KTGI: Upaya BMKG untuk Cegah Korban Jiwa saat Gempa & Tsunami
Foto oleh Wilson Malone di Pexels.
Indonesia termasuk negara yang rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Selama 21 tahun terakhir, telah terjadi 230 gempa bumi yang bersifat merusak (destructive earthquake). Teranyar, pada 21 November 2022, gempa bumi berkekuatan 5,6 Magnitudo di Cianjur menelan lebih dari 300 korban jiwa dan menyebabkan ribuan warga mengungsi.
Menyadari keadaan itu, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) membentuk Konsorsium Gempa Bumi dan Tsunami Indonesia (KTGI) untuk mencegah korban jiwa di masa mendatang.
Melibatkan 4 Perguruan Tinggi dan BRIN
Konsorsium Gempa Bumi dan Tsunami Indonesia (KTGI) adalah salah satu komitmen BMKG untuk mewujudkan visi nihil korban (zero victim). Konsorsium ini memiliki misi utama untuk memperkuat sistem monitoring gempa bumi dan memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia.
KTGI akan membantu BMKG dalam pengembangan teknologi InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), memberikan evaluasi mengenai temuan data, serta menganalisis efektivitas peralatan dan sistem monitoring gempa bumi serta peringatan dini tsunami.
Konsorsium ini berisikan para pakar dan peneliti di bidang kegempaan dan tsunami, seperti para pakar kebumian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta para peneliti dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Sepuluh November (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Pelibatan ahli, pakar, dan peneliti dari berbagai institusi serta perguruan tinggi ini diharapkan dapat menciptakan arus data dan informasi yang akurat untuk membantu kinerja BMKG,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Upaya-Upaya KTGI
KTGI dibagi ke dalam tiga kelompok kerja:
- Kelompok kerja gempa bumi. Bertugas untuk memberi masukan terhadap pengembangan ilmu dan teknologi, untuk mewujudkan sistem pemantauan yang aktual, pemrosesan data yang akurat, dan diseminasi kajian kegempaan yang handal.
- Kelompok kerja tsunami. Bertugas melakukan pengembangan ilmu dan teknologi untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami, mempercepat pengolahan dan analisis data tsunami, serta menghasilkan layanan peringatan dini tsunami yang efektif dan strategis bagi masyarakat maupun pemangku kepentingan.
- Kelompok kerja evaluasi, analisis, penguatan sistem monitoring, dan diseminasi gempa bumi serta tsunami. Bertugas untuk memberi masukan dan evaluasi terhadap berbagai kinerja yang dilaksanakan oleh kelompok kerja gempa bumi dan kelompok kerja tsunami.
Masing-masing kelompok kerja berupaya untuk dapat mencapai visi nihil korban. Beberapa upaya yang dilakukan oleh masing-masing kelompok kerja, antara lain:
- Melakukan relokasi data gempa bumi untuk mengidentifikasi berbagai sesar aktif di Indonesia.
- Membangun pemodelan tsunami atipikal dari beberapa gunung api aktif, seperti Gunung Anak Krakatau, Gunung Raung, dan Gunung Rokatenda.
- Membuat inovasi teknologi berupa Sistem Processing Gempa Bumi dan Tsunami Merah Putih untuk mewujudkan sistem informasi peringatan dini yang lebih cepat, tepat, dan akurat.
Dwikorita berharap, KTGI dapat mempercepat upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami yang bisa terjadi kapan saja serta mengurangi risiko timbulnya korban jiwa.
Editor: Abul Muamar
Panji adalah Reporter di Green Network Asia. Ia belajar Ilmu Media Massa dan Komunikasi Digital di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan
Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut