkaian proses yang panjang untuk sampai ke tangan konsumen. Sayangnya, banyak proses pengadaan bahan baku dan produksi komoditas yang berdampak buruk terhadap lingkungan, termasuk melibatkan deforestasi. Untuk mendorong rantai pasok yang berkelanjutan, diperlukan sistem yang dapat memastikan ketertelusuran komoditas.
Deforestasi hingga Perbudakan Modern dalam Rantai Pasok Komoditas
Sebagai negara agraris, Indonesia termasuk salah satu produsen terbesar berbagai komoditas hasil alam, seperti sawit, tebu, kopi, kakao, karet, dan kayu. Namun sayangnya, banyak di antara komoditas tersebut yang rantai pasoknya menyebabkan deforestasi dan kerusakan lingkungan dalam bentuk yang lebih luas.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah sawit. Ekspansi perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi pasar global dan domestik dibangun dengan mengorbankan jutaan hektare hutan. Dalam kurun waktu 2018-2022 saja, ekspansi perkebunan kelapa sawit menyebabkan deforestasi hingga 32.406 hektare per tahunnya.
Sama halnya dengan kayu, yang merupakan bahan baku berbagai komoditas seperti kertas, tisu, hingga pelet biomassa. Misalnya, sebuah perusahaan yang mengelola konsesi kayu pulp di Kalimantan telah membabat hutan hingga lebih dari 33 ribu hektare sejak tahun 2021. Begitu juga dengan tebu, yang mengancam jutaan hektare hutan di Merauke, Papua.
Tidak hanya soal deforestasi, banyak pula praktik bisnis yang melibatkan eksploitasi berlebih keanekaragaman hayati yang berdampak pada penurunan populasi satwa endemik serta praktik perbudakan modern di dalam rantai pasoknya, sehingga menghambat upaya penciptaan dunia industri yang bertanggung jawab.
Ketertelusuran Komoditas
Ketertelusuran komoditas merujuk pada kemampuan untuk melacak suatu komoditas dan riwayatnya di seluruh tahap rantai pasok, mulai dari perolehan bahan baku, pemrosesan, hingga sampai ke tujuan akhirnya, yang berguna untuk memastikan rantai pasok yang berkelanjutan. Namun, melacak ketertelusuran komoditas bukanlah hal yang mudah. Informasi yang tidak terstruktur dan sulit diperoleh, pencatatan yang dilakukan secara manual di lapangan dengan metode yang berbeda-beda oleh setiap organisasi, serta tata kelola data rantai pasok komoditas yang belum memadai, merupakan beberapa tantangan utama.
Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk memastikan ketertelusuran komoditas adalah Ground-truthed.id (GTID). GTID adalah aplikasi pemantauan kehutanan berbasis web dan Android yang dikembangkan oleh organisasi masyarakat sipil Kaoem Telapak. Aplikasi ini dirancang untuk menyediakan data dari temuan lapangan sebagai perangkat pendukung dalam menciptakan transparansi, akuntabilitas, dan keadilan bagi hutan Indonesia.
GTID menghimpun seluruh dokumentasi di lapangan yang dilaporkan oleh pengguna, yang kemudian divalidasi sebelum disampaikan ke publik. Dokumentasi lapangan juga dilengkapi dengan informasi tentang tipologi kasus, titik koordinat (geolokasi), dan kategori sektor usaha, ditambah dengan dokumentasi pendukung seperti foto atau video yang relevan.
Selain mendukung transparansi pengelolaan hutan di Indonesia, GTID juga dapat menjadi alat bantu dalam meningkatkan kesiapan menghadapi UU Anti-Deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation-free Regulation/EUDR), yang mensyaratkan adanya ketertelusuran komoditas.
Menciptakan Rantai Pasok Berkelanjutan
Membangun rantai pasok yang berkelanjutan berarti memastikan bahwa suatu produk atau komoditas tidak melewati proses produksi yang berdampak negatif terhadap manusia dan Bumi. Penerapan rantai pasok berkelanjutan menjadi semakin relevan karena konsumen semakin sadar dan peduli terhadap aspek lingkungan dan sosial dari apa yang mereka konsumsi. Oleh karena itu, bisnis dan seluruh pemangku kepentingan terkait harus meningkatkan komitmen dan tanggung jawab untuk menerapkan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi hal krusial yang dapat digunakan untuk memverifikasi klaim keberlanjutan dari bisnis atau perusahaan atas produk mereka.
Editor: Abul Muamar
Nisa is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She holds a bachelor's degree in International Relations from Gadjah Mada University. She has particular interest in research and journalism on social and environmental issues surrounding human rights.

Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut
Pencabutan Izin Usaha di Kawasan Hutan: Bagaimana Pemulihan Ekosistem dan Penanganan Dampak Sosial-Ekonomi?
Mengintegrasikan Isu Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan ke dalam Sistem Pendidikan