Laporan UNESCO Ungkap Minimnya Pencapaian Agenda Pendidikan 2030
Photo: Kelley Lynch di Flickr.
Setiap orang punya hak atas pendidikan, namun kenyataannya masih jauh dari ideal. Pada tahun 2022, lebih dari 140 negara berkumpul dalam KTT Transformasi Pendidikan dan menetapkan komitmen untuk mempercepat agenda pendidikan 2030. Namun, laporan terbaru dari UNESCO menunjukkan pencapaian yang belum memadai, dan menekankan perlunya remobilisasi untuk menjamin masa depan jutaan anak.
Potret Pendidikan Global Saat Ini
UNESCO mengungkapkan jumlah anak yang tidak bersekolah meningkat sebanyak enam juta menjadi total 250 juta. Selain stagnasi global dalam bidang pendidikan, lonjakan ini juga disebabkan oleh tersingkirnya perempuan dan anak perempuan dari pendidikan di Afghanistan. Temuan-temuan ini menggarisbawahi kemunduran dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB ke-4, yakni mewujudkan pendidikan berkualitas untuk semua pada tahun 2030.
Terlepas dari komitmen yang disepakati dalam KTT Transformasi Pendidikan, negara-negara di dunia masih tertinggal dalam mencapai target nasional SDG 4. Penyelesaian masalah pendidikan dasar dan menengah masih lemah, sehingga perlu akselerasi upaya untuk mendaftarkan jutaan anak lagi ke lembaga pendidikan anak usia dini pada tahun 2030.
Minim Pencapaian
Laporan Pemantauan Pendidikan Global UNESCO 2023 mengungkapkan bahwa sejak tahun 2015, perkembangan jumlah anak yang menyelesaikan pendidikan dasar sangat minim, yaitu kurang dari tiga persen (87%). Sementara itu, persentase kaum muda yang menyelesaikan pendidikan menengah mengalami sedikit peningkatan, yaitu kurang dari lima persen (58%).
Secara global, peningkatannya juga sangat minim, yaitu kurang dari satu persen terkait tingkat melek huruf generasi muda. Jika negara-negara tersebut dapat memenuhi target masing-masing, maka akan ada tambahan 6 juta anak yang bersekolah di taman kanak-kanak, dan 58 juta anak-anak serta remaja lainnya akan terdaftar di sekolah.
Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengungkap bahwa upaya global untuk memastikan kecukupan jumlah guru berkualitas masih belum konsisten. Afrika Sub-Sahara, misalnya, masih memiliki proporsi guru terlatih yang paling kecil di semua tingkat pendidikan meskipun menunjukkan kemajuan sejak tahun 2015. Jika negara-negara di dunia mampu mencapai tujuan, maka saat ini akan ada lebih dari 1,7 juta guru yang memenuhi syarat mengajar siswa sekolah dasar.
Analis Pendidikan Senior UNESCO, Patrick Nkengne, menyoroti kekurangan guru di Afrika. Dikatakannya, “Ketika sebuah ruang kelas menampung lebih dari 100 siswa, bukannya 50 siswa, atau dibandingkan dengan rasio 40 hingga 50 siswa per guru yang direkomendasikan oleh norma dan standar, hal ini jelas menunjukkan adanya kekurangan. Ketika jumlah kelas dalam keadaan ini meningkat, masalah kekurangan menjadi semakin parah”.
Remobilisasi Agenda Pendidikan 2030
Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay menyerukan remobilisasi mendesak untuk menjaga masa depan jutaan anak. “Melihat hasil yang ada, tujuan pendidikan berkualitas untuk semua pada tahun 2030 yang ditetapkan oleh PBB berisiko tidak tercapai. Kita memerlukan mobilisasi global untuk menempatkan pendidikan sebagai agenda utama internasional,” kata Azoulay.
Kini, memobilisasi kembali komitmen dan fokus pada tindakan nyata menjadi semakin penting. Komunitas internasional didesak untuk bersatu dalam komitmen bersama untuk memastikan pendidikan tetap menjadi prioritas utama global. Seruan ini merupakan tanggung jawab kolektif untuk meningkatkan upaya, menerapkan strategi yang efektif, dan menghidupkan kembali momentum yang diperlukan untuk mencapai tujuan ambisius yang ditetapkan dalam agenda pendidikan tahun 2030
Editor: Nazalea Kusuma
Penerjemah: Abul Muamar
Versi asli artikel ini diterbitkan dalam bahasa Inggris di platform media digital Green Network Asia – Internasional.
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut