The Habibie Center Luncurkan Buku untuk Mendukung Transisi Energi Berkeadilan
Para peneliti The Habibie Center dan penulis buku, Kunny Izza, Azhania Nurhidayah, Herawati, dan Ronald Julion memberikan pemaparan dalam acara diseminasi buku “Menata Ulang Transisi Energi Berkeadilan Indonesia: Menuju Ekosistem yang Regeneratif dan Demokratis” di Hotel Borobudur, Jakarta, 7 Maret 2024. | Foto: Dokumentasi The Habibie Center.
Transisi energi harus dilakukan secara adil dan transparan dengan melibatkan semua pihak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa prosesnya tidak berdampak negatif dan tidak meninggalkan seorang pun di belakang. Hal tersebut disampaikan dalam diseminasi buku berjudul “Menata Ulang Transisi Energi Berkeadilan Indonesia: Menuju Ekosistem yang Regeneratif dan Demokratis” yang diselenggarakan oleh The Habibie Center pada 7 Maret 2024. Buku yang ditulis oleh Kunny Izza, Azhania Nurhidayah, Herawati, dan Ronald Julion tersebut memaparkan masalah sistemik dan kompleks dalam agenda transisi energi di Indonesia.
Untuk memperkaya perspektif, The Habibie Center mengundang beberapa narasumber untuk menanggapi isi buku yang akan diluncurkan. Narasumber yang diundang adalah Andriah Feby Misna (Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM), Sonny Mumbunan (Koordinator CCSF Universitas Indonesia; Kepala Master of Public Policy in Climate Change, UIII), dan Setyo Budiantoro (Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi, Sekretariat Nasional SDGs Indonesia).
Transisi Energi Berkeadilan
Transisi energi tidak hanya tentang dekarbonisasi energi atau–dalam cakupan yang lebih luas–lingkungan. Dalam prosesnya, transisi energi juga bersentuhan erat dengan berbagai aspek sosial dan ekonomi. Transisi energi harus dipertimbangkan dari berbagai faktor agar tidak memunculkan masalah baru ataupun meninggalkan pihak tertentu. Dengan demikian, target transisi energi tidak hanya soal penurunan emisi semata, tetapi juga untuk mewujudkan keadilan sosial, ekonomi, dan ekologis.
Kompleksitas dari transisi energi itulah yang berusaha dijawab buku yang diterbitkan THC ini. Berangkat dari penelitian yang didukung dengan berbagai dialog publik, buku tersebut bertujuan untuk mencari cara mewujudkan masyarakat yang mampu meregenerasi alam dan sosial melalui program-program transisi energi berkeadilan.
Buku tersebut mengungkap bahwa meski terdapat tren perkembangan positif terkait energi terbarukan, arah transisi energi di Indonesia masih belum jelas, terutama karena adanya beberapa kebijakan yang dinilai kontraproduktif dan tidak inklusif. Untuk mewujudkan transisi energi di Indonesia yang adil secara ekonomi, sosial, dan ekologis, buku ini menawarkan pandangan bahwa transisi energi sebaiknya dibangun dengan ekosistem yang regeneratif dan demokratis.
Ekosistem Regeneratif dan Demokratis
Ekosistem regeneratif yang dimaksud dalam buku ini adalah meletakkan lingkungan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dalam transisi energi. Hal ini dikarenakan keadilan ekologis menjadi poin krusial dalam mewujudkan transisi yang berkeadilan bagi masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan biodiversitas. Paradigma regeneratif ini berfokus pada regenerasi alam dalam implementasi tata kelola energi.
Pendekatan lingkungan juga harus dilihat secara holistik dengan memperhatikan aspek sosial. Oleh karena itu, ekosistem kebijakan energi juga harus dibangun dengan prinsip demokratis untuk mewujudkan keadilan sosial dan ekonomi. Prinsip ini berguna untuk menjamin agar seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok yang paling terdampak seperti perempuan, dapat mengawasi dan turut berpartisipasi secara aktif dalam proses transisi energi.

Tantangan
Namun, membangun ekosistem energi yang berkeadilan bukan perkara mudah. Menurut Sonny Mumbunan, dalam ekosistem demokratis yang membuka ruang partisipasi, masih terdapat persoalan seperti relasi yang timpang atau akses sumber daya yang tidak setara.
“Kesetaraan perlu kita dorong karena Indonesia sedang membayangkan dirinya untuk naik status ke negara pendapatan menengah atas. Percakapan kita tentang kesetaraan harus ditempatkan dalam aspirasi Indonesia, mau ada di posisi itu, akan jadi berbeda dengan percakapan kesetaraan kalau tidak mempertimbangkan itu. Untuk itu, bagaimana sedapat mungkin kita menyetarakan kesempatan itu, gagasan tentang pendapatan, akses dan seterusnya harus dibikin lebih massal karena kalau itu terjadi hal-hal baik lain akan dimungkinkan,” kata Sonny.
Sementara itu, Setyo Budiantoro melihat berbagai tantangan struktural dalam mencapai transisi energi yang berkeadilan, seperti masalah kompleksitas ekonomi-politik di Indonesia yang belum disebutkan dalam buku. Menurutnya, masih diperlukan panduan atau solusi praktis untuk mengatasi berbagai persoalan dan kesenjangan dalam implementasi transisi energi berkeadilan.
Setyo mengatakan, “Secara normatif, berbagai macam regulasi dan hukum disampaikan, tapi kemudian pada tingkat realitasnya seperti apa, gap-nya juga perlu dilihat. Terus kemudian, soal keterbatasan fiskal dan innovative financing, karena tantangan untuk renewable energy ini juga soal apakah secara ekonomi bisa diterima oleh commercial finance. Oleh karena itu, yang harus dilakukan mau nggak mau harus dengan innovative financing. Apakah dengan blended finance ataupun yang lain, itu harus dipikirkan secara serius.”
Menekankan pentingnya keadilan dan keberlanjutan dalam transisi energi merupakan pesan utama dalam buku ini. Namun, transisi energi yang berkeadilan juga harus dibarengi dengan rencana implementasi yang baik. “Rekomendasi-rekomendasi yang ada (dalam buku) itu mungkin bisa dielaborasi lebih lanjut dengan skema-skema yang lebih konkret terkait dengan ekosistem dalam menata transisi energi berkeadilan. Kemudian, mungkin di dalam buku ini juga perlu diperjelas pihak-pihak yang terlibat dan perannya seperti apa dalam setiap tata kelola pembangunan ekosistem,” ujar Andriah Feby memberikan saran.
Editor: Abul Muamar
Nisa is a Reporter & Research Assistant at Green Network Asia. She holds a bachelor's degree in International Relations from Gadjah Mada University. She has particular interest in research and journalism on social and environmental issues surrounding human rights.

Kosmologi Desa dan Paradigma Transkonstruktif untuk Pemulihan Subjek Ekologi
Mengatasi Konsumsi Berlebihan untuk Perubahan Transformasional
Food Estate: Mimpi Lumbung Pangan, Nyata Lumbung Masalah
Reformasi Subsidi Perikanan dan Harapan Baru bagi Keberlanjutan Laut
Memperkuat Sistem Peringatan Dini Ancaman Kesehatan
Mengulik Penyebab Utama Perubahan Pola Curah Hujan