Menilik Potensi BESS untuk Memperkuat Sistem Jaringan Listrik di Negara Kepulauan
Foto: Oleksandr Ryzhkov di Freepik.
Saat ini, banyak negara di dunia mulai meninggalkan bahan bakar fosil dan beralih ke energi terbarukan. Namun, pada saat yang sama, masih ada beberapa negara yang masih kesulitan dalam menyediakan listrik untuk warganya, terutama negara-negara kepulauan. Dalam hal ini, tantangan utamanya adalah menghubungkan pulau-pulau terluar ke jaringan listrik utama yang terpusat. Terkait hal ini, sistem penyimpanan energi baterai (BESS) dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk mengatasi masalah ini.
Lemahnya Sistem Jaringan Listrik di Negara Kepulauan
Distribusi listrik yang buruk merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh negara-negara kepulauan. Negara-negara besar seperti Indonesia dan Filipina, yang telah memiliki jaringan listrik terpusat, harus mengeluarkan lebih banyak ongkos untuk menghubungkan pulau-pulau terluar mereka dengan jaringan listrik utama. Bagi Negara-Negara Berkembang Pulau Kecil (SIDS), tantangan ini bahkan bisa lebih sulit.
Jaringan listrik terpusat pada umumnya memerlukan pengeluaran yang besar untuk pengembangan dan pengoperasiannya, terlebih lagi jika mencakup pulau-pulau terpencil. Pekerjaan ini terlalu mahal bagi pemerintah di negara-negara berkembang, dan ketidakpastian laba atas investasi membuat perusahaan swasta menjadi enggan. Sayangnya, masyarakat sering kali menanggung beban terbesar akibat hal ini dengan tagihan energi yang tinggi dan mungkin tidak terjangkau oleh kebanyakan orang.
Oleh karena itu, pengembangan jaringan listrik di negara kepulauan umumnya terdesentralisasi. Selama ini, jaringan listrik mini dan jaringan luar (off-grid) yang berdiri sendiri sering dipakai untuk membantu mengalirkan listrik ke daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh jaringan listrik pusat. Namun, kapasitasnya mesti terus ditingkatkan untuk mengimbangi permintaan listrik yang terus meningkat.
BESS untuk Fleksibilitas Jaringan Listrik di Negara Kepulauan
Fleksibilitas jaringan listrik didefinisikan sebagai kemampuan sistem ketenagalistrikan untuk merespons perubahan permintaan dan pasokan dari berbagai sumber. Dalam sistem energi berbasis bahan bakar fosil, pasokan energi memiliki output tetap yang dapat dibatasi tergantung pada permintaan konsumen.
Sebaliknya, energi terbarukan variabel (VRE), seperti tenaga angin, tenaga surya, dan tenaga air, dikenal karena fluktuasi musimannya. Di wilayah dimana sumber energi terbarukan yang stabil seperti panas bumi dan biomassa terbatas, beberapa sistem kelistrikan bergantung pada bahan bakar fosil untuk merespons fluktuasi VRE.
Banyak negara kepulauan Pasifik dulunya bergantung pada bahan bakar fosil impor karena keterbatasan sumber daya. Kemudian, teknologi VRE memungkinkan mereka memanfaatkan sumber energi mereka sendiri dan menjadi lebih mandiri. Meskipun demikian, jaringan listrik masih memerlukan bahan bakar fosil untuk menahan fluktuasi VRE. Di sinilah sistem penyimpanan energi baterai (BESS) dapat berperan. Banyak negara kepulauan menggunakan teknologi BESS untuk meningkatkan fleksibilitas jaringan listrik dan mengimbangi penggunaan bahan bakar fosil.
Pada tahun 2022, Tonga, negara kepulauan di Pasifik, memesan Pembangkit Listrik Popua yang terintegrasi ke dalam jaringan listrik yang ada di negara tersebut. Pembangkit listrik ini memiliki satu sistem durasi pendek dengan kapasitas 7,2 MW/5,3 MWh untuk penerapan stabilitas jaringan dan sistem durasi 3,3 jam sebesar 6 MW/20,88 MWh untuk penerapan peralihan beban terbarukan. Ini adalah bagian dari Proyek Energi Terbarukan Tonga, yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB), Green Climate Fund, dan pemerintah Australia.
Selain Pembangkit Listrik Popua, teknologi energi terbarukan lainnya dan peningkatan jaringan listrik juga diterapkan di Tonga. Hasilnya, negara tersebut mampu mengurangi ketergantungan minyaknya sekitar 14% sejak tahun 2016. Pada tahun 2030, Tonga menargetkan mencapai 70% pangsa energi terbarukan.
Peluang dan Tantangan di Masa Depan
Ada peluang besar untuk pengembangan BESS di negara-negara kepulauan. Teknologi baterai kini lebih mudah diakses secara global, dan harga mediannya diperkirakan akan menurun dalam waktu dekat. Hal ini memungkinkan teknologi ini menjadi lebih terjangkau bagi negara-negara berkembang.
Akan tetapi, sumber daya baterai terbatas. Tekanan global untuk mempercepat penggantian mesin pembakaran internal dengan kendaraan listrik dapat menyebabkan persaingan sumber daya. Apalagi, bahan baku baterai diperkirakan akan habis dalam beberapa dekade mendatang.
Mengingat industri baterai masih dalam tahap awal, diperlukan lebih banyak penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan teknologi ini dan memastikan pengembangannya tidak membawa lebih banyak dampak buruk bagi manusia dan Bumi. Bereksperimen dengan berbagai bahan dan daur ulang baterai hanyalah segelintir hal yang telah dimulai dan akan terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan.
Akses terhadap listrik bersih merupakan kebutuhan dasar, di negara manapun. Pemerintah multi-negara, dunia usaha, dan lembaga jasa keuangan harus memprioritaskan penyaluran sumber daya ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan. Mengambil keuntungan dari industri yang sedang berkembang dengan dalih “transisi energi” hanya akan menyebabkan kesenjangan yang semakin parah.
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Ko-kreasi dampak positif untuk masyarakat dan lingkungan.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks saat ini, membekali diri, tim, dan komunitas dengan wawasan interdisipliner dan lintas sektor tentang isu-isu keberlanjutan (sustainability) dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bukan lagi pilihan — melainkan kebutuhan strategis untuk tetap terdepan dan relevan.
Lalita adalah Manajer Program & Kemitraan di Green Network Asia. Ia adalah alumnus Magister Ilmu Manajemen Lingkungan dari University of Queensland, Australia. Ia seorang environmental & biodiversity impact specialist, memperkuat program dan kemitraan Green Network Asia khususnya dalam lensa dan wawasan lingkungan.

PSN Tebu Merauke: Penggusuran Masyarakat Adat dan Deforestasi yang Berlanjut
Memperkuat Ketahanan di Tengah Ketergantungan yang Kian Besar pada Infrastruktur Antariksa
Overpopulasi Ikan Sapu-Sapu di Sungai Ciliwung: Pemulihan Lingkungan atau Bahaya?
Perlawanan Pekerja Gig di India terhadap Tekanan Layanan Pengantaran 10 Menit
Melonjaknya Konflik Agraria: Mendorong Penyelesaian berbasis HAM
Gerakan Komunitas Akar Rumput dalam Memperluas Konservasi Air Tanah yang Kian Menyusut