Meningkatnya Emisi Dinitrogen Oksida dan Bagaimana Mengatasinya
Foto: Jamo Images di Unsplash.
Baru-baru ini, para pemimpin negara berkumpul dalam KTT COP29 untuk menyusun strategi lebih lanjut mengenai cara mengatasi krisis yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim adalah dinitrogen oksida, gas yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon. Pada KTT tersebut, PBB meluncurkan sebuah laporan yang memberikan wawasan dan rekomendasi untuk mengatasi emisi dinitrogen oksida.
Gas Rumah Kaca yang Nyaris Terabaikan
Dinitrogen oksida (N2O) adalah gas rumah kaca yang dihasilkan secara alami di laut dan tanah. Dalam aktivitas manusia, N2O umumnya dihasilkan dari kegiatan pertanian, terutama dari pupuk nitrogen dan kotoran hewan. Sektor pertanian sendiri bertanggung jawab atas 27% emisi pemanasan iklim.
Saat ini, kebijakan yang ada lebih banyak berfokus pada karbon dioksida (CO2). Padahal, sangat penting untuk mengatasi gas rumah kaca lainnya seperti dinitrogen oksida. Satu pon N2O dapat memerangkap panas 300 kali lebih banyak daripada satu pon CO2 dalam rentang waktu lebih dari 100 tahun. Dengan kata lain, meskipun CO2 menyebabkan pemanasan sekitar 10 kali lebih besar karena kadarnya yang lebih tinggi di atmosfer, N2O jauh lebih kuat.
Selain itu, penelitian menemukan adanya peningkatan kadar dinitrogen oksida di atmosfer yang mengkhawatirkan. Misalnya, Proyek Karbon Global menemukan bahwa tingkat N2O meningkat sebesar 40% dalam rentang tahun 1980 hingga 2020. Studi lain menunjukkan bahwa gas tersebut menumpuk di atmosfer lebih cepat dibandingkan sebelumnya, dan tingkat pertumbuhannya saat ini diperkirakan menjadi yang tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir.
Emisi Dinitrogen Oksida Global
Pada KTT COP29, UNEP dan FAO meluncurkan penilaian global yang mengeksplorasi wawasan, tren terkini, dan cara mengatasi emisi dinitrogen oksida sehubungan dengan perubahan iklim.
Menurut laporan tersebut, Amerika Selatan merupakan penghasil emisi N2O terbesar, mencapai 3,43 juta ton (Mt) per tahun. Sementara itu, Asia Selatan dan Asia Tenggara memiliki total emisi N2O sebesar 3,30 Mt, menunjukkan peningkatan sebesar 172% dalam rentang tahun 1980 hingga 2020. Pertanian, industri, dan produksi energi merupakan sumber emisi N2O yang paling dominan di berbagai kawasan.
Langkah-langkah yang ada saat ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca, khususnya N2O, sebesar 40%. Sebagai contoh, diperlukan praktik yang lebih efisien untuk mengurangi emisi N2O di sektor pertanian. Hal ini termasuk meningkatkan pakan ternak dengan nitrogen non-tanaman dan melakukan pengelolaan pupuk kandang yang lebih baik untuk mendaur ulang unsur hara ke dalam tanah. Perubahan ini akan mengurangi kebutuhan akan tanaman kaya nitrogen dan mengurangi emisi dari pupuk.
Selain itu, transformasi seluruh sistem produksi pangan menjadi lebih sirkular dan efisien merupakan langkah yang sangat penting. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan sisa makanan manusia sebagai pakan ternak atau kompos dan meningkatkan pengelolaan kotoran melalui proses seperti pencernaan anaerobik. Perubahan ini akan membantu menurunkan emisi sekaligus memastikan pasokan pangan berkelanjutan.
Langkah lain yang dapat ditempuh untuk mengurangi emisi N2O adalah dengan mengubah pola makan masyarakat dengan beralih ke makanan berbasis nabati dan mengurangi konsumsi daging dan produk susu. Selain itu, pengurangan sampah makanan juga dapat menjadi langkah yang penting untuk mengurangi emisi N2O.
Mendorong Praktik yang Lebih Baik
Sekali lagi, gas rumah kaca selain karbon dioksida yang memiliki efek serupa seperti dinitrogen oksida juga memerlukan perhatian lebih. Pemerintah di seluruh dunia harus mengambil tindakan dengan mendanai penelitian, membuat kebijakan yang lebih baik, dan mendukung transisi menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Pada saat yang sama, industri harus mengikuti langkah ini dengan menerapkan praktik-praktik yang direkomendasikan untuk mengurangi emisi dinitrogen oksida secara kolektif. Hal ini akan membantu kita mencapai tujuan iklim dan pada akhirnya melindungi keberlanjutan planet kita.
Laporan selengkapnya dapat dibaca di sini.
Editor: Nazalea Kusuma & Kresentia Madina
Penerjemah: Abul Muamar
Baca juga versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris di Green Network Asia
Dinda adalah Asisten Kemitraan Internasional di Green Network Asia. Ia meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Presiden. Sebagai bagian dari Tim Internal GNA, ia mendukung kemitraan organisasi dengan organisasi internasional, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil di seluruh dunia melalui publikasi digital, acara, pengembangan kapasitas, dan penelitian.

Mengantisipasi Masalah Berulang dari Integrasi Program MBG untuk Lansia dan Disabilitas
Strategi Lima Tahun Nepal untuk Bersihkan Tumpukan Sampah di Gunung Everest
Bentakan hingga Penyiksaan: Urgensi untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Tahanan
Pertumbuhan Pesat Pusat Data dan Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat
Menggeser Paradigma: Urgensi Reformasi Hukum Lingkungan di Indonesia
Mengulik Kemajuan Teknologi sebagai Pengganti Uji Coba pada Hewan